Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Maaf


__ADS_3

Selamat membaca ^_^


***


Mbak Asih tergopoh turun dari lantai atas. Memanggil tuan mudanya diruang kerja. Mbak Asih tampak khawatir sekali.


"Tuan, nona Shinta tidak turun dari tadi siang." kata Mbak Asih.


"Apa?!" Joe terkejut bukan main. Berdiri kemudian beranjak naik kekamar Shinta. Joe membuka kamar Shinta perlahan.


Joe terkejut melihat Shinta berbaring diranjang merintih kesakitan.


Andi melihat itu langsung menghubungi dokter. Dengan cepat dokter datang ke rumah, tanpa ba-bi-bu , sang dokter langsung masuk kamar Shinta memeriksa Shinta dengan teliti. Tidak ada yang salah dengan alat vital Shinta.


"Nona muda tidak apa - apa tuan. Dia hanya mengalami menstruasi bulanan. Hari pertama biasanya akan terasa nyeri pada perut bagian bawah." jelas dokter.


"Syukurlah. Terima kasih dokter." Joe lega.


Andi mengantar dokter keluar dari kamar Shinta.


Joe duduk disamping Shinta. Melihat wajah pucat Shinta yang tak berdaya. Joe sungguh kasian melihatnya.


Joe menggenggam erat tangan Shinta. Tangan satunya ia gunakan merapikan rambut Shinta yang berantakan.


Shinta hanya diam. Membiarkan Joe melakukan itu. Dia tak punya tenaga untuk menepis tangan Joe yang besar.


"Kau harus makan. Kalau tak makan badanmu akan semakin lemah." kata Joe lembut. Shinta menggeleng.


"Katakanlah sesuatu. Kau perlu apa?"


"Pembalut." kata Shinta lirih.


Joe membelalakan mata. Pembalut? Dia mau aku membelikan itu untuknya? Tidak! Itu sangat memalukan!

__ADS_1


"Tunggulah. Biar Asih yang membelikan." Joe mengambil ponsel disakunya. Menghubungi Asih untuk membawakan makan malam dan pembalut untuk Shinta.


"Apa sakit sekali? Yang mana yang sakit?" tanya Joe setelah meletakkan ponselnya di nakas sebelah ranjang.


Shinta hanya menunjuk bagian yang sakit tanpa mengatakan apapun. Ia enggan sekali bicara dengan Joe.


Tak lama kemudian Mbak Asih masuk kamar. Membawakan pesanan Tuan Mudanya.


Shinta beringsut ingin bangun. Namun Shinta meringis merasakan sakit dipangkal perutnya. Nyeri diperutnya sungguh membuatnya tak kuat mengangkat berat tubuhnya.


Joe yang melihat itu langsung membantu Shinta. Menggendong Shinta ke kamar mandi. Agar Shinta bisa memakai benda itu.


"Apa kau bisa memakainya sendiri?"


Pertanyaan konyol macam apa itu? Kalau tidak karna perutku sesakit ini sudah aku pukul wajahnya itu. Shinta menatap Joe tajam.


"Maksudku, kalau tidak bisa biar Asih ikut masuk membantumu." lanjut Joe.


Joe tak beranjak dari tempatnya berdiri. Ia. sungguh khawatir pada Shinta. Akhirnya ia. memutuskan untuk menunggu Shinta keluar dari kamar mandi.


Semoga tidak terjadi apa - apa. Joe


Shinta membuka pintu, Joe bersiap menggendong Shinta dan membaringkannya ke ranjang seperti semula.


Joe menaikkan sedikit bantal agar Shinta bisa memakan makan malamnya.


Joe menyuapi Shinta dengan telaten. Tidak ada rasa terpaksa sedikitpun. Ia sungguh tulus kali ini. Shinta pun tak menolak suapan demi suapan sampai habis. Setelah itu Shinta bisa minum obat pereda nyeri.


"Apa yang kau lakukan dengan Rendra?" tanya Joe dengan suara tidak suka.


Shinta melengos. Ia putar tubuhnya membelakangi Joe menyamping memunggungi Joe disampingnya.


"Aku tanya. Kalian lakukan apa seharian? Pacarmu itu tak becus sekali menjagamu!" Joe bertanya lagi.

__ADS_1


"Ini tidak ada hubungannya dengan Mas Rendra, Mas." kata Shinta. Masih dalam posisinya.


"Aku sudah bilang jangan panggil dia Mas! Panggilan itu khusus untukku. Kau lupa?!" suara Joe meninggi.


"Pergilah mas!" kata Shinta


"Hei! Aku sedang baik. Kenapa malah marah?"


"Karna sekarang mood ku sedang buruk. Jangan mengangguku."


"Anak ini! Kalau begitu kenapa dia membiarkanmu tak makan seharian?"


Shinta diam. Merasa tak ada sahutan Joe mendesah kasar.


Dia berani mengabaikan aku! Tapi Joe juga tidak bisa apa - apa.


Akhirnya Joe hanya duduk diam disamping Shinta. Menunggu Shinta sampai Shinta tertidur pulas. Joe merasa sedih melihat Shinta begini.


Bagaimana hidup Shinta sebelum Joe datang? Dalam waktu kurang lebih setahun ia harus merasakan sakit setiap bulannya seperti ini sendirian?


Ya Tuhan, kenapa kau beri cobaan yang begitu menyedihkan padanya? Aku akan membalas setiap hari kepedihanmu Shinta. Paman Bibimu harus merasakan kesakitan dan ketakutan yang kau rasakan selama ini. Aku berjanji. Joe


"Maafkan aku," bisik Joe. Kemudian mencium kening Shinta lembut.


***


Terima kasih dah baca ya ^_^


Aku tunggu like komen tip dan vote


Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya


Peluk cium DevaNurAna^_^

__ADS_1


__ADS_2