
Selamat membaca^_^
***
Joe memperhatikan laporan yang diberikan salah satu pegawai. Membaca dengan teliti. Beberapa kali dia mengkerutkan alisnya. Membuka lembar demi lembar.
Laki -laki gagah yang masih muda itu nampak ketakutan. Takut salah. Tangannya gemetaran dari tadi melihat Joe nampak melototi laporan kerjanya. Pasti tidak sedikit yang salah. Banyak sekali. ****** aku! Pikir laki - laki itu.
"Sudah berapa lama kau bekerja disini?" Tanya Joe dengan angkuhnya. Datar dan berat suaranya.
"Tiga tahun Tuan." Katanya bergetar. Menggenggam erat kedua tangannya didepan tubuhnya.
Joe melempar laporan itu dibawah kakinya. Kemudian menginjak laporan itu kuat.
"Laporan yang buruk! Ulangi lagi!" Kata Joe berteriak. Sungguh memekakkan telinga. Menyentuh langit - langit ruangan direktur ini.
Ampun deh bos baru ini galak banget! Batin laki - laki ini.
Tanpa basa basi lagi. Pegawai itu menunduk hormat dan kemudian keluar dari ruangan direktur. Sebelum benda - benda keras menghantamnya.
"Laporan yang berbelit - belit. Tidak terperinci." Keluh Joe.
"Tuan, ada pesan dari Nyonya Besar." Kata Andi. Menyerahkan ponselnya pada Joe. Joe membaca pesan itu kemudian senyum tercetak lebar. Sungguh bahagia mendapat pesan dari Mommy.
"Mommy, sebahagia itu melihat aku kencan dengan Shinta kemarin." Bisik Joe.
__ADS_1
Mommy menuliskan turut berbahagia tentang hubungannya dengan Shinta yang lebih baik. Mommy juga memberikan harapan - harapan kedepan agar lebih baik lagi dengan Shinta.
"Tidak sia - sia saya memotret Anda kemarin ya." Kata Andi. Ikut bahagia.
"Haha... kau kapan tidak membututiku? Dasar penguntit!" Joe tergelak. "BTW, apa kau masih menguntit Carol?"
"Tidak." Andi datar.
"Aku dengar dia sudah menikah." Kata Joe.
"Tidak tau."
"Kau pasti tau! Jangan bohongi aku!" Bentak Joe geram. Sekretaris yang ingin taunya besar ini takkan melepas Carol begitu saja.
"I don't care"
"Anda ingin tau? Dia bahkan mau dengan laki - laki seperti saya." Andi mengerlingkan mata.
"Apa?! Hei Andi! Kau serius? Kau pernah melakukan 'itu' dengan Carol?" Joe setengah tersentak. Melototi mata Andi. Mencari kejujuran.
"Tidak. Hanya mengujinya saja." Andi tersenyum licik.
"Gila kau! Tidak tau malu! Tak sadar umur!" Maki Joe.
"Whatever." Andi duduk disofa. Tidak peduli dengan makian Joe. Menyibukkan diri dengan setumpuk laporan yang ia minta dari Nana. Sungguh menguras pikirannya.
__ADS_1
"Andi gila!"
***
Kencan Joe dan Shinta kemarin. Setelah semua buku yang Shinta inginkan sudah didapat, Joe mengajak Shinta nonton film. Film romantis. Shinta pasti suka, pikir Joe.
Joe membeli camilan dan minuman untuk Shinta. Juga antri membeli tiket. Setengah jam kemudian bioskop dibuka. Mereka nonton dengan diam. Tak saling bicara. Hanya Joe yang tersenyum puas bisa jalan dengan Shinta hari ini. Memanjakannya meski hanya dengan setumpuk buku. Padahal jika Shinta minta, Joe akan habiskan uangnya untuk Shinta.
Joe menggenggam tangan Shinta erat. Ia ingin selalu menggenggam tangan ini. Shinta melirik genggaman tangan Joe, kemudian mata itu saling bertemu. Joe tersenyum manis. Memperlihatkan giginya. Tak juga melepas genggamannya.
Takkan kulepaskan Honey. batin Joe.
Shinta menarik tangannya. Tapi sungguh Joe benar - benar kuat menahannya.
"Lepasin Mas." lirihnya.
"Kiss me first, Honey." bisik Joe. menunjuk pada pipinya.
Ish! Tak sadar tempat! Shinta.
***
Terima kasih dah baca ya ^_^
Aku tunggu like komen tip dan vote
__ADS_1
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya
Peluk cium DevaNurAna^_^