Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Saran


__ADS_3

Selamat membaca^_^


***


Bau harum dari kuah daging itu sudah menusuk hidung. Rasanya jangan ditanya. Pasti sedap dimakan hangat - hangat. Ditambah bawang goreng dan irisan daun seledri. Jangan lupa tambah saos, kecap dan sambal. Mantap.


Shinta duduk dikantin bersana Anin. Bakso Pak Mun memang favorite nya mereka berdua saat di sekolah.


Anin makan dengan lahapnya. Sedangkan Shinta hanya mengaduk kuah itu dengan wajah tak berselara.


"Kenapa Shin? Kamu diet?" tanya Anin heran. Tidak biasanya Shinta tak menikmati bakso Pak Mun yang terkenal seantero sekolah.


"Mas Jonathan membuatku takut." jawabnya lirih. Penuh kesedihan mendalam.


"Takut kenapa? Dia marah - marah lagi sama kamu? Bukannya akhir - akhir ini kamu bilang dia suka manja - manja gitu sama kamu Shin."


"Dia... dia hampir mau melalukan 'itu' Nin." bisik Shinta. Takut ada yang mendengar.


"Kenapa takut? Dia nggak salah lho mau melakukan 'itu'. Dia kan suamimu. Kamu nggak boleh nolak lho Shin. Dosa lho..." bisik Anin menggoda Shinta dengan suara tawa cekikikan.


Shinta diam. Hanyut dalam pikirannya sendiri. Pikirannya kalut. Apa benar dia telah dosa menolak Joe? Arrrggghhh...! Aku belum siap. Shinta merasa bersalah pada Joe.


"Shin, kemarin Mas Joe kerumahku lho. Kamu kabur?" Anin tersenyum geli.


"Anin sssttt..." Shinta menutup bibirnya dengan telunjuk. Menengok kanan kiri memastikan tak ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Kamu nggak perlu takut Shin. Kalian berdua harusnya sudah melakukannya diawal pernikahan."


"Anin, jangan bahas itu lagi ah." Shinta menyebikkan bibirnya tidak suka.

__ADS_1


"Takutnya dimana sih? kalau sudah halal. Hehe..." Anin terus saja terkekeh menggoda Shinta yang ketakutan itu. Padahal wajah Shinta sudah merah digoda Anin.


"Bisa ya kamu tuh tertawa begitu Nin." Shinta melengos kesal.


"Haha... Shinta malu nih!" Anin meledek.


"Kamu tuh Nin! Menyebalkan!"


"Ayolah Shin. Jangan penakut begitu."


"Aninnnn... jangan beri aku pengaruh burukmu."


"Wkakakaka..." Anin tertawa keras. Tak bisa menahan gelak tawanya. Ya ampun... temanku ini! Anin.


"Anin, Mas Jonathan mau memperbaiki hubungan kita. Menurutmu aku harus bagaimana?"


"Kamu suka tidak sama dia?"


"Benci benar - benar cinta maksudnya? Haha..."


"Jangan ngaco!"


"Beri saja dia kesempatan. Nggak ada salahnya kan?"


"Dia itu pandai bersandiwara. Aku tuh nggak tau dia itu serius atau hanya ingin bercanda."


"Coba saja tes dia. Tes kesungguhan cinta. Haha..."


"Bagaimana caranya?" Anin membisikan sesuatu di telinga Shinta. Memberikan ide gila untuk mengetes kesungguhan cinta Joe pada Shinta.

__ADS_1


Shinta tersenyum. Saatnya mengerjai Joe habis - habisan.


"Aku rasa dia benar - benar mencintaimu Shin. Bagaimana ia bisa men*****mu tanpa ada rasa suka dan keinginan yang besar."


"Hmmm. Bagaimana kamu sama Revan, Nin?"


"Lancar - lancar saja. Mamah tak mengijinkanku tinggal dengan mertuaku. Mamah takut katanya kalau aku tinggal disana aku bisa kurus kering."


"Memang mertuamu galak?"


"Tidak. Mamanya Mas Revan tuh orangnya kalem tau. Wanita solehah. Adiknya Mas Revan juga akrab sama aku. Aku rasa mamahku aja yang parno. Haha..."


"Dia kelewat sayang sama kamu Anin."


"Tentu saja. Kamu juga ya semoga lancar sama Mas Jonathan."


"Makasih ya. Love Anin."


"Idih! Jijay Shinta!"


Mereka tertawa. Menyendok bola - bola bakso itu ke mulut mereka masing - masing. Mood Shinta sudah membaik. Bakso kini sudah tanda masuk didalam perut.


***


Terima kasih dah baca ya ^_^


Aku tunggu like komen tip dan vote


Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya

__ADS_1


Peluk cium DevaNurAna^_^


__ADS_2