
Selamat membaca^_^
***
Shinta menikmati sarapannya. Hari minggu ini, Shinta ingin kerumah Anin. Joe menghampirinya sudah berpakaian rapi. Jeans navy, kaos polos putih dan jaket hitam pas sekali dibadannya.
Tangan Joe mengacak - acak rambut Shinta. Kemudian duduk disampingnya. Shinta menepis tangan Joe kasar.
"Ish!" Shinta masih kesal soal kejadian semalam. Untung Joe masih menguasai dirinya dan melepaskan Shinta semalam.
Joe tergelak keras. Joe meraih belakang kepala Shinta. Memanggut bibir Shinta. Masih dalam keterkejutannya, Shinta berusaha mendorong tubuh Joe. Tapi tubuh itu sama sekali tak bergerak.
"Morning Honey." Joe tergelak menikmati wajah Shinta yang nampak kesal. Bibirmu itu sarapan pagiku Honey, biarpun kau larang aku akan tetap minta. hehe
Shinta melengos tak ingin melihat wajah Joe. Tangan Shinta mengepal geram.
Dia selalu mencuri ciumanku! Manusia macam apa dia ini? Sudah dilarang masih saja menciumku. Shinta.
"Kenapa tak ada laporan dari kartu yang aku berikan? Kau tak memakainya?" tanya Joe meneguk susu bagiannya.
"Tidak." suara Shinta ketus.
"Kau tak tau cara menggunakannya ya?"
"Ish! Tau kok!" Shinta mencebikkan bibirnya dan alis matanya menyatu.
"Hari ini jalan yuk!"
"Nggak mau."
"Kau itu tak pernah keluar rumah. Belajar terus. Memangnya kepalamu tak pusing?"
Shinta tak menjawab. Acuh. Shinta menghabiskan sarapannya.
"Kau tak mau jalan denganku?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Aku sudah janji sama Anin Mas."
"Huh! Batalkan."
"Ish Mas Jonathan ini seenaknya ya? Nggak boleh ingkar janji!"
Joe melotot tanda tidak suka penolakan apapun. Shinta mendengus kesal. Shinta meneguk susunya. Meraih tas selempangnya. Siap berangkat.
Tukang memaksa! Shinta
***
Joe dan Shinta sudah sampai di Pusat Perbelanjaan terbesar dikota ini. Memarkir mobilnya. Kemudian masuk ke dalam gedung.
Semua mata melihat ke arah Shinta dan Joe. Tatapan kagum dengan wajah dan postur tubuh Joe yang tampan dan maskulin.
Shinta menunduk malu. Merasa diperhatikan setiap mata. Pasti gara - gara makhluk disampingnya yang kelewat tampan. -Bule di kota S ini sungguh jarang- Makanya pandangan mata mereka seperti menemukan batu permata yang langka. Berbinar sekali.
Mereka berjalan beriringan. Kalau bukan karna tangan Joe yang menggandeng tangan Shinta, mungkin Shinta sudah menubruk sesuatu didepannya. Karna dari tadi ia menghindari pandangan mata setiap orang yang ia temui.
Joe mengajak Shinta berkeliling. Menyuruh Shinta membeli apa yang ingin ia beli dengan ekor matanya. Tapi beberapa kali berhenti didepan toko, Shinta hanya menggeleng pelan.
"Kau membuat betisku lebih besar. Awas kalau kau tak mau memijatku malam ini." kata Joe. Mereka berhenti didepan stan es krim.
Shinta sedang berbicara dengan penjaga stan eskrim itu. Meminta rasa coklat dan strawberry. Tak mengindahkan Joe yang menggerutu lelah.
"Terima kasih," kata penjaga stan itu sambil melirik Joe yang berdiri menyilangkan tangan didada. Pasti keberuntungan besar bisa melihat wajah Joe dari dekat.
"Suka sekali ya dengan pijatanku? Bayar saja pemijat pro Mas." Shinta mencibir. Pasti ada udang dibalik pijatan! Dasar Mas Jonathan! Suka sekali menyiksaku. Shinta memberikan es krim bagian Joe. Joe menggeleng tidak mau.
"Tidak. Aku mau kamu saja yang memijatku!" Joe berkacak pinggang. Mereka melangkah beriringan. Duduk dibangku panjang yang kosong.
"Pijatanku mana terasa? Paling juga cuma seperti gelitikan." Shinta sibuk menjilat eskrimnya coklat.
Glek. Mata Joe melihat itu. Bibir itu. Oh my... kenapa aku ini?
__ADS_1
"Kau benar. Tapi kau tak bisa bebas dari hukuman." Joe membelai rambut panjang Shinta.
Shinta menolak kasar. Ini tempat umum! Dia sadar nggak sih?
Joe benar - benar dibuat kesal. Dari jalan - jalan yang ia pikir akan mengasikkan atau bisa dibilang kencan pertama malah gagal total.
Dari toko ke toko yang Shinta cari adalah toko buku. Joe nampak kesal karna diajak masuk ke rak - rak buku yang dipajang. Mencari buku yang Shinta inginkan.
Dia benar - benar tidak tau cara bersenang - senang. Istriku ini kutu buku ya? Astaga. batin Joe
Shinta memilah buku. Membaca judul dan kemudian membayar buku yang dibeli.
Shinta mengajak Joe jalan lagi. Tujuannya sama. Toko buku. Buku yang dibeli masih kurang katanya.
"Nggak mau beli baju? Atau perhiasan? Atau apapun selain buku?" tanya Joe berkacak pinggang.
"Nggak Mas."
"Tuhan, sadarkanlah istriku ini!" bisiknya.
"Memangnya aku kesurupan?"
"Lihat! Kau seperti menemukan mainan baru. Semua judul buku kau beli."
"Ini caraku menghabiskan uangmu!"
"Uangku takkan habis meski kau beli perusahaan penerbitan!"
"Ish! Sombong amat sih!" dengus Shinta.
***
Terima kasih dah baca ya ^_^
Aku tunggu like komen tip dan vote
__ADS_1
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya
Peluk cium DevaNurAna^_^