Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Bekal


__ADS_3

Selamat membaca ^_^


***


Shinta membawa buku - buku pelajaran di ruang tengah. Seperti biasa dia akan mengulang kembali pelajaran yang tadi siang diberikan guru.


Shinta duduk di sofa. Mengangkat kedua kakinya diatas sofa. Sambil bersandar di badan sofa. Dia sibuk membaca dan sesekali mengucapkan berulang kata-kata didalam buku itu.


Joe duduk di sofa sebelah Shinta memperhatikan gadis itu dengan seksama. Sudah pulang kerumah masih belajar. Rajin juga, batin Joe.


"Tadi siang makan apa?" tanya Joe. Shinta terkejut. Membuyarkan konsentrasinya.


Tumben nada bicaranya tidak meninggi. Malaikat baik datang ya? Oh my... terima kasih. Aku bisa bicara dengan baik-baik dengannya. Kalau terus begini kan energi ku tidak terkuras setiap hari hanya untuk bicara dengannya, batin Shinta penuh syukur.


"Bakso mas." Jawab Shinta dengan senyum lebar.


"Mulai besok bawa bekal dari rumah saja. Biar Asih siapkan." kata Joe seenaknya memutuskan.


"Nggak mau! Anak TK apa bawa bekal?" Shinta langsung cemberut. Joe sudah mulai menyebalkan lagi.


"Jangan jajan sembarangan. Aku kan sudah bilang!" Joe mulai kesal dengan penolakan Shinta.


"Baru saja aku dengar suara malaikat. Sekarang iblis sudah datang lagi ya?" Shinta kesal.


"Siapa yang kau sebut malaikat dan siapa iblisnya?" Joe mengeram marah. Anak ini menamaiku iblis? Kurang aj*r!


"Mau kamu apa sih mas? Menyiksaku?" Shinta marah.

__ADS_1


"Kenapa marah? Ini kan demi kebaikanmu juga."


Shinta terdiam sesaat. Dia menghembuskan nafas dengan kasar.


"Mas, kau anggap aku apa sih?" Tanya Shinta serius. Melihat netra tajam Joe lekat.


"Menurutmu apa?" Joe malah balik bertanya.


"Aku tidak berharap banyak. Tapi setidaknya jangan seenaknya mengatur hidupku. Aku tidak suka." kata Shinta menurunkan kakinya. Mengambil semua buku - bukunya. Kemudian dia naik ke atas.


Aku keterlaluan ya? Joe.


Shinta masuk ke kamar. Menaruh buku - bukunya dengan kasar dimeja belajarnya. Sedikit membanting. Dia benar - benar tak habis pikir. Kenapa Joe itu membuatnya kesal. Ia kan baru beberapa hari dirumah ini, tapi hidup Shinta sudah mulai tidak nyaman.


Shinta tak lagi ingin belajar. Dia membanting tubuhnya ke kasur. Menelungkupkan wajahnya dibantal. Kemudian rasa sesak membuncah dihatinya. Tak terbendung lagi, ia pun menangis. Pertama pelan, kemudian terisak keras. Ia begitu sakit. Ditambah kata - kata Joe yang tambah membuatnya sedih.


***


Mbak Asih naik ke kamar atas. Ingin mengingatkan nonanya untuk makan malam.


Sampai didepan pintu kamar Shinta, Mbak Asih mendekatkan telinganya. Suara tangis nona terdengar tertahan.


Astaga, tak tega aku menganggu nona. Nona sedang menangis, mbak Asih membatin.


Mbak Asih turun lagi. Memberi tau keadaan nonanya kepada tuan muda. Andi juga sedang duduk dimeja makan bersama tuan mudanya.


"Memang cengeng. Dasar bocah!" kata Joe ketus. Sama sekali tak merasa kasian. Ia sungguh tak peduli dengan Shinta.

__ADS_1


"Tuan, sepertinya Anda harus mengubah sikap Anda pada nona muda." kata Andi mengingatkan.


"Apa? Aku sudah memperlakukannya dengan baik."


"Yang saya lihat tidak begitu tuan. Saya heran pada tuan Raditya. Kenapa dulu sangat menyayangi tuan seperti anaknya sendiri. Tapi anaknya setiap hari selalu menangis karna tuan muda." sindir Andi.


"Kenapa aku yang salah? Uncle Raditya memang dari dulu baik sekali. Tentang bocah itu, aku cuma ingin membuat jarak dengannya."


"Jarak? Apa Tuan Muda takut jatuh cinta dengan nona?"


"Bukan aku. Tapi dia. Ck! Kenapa kau senang sekali membuatku kesal?"


"Sebaiknya temui nona muda Tuan."


"Hah! Menyusahkan saja!" Joe menggerutu tiada henti. Tapi Joe masih makan dengan santai. Tak peduli tatapan Andi yang menginginkan Joe segera menemui nonanya.


"Biarkan saja! Lapar juga akan makan. Kenapa harus membujuk dia terus." gerutu Joe. Namun tatapan Sandi terus saja menusuk ke arah Joe. Menginginkan Joe melakukan saran yang ia berikan bsrusan.


***


Makasi sudah baca ya...


jangan lupa like komen tip dan vote ya


Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya^_^


Peluk cium DevaNurAna

__ADS_1


 


__ADS_2