
Selamat membaca ^_^
***
Joe keluar dari bandara bermaksud mencari taxi untuknya. Namun segerombol orang menghadang langkahnya. Keriuhan pun terjadi. Banyak orang di bandara itu memperhatikan Joe dan para orang - orang yang memakai seragam serba hitam itu. Mereka nampak mencolok karena menggunakan kacamata hitam. Berbisik dengan pelan. Mereka tidak tau bahwa Joe adalah pewaris SM Group. Ya, Andrew memang tidak suka diekspos oleh media. Ia juga tidak pernah muncul dalam talk show di TV manapun. Ia sangat sibuk sehingga hal seperti itu selalu ia tolak.
Joe mengenali siapa orang - orang itu dari pin buntar bergambar logo perusahaan Daddynya.
Cih! Joe membuang muka. Joe ingin kabur, tapi Joe kalah jumlah. Mereka berbadan besar dan tinggi tubuh mereka sepadan dengan Joe. Namun satu banding sepuluh, apa itu masuk akal untuk melawan? Akhirnya Joe menyerah dengan pasrah.
Laki - laki yang menjadi ketua dari pengawal pribadi keluarga Joe itu maju, membuka pintu mobil. Joe masuk mobil mewah itu tanpa ada perlawanan sedikitpun.
"Apa sekretaris Andi yang mengabari kalian? Katakan Pak Viktor!"
"Iya tuan muda. Maafkan kami harus melakukan ini. Ini perintah dari Tuan Besar." kepala keamanan itu berkata dengan hormat.
Akhirnya Joe sampai dirumah orang tuanya bersama para pengawal itu. Andrew dan Rania menyambut dengan penuh cinta. Tapi Joe nampak marah. Amarahnya tertuju pada Andrew yang sudah menghalanginya bertemu dengan Carol.
"Tuan Joe sudah datang dengan selamat Tuan Besar." kata Viktor menunduk hormat di belakang Joe. Andrew hanya menjawab dengan kibasan tangannya untuk mereka agar pergi.
"Daddy keterlaluan!" teriak Joe.
"Bicara dengan benar!" kata Andrew tak kalah keras.
Rania hanya diam. Melihat suami dan anaknya itu saling menatap tajam. Rania mengela nafas kasar. Kenapa lagi ini?
"Joe, katakan tujuanmu pulang? Kenapa mendadak begini?" tanya Rania.
"Aku ingin ketemu Carol Mom, sebentar saja." kata Joe. Masih dengan posisinya berdiri. Ia bahkan belum membersihkan diri.
"Duduklah nak," kata Rania lembut. Joe menurut duduk disebelah Rania. Memeluk Rania erat.
"Andi sudah memperingatkanmu! Kenapa kau tak mendengarkan dia?" Andrew.
__ADS_1
"Dia penghianat! Suruh dia kembali disini saja, aku muak melihatnya!" Joe kesal.
"Anak ini! Lihat kelakuanmu! Memeluk Mommy mu seperti bayi!" Andrew.
"Kenapa? Cemburu? Dia mommyku." Joe malah makin mempererat pelukannya.
"Lihat anakmu! Sudah 26tahun tapi kelakuannya macam ini? Kalau Shinta tau pasti sudah ditertawakan!" Andrew.
"Sudahlah. Ini juga anakmu sayang." Cup. Kecupan hangat mendarat di kening Joe.
Rania sangat memanjakan Joe. Sedangkan Andrew terlalu keras mendidik Joe. Bagaimana tidak, Joe adalah anak satu - satu mereka. Yang digadang akan menjadi pewaris Andrew selanjutnya.
"Mengalahlah sedikit Joe." kata Rania sambil menepuk kepala Joe pelan.
"Mom, aku lelah. Kenapa orang tua itu selalu memaksaku?"
"Dia Daddy mu nak. Dengarkan Daddymu,"
"Orang tua katanya? Sudah berani kurang aj*r kamu padaku!" Andrew.
Rania menatap Andrew. Seperti berkata ijinkan saja anakmu pergi.
Andrew kalah dengan tatapan maut itu. Matamu itu yang menghipnotis hatiku setiap hari. Huh!
"Baiklah."
Joe melepaskan tubuhnya dari pelukan Rania. Ia berdiri dan masuk kamarnya. Para maid ikut masuk untuk menyiapkan semua yang diperlukan tuan mudanya. Joe menyuruh maid - maid itu pergi. Lalu Joe membersihkan diri. Lama dipesawat membuat tubuhnya lengket sekali.
Joe sudah bersiap. Ijin dari Andrew harus ia manfaatkan segera sebelum orang tua itu berubah pikiran.
Joe sudah membersihkan diri. Ia duduk di sofa kamarnya masih menggunakan handuk mandi. Ia merasa nyaman sekali.
Tring. Tiba - tiba sebuah pesan masuk ke ponselnya.
__ADS_1
Dilihatnya pesan itu. Oh ternyata pesan gambar. Joe terbelalak. Didalam foto itu terlihat Carol dengan laki - laki. Carol bergelayut manja dilengan laki - laki itu disebuah hotel berbintang.
Tapi yang membuat Joe ingin membanting ponselnya adalah saat foto terakhir. Foto dimana Carol dicium didepan sebuah kamar hotel.
Apa yang dia lakukan? Foto - foto itu membakar amarahnya.
Joe ingin langsung beranjak pergi untuk bertemu Carol. Namun ponselnya berdering. Ada panggilan seluler dari Andi.
"Ada apa? Sudah bosan hidup ya?" Marah Joe.
"Maaf tuan." jawab Andi singkat.
"Aku sudah bilang kan aku tidak suka kau menguntit kekasihku! Cih! Kenapa kau hanya minta maaf? Aku bosan mendengarnya." Joe terus saja ingin mengumpat. Andi mendengarkan sampai Joe terdiam.
"Tuan, kapan Anda akan kembali? Tempat GYM sudah siap dibuka." ujar Andi mengalihkan pembicaraan.
"Segera! Urus saja dengan benar!"
"Kita sudah bersiap dengan Paman dan Bibi nona muda juga, Tuan."
"Benarkah? Wah, aku ingin dengar banyak. Tapi urusanku disini lebih penting. Kita bahas bila aku kembali." tut. Joe mematikan ponselnya.
Penting? Sepenting apa? Aku penasaran selain wanita jal*ng itu! Andi.
Joe pun segera melesat menuju tempat dimana kekasihnya berada. Tentu saja diantar oleh dua pengawal pribadi.
Orang tua itu benar - benar merantaiku. Sial! Joe
***
Terima kasih sudah membaca ^_^
Jangan lupa like komen tip dan Vote ya
__ADS_1
Nantikan terus cerita Joe dan Shinta selanjutnya
Peluk cium DevaNurAna^_^