Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Menyulut Api


__ADS_3

Selamat membaca ^_^


***


Joe masih terjaga. Joe sedang memeriksa beberapa laporan kerja dari usahanya yang di Amerika. Orang kepercayaan yang ia tunjuk untuk memantau semuanya memang dapat diandalkan.


Joe masih konsentrasi dengan laporan itu. Dia duduk bersilang di sofa ruang tengah. Mbak Asih sudah menghidangkan beberapa potong buah dan susu hangat seperti permintaan tuannya.


Andi keluar dari kamar. Berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Kemudian Andi ikut duduk di sofa. Ia melihat tuan mudanya yang sedang serius memangku laptopnya.


"Tuan sedang sibuk ya?" tanya Andi .


"Bodoh! Sudah tau kenapa tanya, sana tidur!" usir Joe.


"Saya tidak bisa tidur tuan."


"Oh? Kenapa? Awas saja tidak penting!" Joe menoleh. Menghentikan pekerjaannya.


"Pernikahan tuan tidak berjalan dengan lancar. Aku sungguh sedih memikirkannya." kata Andi dengan muka sedih teramat. Joe yang melihat ingin sekali memukul wajah itu.


"Sialan!" umpatnya. "Kau memang suka sekali mengangguku ya? Pergi sana!" Joe kesal. Menyambit Andi dengan bantal sofa.


"Apa tuan benar - benar tidak ada perasaan apa - apa dengan nona?" tanya Andi serius.


"Kau mengharapkan apa? Memangnya aku sudah gila akan jatuh cinta pada anak kecil seperti dia?" Joe melihat lagi laptopnya. Membaca ulang yang telah tertunda.


"Padahal nona muda cantik, kenapa tuan sama sekali tidak tertarik? Kalau saja saya masih muda, saya pasti jatuh cinta pada nona." Andi pandai sekali menyulut api.


"Kau sudah tidak waras? Membayangkan yang tidak - tidak."

__ADS_1


"Berarti bodoh ya? Mengabaikan perempuan cantik nan polos tapi malah mencintai penipu ulung." Andi tersenyum mengejek.


Joe terpengarah. Alis Joe menyatu. Tidak suka dengan apa yang barusan ia dengar. Joe benar - benar ingin menghabisi Andi saat ini jua. Andi memang menguji kesabarannya.


Joe meletakkan laptopnya dimeja. Tangannya mengepal. Ia berdiri dengan secepat kilat ia memukul wajah Andi. Kemudian tangan itu sudah mencengkram kerah baju Andi.


Kini Andi berada dibawah Joe. Mengunci pergerakan Andi. Memojokkan Andi disofa yang diduduki Andi. Sudut bibir Andi lembab dan sedikit berdarah. Tapi wajah datar Andi sama sekali tidak berubah. Ia sama sekali tak terpengaruh dengan pukulan Joe. Ia hanya meringis. Namun seringai masih jelas terlihat di wajah Andi, seperti mengejek tuan mudanya.


"Kau sudah bosan hidup rupanya ya? Mau ku habisi sekarang?" mata Joe benar - benar mengintimidasi. Ingin membunuh Andi malam ini juga.


Andi menghela nafas kasar. Ia tampak nampak biasa dan santai. Semakin membuat Joe ingin memukul wajahnya lagi.


"Apa tuan muda sudah puas? Mau saya beri tau buktinya?" kata Andi datar. Joe menggeram marah. Beraninya masih tersenyum ketika ia sudah semarah ini. Tak tau kah Joe sudah memanas sampai ubun-ubun.


"Apa?! Katakan!" teriak Joe menggema. Menantang Andi yang dingin itu.


"Lepaskan dulu tuan," kata Andi melirik cengkraman tangan Joe dikerah bajunya.


Dia membuka sebuah file video. Mem-play video yang berdurasi lima menit di laman penyimpanan.


Terlihat kekasih tuannya itu sedang minum. Mengoceh tak sadarkan diri. Di video itu terlihat banyak lelaki yang menemaninya. Kemudian perempuan itu terkapar di ranjang kamar. Entah selanjutnya.


Joe terlihat pias. Menganga tak percaya. Sungguh ini diluar dugaannya. Padahal kemarin kekasihnya itu sudah berjanji untuk tidak minum lagi. Berjanji akan melakukan hidup sehat seperti dirinya. Berhenti dari merokok, minum - minuman keras dan berkeliaran di Bar. Berjanji akan setia menantinya. Tapi melihat video ini menghancurkan kepercayaannya pada sang kekasih. Ia tau siapa kekasihnya, Ia juga membebaskan kekasihnya itu untuk berteman dengan siapa saja. Namun melihat video ini Joe sangat kecewa dengan kekasihnya. Benarkah ini dia? Joe serasa tak percaya.


"Kau menguntitnya?" tanya Joe.


Andi mengangguk pelan. Ia merasa tuannya harus tau kebenaran atas kekasihnya yang sudah menghianati dirinya. Bahkan kekasihnya itu selalu membohongi Joe. Namun dengan polosnya, Joe selalu menerima kembali kekasihnya itu. Cinta sebuta itu ya.


"Kau pasti berbohong! Daddy pasti menjebaknya. Aku yakin ini cuma akal - akalan Daddy saja." Joe menggeleng kuat. Ingin menyangkal kenyataan. Ia takkan percaya penguntit gila disebelahnya ini.

__ADS_1


"Terserah tuan percaya atau tidak tapi ini bukan bukti satu - satunya. Jadi berhentilah tuan. Berhenti mencintainya."


Malam ini, Andi bukanlah sekretaris. Ia seperti menjelma sebagai bapak yang ingin melindungi anaknya. Anak yang termakan bujuk rayu wanita yang hanya memanfaatkan cinta seorang pria. Andi menepuk bahu tuannya kuat. Meyakinkan bahwa inilah yang terjadi dan ia harus menerima dengan lapang dada.


"Kau tau apa perasaanku? Kau bahkan tak mengerti arti cinta." Joe setengah berteriak.


"Anda salah sangka tuan."


"Bagaimana kau menjelaskan tentang istri dan anakmu? Bagaimana cintamu padanya?" Joe ingin membalas Andi dengan kehidupan Andi yang tak mulus dengan istrinya.


"Ini tidak ada hubungannya dengan saya tuan,"


" Ck! Yang kau pikirkan hanya tentang memenuhi keinginan Daddy. Padahal kau tau aku tidak suka."


"Karna saya bekerja untuk tuan besar,"


"Cih! Kembalilah ke Amerika. Temui anak istrimu. Biarkan aku sendiri disini! Aku muak melihatmu!"


Andi tak menghiraukan semua kata-kata Joe yang syarat akan kebencian untuknya. Ia sudah hafal dengan bagaimana perangai tuan mudanya ini.


"Sebaiknya jangan sia - siakan hidup Anda tuan. Apalagi memikirkan hidup saya." kata Andi datar. Andi berdiri. Mengambil laptopnya. "Jika Anda benar-benar penasaran, saya punya banyak video banyak tentang kekasih Anda. Saya ada dikamar." kemudian langkah Andi masuk dalam kamar.


Kepar*t! Sialan! umpat Joe.


***


Makasih sudah membaca ^_^


jangan lupa like komen dan vote ya..

__ADS_1


nantikan terus kelanjutan kisah Shinta dan Joe


peluk cium DevaNurAna^_^


__ADS_2