Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Kenzo


__ADS_3

Selamat membaca ^_^


***


Shinta dan Joe keluar dari Resto. Tampak Shinta masih kesal dengan Joe meski perutnya sudah kenyang. Joe nampak tak peduli kekesalan Shinta. Joe berjalan meninggalkan Shinta dibelakangnya. Shinta malas melangkah menuju mobil Joe. Harus semobil lagi dengan Joe membuat emosinya naik. Joe kalau sudah bicara itu tidak ada yang dikatakan dengan halus. Pasti teriak - teriak.


"Shinta kan? Benar ini kamu," suara itu Shinta kenal. Shinta menoleh dimana seorang laki - laki yang memanggilnya berada.


"Mas Kenzo? Sedang apa disini?" Tanya Shinta panik. Tapi ia mencoba tersenyum ceria didepan Kenzo. Iyalah ini kan resto milik keluarganya yang terkenal. Kenapa pertanyaan bodoh ini yang keluar dari mulutku sih! Arrggghhh.


"Ada acara disini." Kenzo masih menyunggingkan senyum manisnya. Shinta ikut tersenyum malu.


Kenzo Saputra adalah kakak kelasnya. Mereka satu sekolah yang sama. Kini Kenzo sudah kelas 3. Kenzo lumayan tampan meski tak terlalu populer disekolah. Ia juga aktif dalam kegiatan sekolah seperti OSIS dan basket juga. Ia laki - laki yang baik. Murah senyum dan bersahabat. Namun ia terkenal lebih pendiam dibanding teman satu gengnya yang agak geser.


"Let's go!" teriak Joe membuyarkan kesenangan Shinta yang bertemu Kenzo. Sial! Aku lupa kalau bersama mas Jonathan.


"Maaf ya mas, aku pulang dulu ya. Dah..." pamit Shinta pada Kenzo. Kenzo hanya mengangguk dengan tersenyum manis. Mempersilahkan Shinta untuk berlalu.


Shinta masuk mobil. Joe sudah bersiap memutar haluan dan melesat pergi dari area parkir.


"Siapa?" tanya Joe memecah keheningan.


"Pengen tau saja!" Shinta mencebikan bibirnya.

__ADS_1


"Heh? Kau pikir aku peduli. Whatever." teriak Joe.


"Baguslah."


"Do you like him? Dasar bocah!" ejek Joe.


"Kenapa? Terserah aku kan?" Shinta melengos. Kenapa ia harus pusing dengan urusannya. Ia bilang tak peduli. Joe tak mengganggap Shinta istri juga. Untuk apa menanyakan orang yang dekat dengannya.


"Ya lakukan saja sesukamu. I don't care!" suara Joe tetap ketus.


Cih! Shinta berdecih mendengar kata- kata Joe. Memutar matanya jengah. Ia lebih tertarik dengan lampu sepanjang jalan yang mereka lalui.


"Awas saja menyusahkan aku!" ancam Joe. bocah kecil!


***


Kenapa takut kalau Joe akan melakukan 'itu'? Ada - ada saja nih tuan besar, gerutu Andi sambil menggelengkan kepalanya heran.


"Andi, kamu tinggallah disini. Jaga mereka. Saya tidak yakin dengan Joe. Kamu bisa bantu Joe juga disini. Kelihatannya dia perlu buka usaha disini."


"Baik tuan,"


"Bagaimana dengan lokasi strategis untuk usaha?"

__ADS_1


"Sepertinya ada beberapa tempat. Tapi Tuan Joe belum tau. Mungkin besok saya akan bereskan." kata Andi meyakinkan Andrew.


"Kau memang sigap sekali mengambil sikap." Andrew bangga pada kinerja Andi.


*Terima kasih tuan." Andi menunduk hormat. Ia memang mendedikasikan hidupnya untuk bekerja dengan Andrew.


Rania keluar dari kamar mandi sudah berbalut gaun malam panjang yang indah. Cantik sekali. Wangi tubuhnya semerbak bunga segar. Ia berjalan mendekat pada Andrew lalu duduk disamping Andrew. Ia penasaran dengan bahasan Andrew dan Andi.


"Tunggu apalagi? Sana ke rumah Shinta. Pastikan mereka baik - baik saja." usir Andrew pada Andi.


Andi berdiri dari duduknya. Menundukkan kepala. Kemudian membuka gagang pintu untuk membukanya.


Cih! Andi.


"Saya dengar itu Andi! Saya potong gajimu nanti!" Teriak Andrew.


Andi segera keluar dan menutup pintu pelan. Huh! Sensitif sekali sih!


***


Makasi sudah baca...


jangan lupa like komen tip dan vote ya...

__ADS_1


nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya


Peluk cium DevaNurAna^_^


__ADS_2