Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Cinta Monyet


__ADS_3

Selamat membaca ^_^


***


Rasa penasaran Anin masih membuncah. Seperti apa mas Jonathan itu? Bagaimana orangnya. Dan pertanyaan - pertanyaan lain dikepala Anin. Sampai waktu istirahat tiba dan mereka sedang dikantin, Anin masih membahas tentang itu.


"Gimana orangnya Shin? Aku pernah ketemu nggak? Ganteng nggak?" berondong Anin. Membuat Shinta geleng - geleng kepala. Gemas.


"Abiskan baksonya dulu. Nanti tersedak." kata Shinta mengingatkan bahwa mereka sedang makan.


"Ih... Shinta jahat." Anin merajuk.


"Kapan - kapan main aja kerumah. Nanti aku ceritain sekalian aku kenalin sama dia." jelas Shinta.


"Serius? Weekend ya," Anin berbinar.


"Oke! Jangan lupa ijin mamamu Nin. Nanti dicariin. hehe," Shinta terkekeh.


"Siap boskuh. Tenang aja. Sekarang aku diantar jemput sama supir kok." jelas Anin.


Mereka memang sudah sangat akrab. Selama ini Anin lah tempat Shinta curhat. Menangis bersama. Dia sahabat terbaik bagi Shinta. Keluarganya juga baik pada Shinta.


Mata Shinta melihat sesorang yang ia sukai. Kenzo mendekat ke arahnya. Tersenyum manis.


Ya ampun kenapa Mas Kenzo keren sekali sih? batin Shinta terkesima. Shinta sudah malu bukan main dengan senyuman Kenzo. Apalagi sekarang Kenzo mengajak teman - temannya menghampiri Shinta dan Anin.

__ADS_1


"Hai Shinta, hai Anin." sapa Kenzo.


"Hai Mas Kenzo." jawab Anin. Tersenyum manis.


Shinta hanya menjawab dengan senyum. Ia terlalu malu melihat wajah Kenzo. Ditambah lagi Kenzo duduk disebelahnya. Teman - teman mereka juga ikut duduk disebelah Anin.


"Anin suka bakso ya?" tanya Kenzo menatap Anin yang duduk didepannya.


"Iya Mas. Bakso Pak Mus emang paling top deh." Anin melahap bakso bulat itu. Menyisakan tetes kuah di ujung bibir Anin. Kenzo mengambil tisu dan bersiap mengelap ujung bibir basah itu dengan tisu.


Shinta nampak terkejut melihat perlakuan Kenzo pada Anin. Seketika raut wajahnya merengut. Pilu melihat pemandangan tepat didepan matanya ini. Seperti teriris sembilu. Perih.


NamunĀ  sorak sorai terdengar keras di ruang kantin itu. Menggoda Kenzo yang melalukan itu didepan umum. Apalagi teman - teman yang datang bersamanya tadi. Tak kalah heboh dari seisi kantin.


"Cie... Cie... jadian jadian! Pajak jadian Ken!" celetuk Rendra salah satu teman Kenzo.


"Haha... Kenzo bisa aja." Rahman si ketua OSIS yang bersuara.


Wajah Anin merah padam. Kenzo pun sama. Mereka saling bertatapan. Kemudian Anin menunduk malu. Kenzo tersenyum. Sepertinya gayung itu disambut dengan dua tangan.


Sedang ada satu orang yang bersedih dengan ini. Meski hati perih, Shinta mencoba tersenyum. Bagaimanapun juga Anin itu sahabatnya. Bukan salah Anin bila ia juga punya perasaan yang sama kepada Kenzo. Apalagi pembawaan Kenzo yang pendiam dan sedikit misterius. Membuat para hawa kagum dengan sosoknya. Diam-diam menghanyutkan begitu.


Beberapa saat dalam situasi mencengkam seperti membuatnya risih. Shinta pun memutuskan untuk pamit ke toilet. Dia minta ijin pada Anin. Membiarkan sahabatnya itu bersama Kenzo. Tak terasa air mata sudah menganak dipelupuk matanya. Ingin tumpah.


Setelah sampai toilet, air mata pun tumpah ruwah. Sedih. Sakit. Perih. Tak bisa ia bendung. Bersaing dengan sahabat baiknya? Itu tidak akan ia lakukan! Ia lebih baik mengalah. Sekarang pun ia merasa tak pantas mencintai laki-laki lain. Dia sudah ada yang memiliki. Jiwa raganya bahkan seluruh hidupnya ini sudah dijanji didepan Tuhan setia bersama Joe. Andai Joe mengakuinya sebagai istri. Mungkin ia takkan berandai-andai mempunyai kekasih lain.

__ADS_1


Ah... ternyata ini ya rasanya sakit hati. Sakit sekali, Shinta membatin.


Aku memang tak secantik dan sebaik Anin. Aku juga nggak gaul kayak Anin. Aku dan Anin sungguh bagai langit dan bumi. Itu sebabnya, Mas Jonathan pun tak menganggap ku seperti istri yang benar-benar istri. Hanya status belaka. Hiks.


Air mata hangat meleleh dipipi Shinta berulang - ulang. Sedih teramat menyayat hatinya. Kenzo yang ia sukai mencintai sahabatnya. Sedang Joe suaminya tak memberi cinta untuknya kayaknya pasangan suami istri. Apalah daya cinta tak bisa dipaksa dan bagaimana ia berlabuh.


Shinta menghentikan tangisnya saat mendengar bunyi bel tanda waktu istirahat berakhir. Shinta membasuh muka.


Kemudian Shinta masuk kelas. Hampir saja ia terlambat. Karna guru sudah diambang pintu akan masuk.


"Shin, kamu habis nangis ya? Kenapa?" tanya Anin berbisik disebelahnya.


"Nggak kok. Kelilipan tadi" bohong Shinta.


Mereka menghentikan berbincangan. Karna guru sudah akan membuka jam pelajaran ke dua.


Shinta bohong ya? Kelihatan abis nangis kok, Anin.


***


Thanks dah baca...^_^


jangan lupa like komen tip dan vote ya


Tunggu terus kelanjutan kisah Shinta dan Joe...

__ADS_1


Peluk Cium DevaNurAna^_^


__ADS_2