
Selamat membaca
***
Kapan anak-anak yang lucu akan hadir di rumah ini? Aku sangat menantikan itu.
Joe sangat ingin membicarakan soal anak. Tapi sepertinya pembahasan soal anak akan sangat sensitif untuk Shinta. Membahas bulan madu saja Shinta tak antusias sama sekali. Apalagi soal anak. Bagaimana tidak, Shinta sedang asyik-asyiknya menjalankan perannya menjadi seorang istri. Belajar masak dan sibuk kuliah.
Bagi Joe, anak adalah wujud cinta mereka. Menambah kokoh dan kebahagiaan mereka. Tapi bagi Shinta mungkin belum dalam ada dalam pikirannya. Ya, ia masih muda untuk memikirkan anak. Sedangkan Joe? Ya apalagi yang ia inginkan selain anak. Bisnis lancar, ia sudah beristri, menunggu apalagi kalau bukan anak.
Entah bagaimana, Joe tak pernah menyinggung soal anak. Takut Shinta tak suka atau marah dan merajuk padanya. Ia tak mau melihat itu karna Joe sangat menyayangi Shinta. Ia sabar menanti Shinta untuk siap punya anak.
Tiba-tiba Joe menghentikan makannya. Ia meletakkan sendok garpu, kemudian ia berdiri. Ia naik ke atas. Shinta yang melihat hanya menatap penuh heran. Kenapa mas Joe? Marah ya? Ngambek?
Shinta melihat piring Joe masih banyak tersisa makanannya. Karena Shinta penasaran, ia pun naik ke atas. Ingin melihat keadaan suaminya itu. Ia khawatir.
"Mas," panggil Shinta lembut. Namun orang yang dipanggil tidak menyahut. Ia sedang di kamar mandi.
Shinta mengetuk pintu kamar mandi. Mendekatkan telinganya di daun pintu. Hanya terdengar suara gemericik air dari wastafel.
"Mas, are you okay? Mas, jawab aku." teriak Shinta. Joe keluar dengan tubuh lemas dan sedikit pucat. Keringat bercucuran disana membuat Shinta khawatir.
"Mas kenapa? Mas berkeringat. Mas sakit?" tanya Shinta sangat khawatir. Mengelus pundak Joe lembut. Mengajak duduk di sofa.
"Ng-nggak apa-apa honey. Cuma mual saja." kata Joe meringis merasakan perut bawahnya sakit sekali. Ia baru saja memuntahkan makanannya. Rasanya sangat tidak enak.
"Benar? Kita periksa ke dokter ya?" Shinta menyentuh kening Joe. Tidak panas. Mungkin masuk angin. Shinta pun mengoles minyak angin di perut Joe, agar perutnya lebih enakan.
"Aku ada meeting pagi ini honey. Nggak apa-apa kok. Masih bisa aku tahan."
"Mas, jangan memaksakan diri. Kalau sakit mending istirahat dulu." Shinta menatap wajah Joe, masih nampak pucat sekali. Bagaimana bekerja kalau keadaannya seperti ini.
"Tenang saja. Aku masih kuat kok."
Pintu kamar di ketuk dari luar. Terdengar suara Daren dari luar memanggil tuannya. Shinta beranjak membukakan pintu. Mempersilahkan Daren masuk melihat keadaan Joe.
"Tuan, apa tuan tidak enak badan?" tanya Daren menghampiri tuannya.
__ADS_1
"Pak, bisa tidak mas Joe libur hari ini." kata Shinta.
"Aku nggak apa-apa honey."
"Nggak apa-apa gimana? Wajahmu pucat gitu mas. Libur dulu ya." suara Shinta tidak suka mendengar sanggahan Joe. Shinta duduk kembali disampingnya.
"Hmmm... Maunya sih libur honey. Tapi meeting ini sangat penting."
"Tidak ada yang lebih penting dari kesehatan mu mas."
Daren mengambil ponselnya untuk menelfon sekretaris Nana. Mengundurkan jadwal meeting pagi ini dua jam lagi.
"Saya akan memanggil dokter Andri tuan." Daren menunduk hormat, kemudian menghilang dibalik pintu.
"Jangan memaksakan diri. Aku nggak ngijinin kamu pergi." bisik Shinta. Memeluk erat suaminya.
"Sekarang siapa yang manja?"
"Ish! Jangan bercanda ah." Shinta merengut kesal. Kemudian ia setengah berbisik "mas, hanya kamu yang aku punya. Kamu nggak boleh kenapa-napa."
"Apa? Aku nggak denger." goda Joe, ia terkekeh mendengar rengekan Shinta.
Beberapa saat berlalu dan Daren membawa dokter Andri ke kamar Joe.
Sambil berbaring, Joe diperiksa oleh dokter Andri. Mulai dari detak jantung, mata, dan yang lain. Dokter Andri seperti bingung. Tidak tau apa yang harus dikatakan.
"Semua normal tuan. Tidak apa-apa."
"Benarkah dokter? Atau dokter salah diagnosa? Tolong periksa lagi." Mas Joe lemas gitu tapi bilang tidak apa-apa gimana aku percaya?
"Nona, dokter sudah memeriksa semuanya." kata Daren.
"Tenanglah honey, aku memang tidak apa-apa. Cuma mual saja."
"Apa yang tuan makan pagi ini?" tanya Dokter Andri.
"Masakan saya dokter, capcay sayur, ikan pedas manis dan ayam goreng." jelas Shinta yang berdiri disamping Joe. Ia sungguh tidak suka dengan pertanyaan dokter Andri. Hei dokter! Apa iya aku akan meracuni suamiku sendiri? Sudah gila apa aku ini. Shinta geram.
__ADS_1
"Tuan tidak alergi ikan atau ayam kan?" tanya dokter Andri. "Apa campuran capcay yang nona masak?"
"Hanya kembang kol, paprika dan wortel dok." jawab Shinta cepat. Seperti mengatakan aku sudah memasak dengan benar, tanpa MSG dan tanpa campuran aneh-aneh. Jangan berfikir aku gila harta atau istri durhaka. Ish! Menyebalkan juga nih dokter!
"Berarti bukan karna alergi atau keracunan makanan tuan." Dokter memberi jeda. "Baiklah. Saya pamit dulu tuan. Lekas sembuh."
"Terima kasih dokter."
Daren mengantarkan Dokter Andri keluar kamar. Meninggalkan Shinta dan Joe yang masih dalam keadaan berbaring. Shinta mendekat. Membantu Joe duduk menyandarkan tubuhnya.
"Aku boleh berangkat kerja kan?" tanya Joe sambil mengelus rambut Shinta yang duduk disebelahnya.
"Nggak libur saja?" tanya Shinta memeluk erat.
"Ayolah honey. Beri aku semangat." Cup! Puncak Shinta hangat. Shinta merenggangkan pelukannya.
"Baiklah. Si workholic." Joe meraih belakang kepala Shinta dan mengecup kening Shinta lembut.
"I love you, honey." bisik Joe.
Shinta mengantar Joe sampai depan rumah, sampai Joe masuk ke dalam mobil dan menghilang di ramainya jalanan. Shinta masuk kembali ke dalam rumah. Membereskan buku-buku resep untuk ia bawa ke tempat kursus. Hari ini kuliahnya libur, dan setelah kursus ia ingin ke kantor Joe. Memastikan Joe baik-baik saja. Ia sungguh khawatir dengan keadaan Joe. Mau sekuat apapun kalau sudah sakit mana bisa ditahan. Dasar mas Joe itu nggak mau mendengarkan aku sedikitpun.
Shinta sudah bersiap. Ojol sudah menunggunya didepan rumah.
"Mbak, nanti siang aku makan di luar. Mungkin pulang sore. Masak untuk makan malam saja." pamit Shinta pada mbak Asih. Ia berlalu ke luar rumah. Menyapa pak ojol dengan ramah. Ia sudah siap berangkat ke tempat tujuannya.
Kursus masak yang ia lakukan ini sudah masuk dalam bulan ke empat. Hari ini tema masakannya adalah membuat kue. Ia sangat bersemangat karena dari dulu ia ingin sekali bisa membuat kue.
Aku akan membawa kue buatanku untuk mas Joe. Semoga dia suka, batinnya bersemangat.
Shinta memulai ritualnya membuat kue. Sesuai instruksi chef didepannya. Menakar semua bahan yang akan di pakai. Dia tampak cekatan sebagai orang yang baru belajar. Teman-teman yang lain juga sangat bersemangat.
***
terima kasih sudah membaca
Jangan lupa like komen tip dan vote ya
__ADS_1
nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
peluk cium DevaNurAna