
Selamat membaca ^_^
***
Shinta sudah siap membereskan buku pelajaran terakhir. Ia memastikan semua tidak ada yang tertinggal. Semua sudah masuk dalam tas.
Anin juga sudah siap untuk keluar dari kelas. Ia menunggu Shinta untuk jalan bersama.
"Kamu dijemput Mas Jonathan itu nggak Shin?" tanya Anin.
"Nggak tau. Dia nggak bilang mau jemput. Kalau nggak dijemput nanti aku naik angkot juga nggak papa Nin." Shinta pasrah.
"Bareng aku aja. Biar nanti diantar Pak Anto." saran Anin.
"Nggak usah. Ngerepotin kamu sama Pak Anto kita kan nggak searah Nin." tolak Shinta.
"Nggak papa Shinta." Anin tersenyum lebar. Merangkul bahu Shinta. Shinta hanya tersenyum kecut. Anin nggak tau betapa perih ini masih terasa dihati Shinta. Ingat kejadian dikantin tadi.
"Kamu suka sekali ya sama Mas Kenzo? Hayo ngaku?" Shinta menggoda. Ia melihat wajah sahabatnya ini berseri dari tadi. Pasti berkat sentuhan Kenzo yang tiba - tiba tadi.
"Ish! Shinta apaan sih? Malu tau." Anin merah padam. Dalam hatinya kejadian dikantin tadi sangat mengejutkan dan sekaligus mencenangkan. Hatinya seperti melayang dilangit dan menembus antariksa.
Mereka sudah sampai di gerbang sekolah. Shinta melihat mobil Joe sudah menunggu. Bahkan Joe sudah diluar bersandar di badan mobil menunggunya.
"Shinta, itu orangnya?" tanya Anin.
"Iya. Yuk aku kenalin." ajak Shinta. "Mas Jonathan. Sudah lama ya menungguku?" sapa Shinta lembut.
__ADS_1
Joe menoleh. Melirik tajam. Bahkan dia tidak mempedulikan ada Anin yang menganga menatap wajah tampan Joe.
Gila! Bule tampan! Shinta hebat. Gila sumpah gila!
"Kamu lihat kulitku sudah merah? Aku sudah kepanasan dari tadi menunggumu." ketus Joe.
******! Dia itu kan bule gila! Jelmaan iblis! Nggak lihat ada Anin apa. Seenaknya menunjukkan sikap buruknya didepan orang lain. Huh!
"Mas, kenalin ini sahabat aku. Anin." Shinta mencoba tersenyum terpaksa.
"Come on!" Joe membuka pintu mobil agar Shinta masuk. Kemudian ia berjalan memutar untuk masuk mobil. Duduk dibelakang kemudi. Tidak peduli kata - kata Shinta yang ingin mengenalkan Anin pada Jonathan.
"Anin maaf ya." bisik Shinta. Anin tak mengerti.
Eh? Sepertinya ada yang salah dengan hubungan mereka. Katanya suami, masak galak gitu? Jonathan nggak ada romantis - romantisnya sama sekali sama Shinta.
"Hei! Ayo masuk!" teriak Joe dari dalam mobil.
Shinta masuk. Kemudian melambaikan tangan untuk sahabatnya yang masih berdiri dipinggir jalan.
Beneran suaminya Shinta? Anin mengeleng tidak mengerti.
***
Siang ini nampak panas. Padahal matahari sudah condong kebarat. Menandakan sudah bukan tengah hari lagi.
Sama seperti di dalam mobil ini suasana nampak juga panas. Padahal mobilnya ber-AC dan tidak rusak. Jelas mobil baru juga dua hari dibeli masak udah rusak aja. Tapi rasanya panas dan gerah. Karena apa coba? Ya, tentu saja. Dua orang anak manusia yang berbeda gender itu sedang saling menatap tajam satu sama lain.
__ADS_1
Shinta memilih diam. Jangan bertanya apalagi basa - basi membuat obrolan. Dia bukan manusia. Dia iblis neraka! Bernafas didekatnya saja jangan sampai terdengar olehnya. Bisa - bisa menganggunya. Cih!
"Siapa perempuan tadi bersamamu?" tanya Joe pada akhirnya. Padahal dari tadi saja bibir itu seperti digembok besi.
"Telat! Aku kan tadi pengen ngenalin kamu sama dia mas. Kamu keterlaluan sekali tadi!" Shinta mendengus. Kenapa baru sekarang bertanya. Kalau saja sikapnya sedikit saja tidak menyebalkan, Shinta akan bersyukur menjadi istrinya.
"Kenapa juga harus kenalan?" Joe tak peduli.
"Astaga. Kamu manusia atau bukan sih mas? Keterlaluan sekali." kata Shinta heran.
"Nggak penting." kata Joe cepat.
"Dasar menyebalkan!" umpat Shinta dalam hati. Wajahnya tampak merengut. Tangannya menyilang didada.
Dasar bocah! Joe. Tapi senyum kecil tercetak jelas disana.
***
NB : Joe memang galak kalau didepan Shinta agar Shinta membencinya.
Shinta tidak mengerti semua itu malah Shinta merasa Joe selalu menyiksanya.
Makasi dah baca ^_^
Jangan lupa like komen tip dan vote ya
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya
__ADS_1
Peluk cium DevaNurAna^_^