
Selamat membaca^_^
***
Shinta duduk di sofa ruang tengah. Hari ini Anin datang untuk menginap. Anin sedang bercerita tentang hubungannya dengan Kenzo yang semakin dekat. Dia antusias sekali menceritakan semuanya. Tidak ada yang ditutup - tutupi diantara mereka. Apalagi Anin yang suka sekali cerita apapun kegundahannya yang dialami. Berbeda dengan Shinta yang harus ditanya dulu baru cerita.
Shinta hanya diam. Tidak mendengarkan semua. Malah pikirannya menerawang. Dia ingat kata - kata Joe tadi siang.
"Jangan mudah melabuhkan hatimu, nanti kamu bisa sakit hati. Lebih baik berhati-hati." kata Joe terngiang kembali.
Apa maksudnya? Setelah itu Joe tak bicara lagi sampai Shinta turun dari mobil.
"Shin, aku udah bawa cemilan. Tapi cuma sedikit sih. Nanti ke minimarket ya? Kita harus beli cemilan dan minuman yang banyak. Haha..." Anin bersemangat. Shinta terkejut.
"Jangan Anin." tukas Shinta.
"Kenapa? Ini jarang - jarang ya aku nginep. Nggak ada cemilan nggak seru nanti nonton film-nya, Shin." Anin sewot.
"Mas Jonathan ngelarang aku makan cemilan seperti itu."
"Apa? Kenapa? Aneh sekali." Anin heran.
"Katanya nggak baik buat kesehatan tubuh."
"Alasan macam apa itu? Menyebalkan!"
Shinta terdiam. Tidak tau mau menjawab apa. Memang Joe menyebalkan sih.
__ADS_1
"Oh ya Mamaku masakin Kentang balado udang, banyak banget lho. Kita makan yuk!" ajak Anin.
Shinta mengangguk semangat. Shinta mengajak Anin ke meja makan. Menata makanan dimeja dibantu oleh Mbak Asih. Mereka makan dengan lahap. Masakan Mama Anin memang juara. Pedas manis menyatu sempurna dimulut. Apalagi udang yang besar - besar itu. Gurih dan lembut saat digigit. Nikmat tiada tara.
***
Selesai makan, mereka berpindah ke kamar atas. Kamar Shinta. Dikamar juga ada televisi lengkap dengan DVD player. Mereka akan menonton drama yang mereka sukai.
"Shin, gimana kamu sama Mas Jonathan itu?" tanya Anin disela - sela menentukan film apa yang akan mereka tonton. Mereka sedang bersimpuh dilantai didepan televisi.
Deg. "Kenapa? Baik - baik saja kok Nin." jawab Shinta sendu. Ia memalingkan wajahnya. Menunduk memilah judul film - film itu.
"Ih, kok gitu jawabnya lemes banget. Emang Mas Joe kurang perkasa ya?" Anin tersenyum genit. Menggoda sahabatnya yang sudah bersuami bule itu.
"Apa? Nggak ada yang menarik Nin. Aku malas bahas dia." Shinta sedikit terkejut. Anin bilang apa coba?
Tak ada yang bisa ia ceritakan seperti pada hubungan cinta yang ingin Anin dengar. Romantis. Mengharu biru. Ah, tak kan sampai pada hal seperti itu. Padahal setiap hari Joe hanya berteriak dan Shinta hanya membantahnya sekenanya. Atau menuruti saja daripada Joe semakin marah padanya.
Tak ada yang bisa diumbar. Untuk sekedar pemanis. Bahkan pemanis buatan pun terasa getir di lidah. Itulah cinta yang saat ini menggrogoti hati Shinta.
Lho kok Shinta jadi sedih? Aku salah bertanya ya? Jadi yang waktu itu beneran mereka bertengkar? Si Jonathan itu spiko ya? Anin membatin.
"Kamu yang sabar ya Shin. Aku minta maaf." Anin merasa bersalah. Ia ikut sedih melihatnya. Anin memeluk erat tubuh sahabatnya.
"Dia hanya menganggapku adik Nin. Nggak akan lebih," bisik Shinta.
Apa? Pernikahan macam apa ini? batin Anin.
__ADS_1
"Dia punya pacar Nin di Amerika. Dia sangat mencintai pacarnya," Shinta semakin terisak.
"Dia bilang begitu padamu?" tanya Anin heran.
Shinta mengangguk pelan. Anin mulai emosi. Tega sekali laki - laki itu. Meski tampan tapi jangan seenaknya dong. Mematahkan hati Shinta sebelum berkembang.
"Astaga. Sabar ya Shin. Kalau kau sudah tidak kuat menahan, akhiri saja semua Shin. Untuk apa semua ini kamu jalani? Kamu semakin menderita."
"Aku nggak bisa. Kalau aku bercerai dari Mas Joe bagaimana hidupku selanjutnya Nin? Paman dan Bibi sudah tidak mengirim uang untukku."
Ya ampun. Kenapa hidupmu semakin menderita begini Shin? Aku nggak tega lihatnya. Aku pikir hidupmu bahagia karna suamimu seorang bule yang keren, Anin membatin. Memeluk lebih erat. Mengusap punggung sahabatnya.
Aku yakin kamu kuat Shin. Aku ada disini bersamamu, Anin.
Ini pernikahan yang sakral. Pernikahan yang suci. Tuhan sebagai saksi penyatuan cinta ini. Tak seharusnya di abaikan kesucian itu. Pernikahan dilakukan bukan untuk permainan bahkan bisnis. Cinta selalu suci dimata Tuhan.
Shinta teramat sedih. Bahkan lebih sedih dibanding sendirian dikamar. Kesendirian yang dulu akan tetap disyukurinya dari pada menjalani pernikahan ini.
Kenapa keluarga Mas Jonathan datang malah menambah penderitaanku? Shinta.
***
Terima kasih sudah membaca ^_^
Jangan lupa like komen tip dan vote ya
nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya
__ADS_1
peluk cium DevaNurAna ^_^