
Selamat membaca ^_^
***
Jam istirahat tiba dan Shinta memanfaatkannya untuk belajar. Mereka sedang didalam kelas. Anin juga duduk disebelah Shinta. Sedang belajar juga. Sesekali alis keduanya berkerut - kerut. Bingung.
"Ini gimana sih Shin caranya aku bingung ngerjainnya," Anin buka suara.
"Sama, aku juga belom bisa ngerjain itu." Shinta merasa sedih.
"Hai," bisik seseorang. Shinta menoleh. Rendra masuk kekelas Shinta. Tak lupa seulas senyum manis disana.
"Kebetulan nih ada Mas Rendra. Ini caranya gimana sih Mas?" Anin
Rendra duduk terbalik dikursi depan mereka. Rendra melihat soal yang mereka tidak bisa.
"Oh ini begini." Rendra seperti guru yang menjelaskan. Dia tau betul cara penyelesaian soal yang ditanyain Anin ini. Shinta dan Anin mengangguk paham.
"Ya ampun Shin, punya pacar gini amat sih? Udah ganteng pinter dan sayang lagi sama kamu." Anin memuji.
"Makasih... aku tersanjung lho Nin. Traktir lho lain kali. Jangan muji doang," Rendra. Anin manyun.
"Huuu... kalian yang jadian PJ dong!" Anin
"Haha... Ogah! Makan lo banyak!" Rendra tergelak.
__ADS_1
"Mas Rendra makasih ya," Shinta tersenyum tulus.
"Iya Ayangku," Rendra menyentuh kepala Shinta mengusap lembut. Senyum termanis pun terbentuk dibibir Rendra.
"Aduh... aku meleleh. Nggak lihat ya ada Anin disini. Huh!" Anin mencebikkan bibir. Dia kesal. Mereka romantis banget sih? Meronta hati ini! Hiks.
"Haha... Anin baper! Sana cari Kenzo. Tembak dia!" Rendra memberi ide.
"Idih! Emang aku cewek apaan? Cowok dong yang harus nembak. Enak saja!" Anin mencibir.
"Emang kenapa? Nanti diambil orang lho. Hayo nyesel? Mewek nanti lho. Haha..." Rendra tergelak menggoda Anin. Anin semakin kesal.
"Udah ah! Sana kalian pacaran. Aku berasa nyamuk deh disini." Anin bersiap berdiri.
"Mau kemana Nin?" Shinta.
Anin keluar dari kelas. Melihat seseorang perempuan berdiri didekat pintu. Seperti penguntit. Bukan! Mungkin nggak sengaja lewat. Ya kan? Anin.
Anin berlalu. Dengan seulas senyum pada perempuan itu. Anin tak mau bermasalah dengan kakak kelas. Apalagi perempuan.
Sedang didalam kelas. Rendra sudah berganti duduk disamping Shinta. Shinta jadi gugup.
"Mana lagi yang belum bisa?" tanya Rendra. Mendekatkan wajahnya ke lembar kertas dimeja. Tepat disebelah wajah Shinta yang sedang mengerjakan soal.
Mereka sangat dekat. Membuat degup jantung mereka tak karuan. Shinta mengalihkan pandangan. Takut akan terjadi yang tak diinginkan. Mungkin. Wajahnya memerah malu.
__ADS_1
"I-ini Mas," jawab Shinta gugup.
"Kalo ini begini." Rendra pun menjelaskan secara detail agar Shinta mengerti. Shinta mengangguk paham.
"Jadi mudah ya kalo mas Rendra yang jelasin. Hehe..." Shinta terkekeh.
"Sekarang bisa gombal ya? Hmm... pacar siapa sih ini imut banget!" Rendra gemas. Ingin mencubit pipi Shinta.
Namun bel masuk sudah berbunyi. Sebentar lagi anak - anak akan masuk kelas. Rendra harus segera keluar. Kalo tidak mereka akan bersorak keras didepan Shinta dan Shinta akan malu.
Rendrapun langsung lari kemudian berbalik tersenyum dan melambaikan tangan.
Shinta hanya tersenyum melihat Rendra keluar terbirit - birit begitu.
Mas Rendra, makasih ya. Shinta
Shintapun tak mampu menahan gejolak dilema dihatinya. Terisis perih. Andai tak serumit ini hubungannya dengan Rendra. Pasti ia akan merasa menjadi perempuan paling beruntung sedunia. Ia sangat bangga pada Rendra. Calon dokterku, bisik Shinta.
***
Terima kasih dah baca ya ^_^
Aku tunggu like komen tip dan vote
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya
__ADS_1
Peluk cium DevaNurAna^_^