
Selamat membaca^_^
***
Shinta berdiri menyilangkan tangannya didepan dada. Disamping ranjang. Melihat Joe yang tengah tidur berbaring di atas ranjang.
Semalam entah pulang jam berapa sampai Shinta tak tau kapan ia sudah berbaring disampingnya.
Shinta sampai tidak bisa tidur semalaman karena menunggu Joe pulang. Hampir tengah malam Shinta terjaga. Ya Tuhan, pikirannya sudah kemana-mana memikirkan keadaan Joe. Tak biasanya Joe pulang sampai pagi begini. Tapi malah sampai detik ini orang yang ia khawatirkan semalam masih terbuai dalam mimpi.
Menyebalkan! tidak tau apa aku begadang semalam hanya untuk menunggunya pulang. tidak memberi kabar. ponsel keduanya mati - Joe dan Daren. kemana sih mereka? kenapa pulang sampai selarut itu? urusan bisnis apa sampai pagi baru pulang?
Shinta berdehem. Tapi mahluk tampan nan rupawan itu masih tetap dalam posisinya. Shinta menggoyangkan tubuh Joe.
"Mas Jonathan! Bangun!" Shinta sedikit berteriak. Ia sungguh kesal padanya.
"Hmmm."
"Bangun!"
"Huammm..." Joe menggosok - gosok matanya. Mengumpulkan separuh nyawanya.
"Aku mau berangkat sekolah Mas. Mau kau antar atau aku berangkat sendiri?" Shinta ketus.
"Iya Honey." Joe menyatukan kaki hendak masuk ke kamar mandi. Tapi ia benar-benar masih malas untuk bangun. Ia masih sangat mengantuk. Ia hanya duduk diam dengan mata tertutup.
"Pulang jam berapa sih semalam Mas? Sampai tengah malam belum pulang juga." Shinta sudah mencebikkan bibirnya dari tadi. Masih dalam posisinya berdiri disamping ranjang.
"Entahlah Honey."
"Mas Joe kemana sih?"
__ADS_1
"Ke club."
"Ngapain?!" Shinta terbelalak. Club'? hiburan malam? oh my.... " Oh cari teman kencan ya? Bagus banget ya bisa semalaman dengan perempuan." ketus Shinta.
"Tidak Honey."
"Tidak apa? Jangan bohong deh mas. Aku tau laki-laki takkan betah lama-lama dari sentuhan perempuan. pantas saja jas mu yang kau pakai semalam baunya parfum perempuan banyak sekali." Shinta sudah meninggikan suaranya. Sudah tidak tahan Shinta ingin meluapkan kekesalannya pada Joe.
"Kepalaku pusing Honey. Biar Daren yang mengantarmu ya kali ini. Maaf." Joe meraih tangan Shinta. Menariknya agar tubuh Shinta mendekat didepannya. Tapi Shinta masih keukeuh dalam posisinya.
"Ya sudah kalau tidak mau mengantarku. Aku akan berangkat sendiri." Shinta melengos.
"Wait me honey." Joe meraih tangan Shinta. Shinta mengibas kasar. Shinta melangkahkan kakinya ke pintu. Brak! Pintu itu ditutup dengan kasarnya.
"Maaf Honey, nanti akan aku jelaskan." Joe pun akhirnya ambruk kembali ke ranjang dan terlelap.
Daren sudah menunggu di depan rumah. Menyiapkan mobil untuk mengantar nona mudanya ke sekolah sesuai instruksi dari tuan muda nya.
Aku tidak suka dipermainkan seperti ini! Dia seenaknya mengatur hidupku dan dia juga seenaknya masuk club' dan bermain perempuan. Lihat aku akan menghukummu!
Apa aku cemburu? Tidak! Aku tidak cemburu... Untuk apa cemburu? Dia itu yang seenaknya mempermainkan perasaanku. Sudah tau masih dalam masa percobaan. Tapi dia berani-beraninya masuk club' dan main gila. Awas saja kalau nanti aku pulang dan dia masih bilang cinta! Mau manja-manja menciumi tubuhku! Awas kau tuan Jonathan!
Shinta terus saja bermonolog dalam hati. Sungguh kelakuan Joe kali ini membuatnya kesal. Lebih kesal karena sudah menyatakan cinta, namun masih main perempuan lain.
***
"Kau sudah mengantarnya?" tanya Joe masih berbaring ditempat tidurnya.
"Sudah tuan." Daren berdiri disamping tuannya untuk mengambilkan segelas air putih. Tenggorokan Joe serasa kering sehabis minum minuman beralkohol.
"Ada laporan dari Justin?"
__ADS_1
"Ada tuan. Perusahan saingan kita kemarin katanya sudah tuan Justin temukan. Tinggal menjalankan misi. Begitu pesan singkat dari tuan Justin."
Aku tidak mengerti maksud pesan orang itu - Justin. Entah apa yang akan ia lakukan.
"Good. Dia memang bisa diandalkan. Suruh Asih menyiapkan baju ganti dan air untukku mandi. Apa jadwalku hari ini?"
"Saya sudah mengosongkan jadwal anda. Ada pertemuan dengan client saat makan siang tuan."
"Baiklah. Aku tidak perlu buru - buru. Kita ke GYM dulu saja. Sudah lama aku tak kesana. Bagaimana profitnya bulan ini?"
"Pendapatan bulan ini meningkat tuan."
"Hmmm... Siapa yang bertanggung jawab disana?"
"Roni tuan."
"Beri dia bonus." Joe memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Sial! Honeyku marah tadi. Aku baru tidur dua jam. Gara - gara Justin menyuruhku minum. Membuat kepalaku pusing sekali. Aku kan sudah lama tidak minum. Tapi aku akui kerja Justin bagus sekali.
Daren memanggil mbak Asih untuk menyiapkan air.
"Airnya sudah siap tuan. Baju gantinya juga." Kata mbak Asih saat sudah keluar dari kamar mandi.
Joe beranjak kekamar mandi. Mencelupkan tubuhnya yang kekar penuh otot itu ke dalam bak mandi. Ah, nyamannya, bisik Joe pelan.
***
terimakasih sudah membaca
jangan lupa like komen tip dan vote ya
nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
__ADS_1
peluk cium DevaNurAna