Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Cerita Anin I


__ADS_3

Selamat membaca^_^


***


Pagi hari. Mendung menyelimuti langit hari ini. Musim penghujan sudah datang. Tandanya tiap hari akan turun hujan. Entah itu intensitas rendah entah tinggi.


Shinta duduk berdua dengan Anin di taman sekolah. Bercerita panjang lebar tentang pacar baru Anin. Ya ampun cepat sekali Anin sudah move on.


Begitulah Anin. Siapa yang tidak suka dengan paras cantik Anin yang aduhai bak model. Apalagi pembawaan Anin yang ceria dan cerewet abis. Bikin laki - laki suka gemes lihat tingkahnya.


Sudah setahun ya? Tapi perasaan Shinta belum berubah. Rendra masih ada dihatinya. Luka yang ia torehkan sungguh dalam pada laki - laki sebaik Rendra. Tak mungkin perasaan Shinta berubah begitu saja. Meski didekatnya Joe sudah menunjukkan sikap kecintaannya pada Shinta.


Sejak Joe melepas tanggung jawabnya sebagai suami dan malah menyuruhnya mengganggap kakak, Shinta tak menerima perhatian Joe sebagai rasa cinta pada istri. Dipikiran Shinta, Joe hanya sebagai kakak. Kakak yang menjaga adiknya.


Meski dalam kehidupan nyata, Joe sah secara agama dan hukum sebagai suami Shinta.


Apapun perhatian Joe, Shinta tetap teguh. Tak ingin Joe meraih hatinya. Joe juga punya kekasih. Shinta juga tak mau dalam posisi yang sama lagi. Itu menyakitkan. Sungguh.

__ADS_1


Mas Rendra apa kabar? bisik Shinta. Sebentar lagi Shinta akan lulus SMA. Menghapus semua kenangan yang tercipta di sini.


Lamunan Shinta terhenti kala Anin mulai serius bercerita. Shinta memperhatikan mimik muka Anin yang berubah.


"Kenapa jadi sedih Nin?" tanya Shinta.


"Shin, aku.... aku udah...." Anin ragu untuk cerita. Kata - katanya tersendat. Tak ingin keluar. Entah apa yang mengganjal dalam pikiran Anin.


"Kenapa Anin?" Shinta menangkup wajah Anin yang ditekuk itu untuk melihat matanya. Tadi dia bercerita sangat ceria sekali. Kini wajah itu berubah sendu dan hampir menangis. Anin nih drama deh!


"Aku... udah... melakukan 'itu' sama pacarku Shin." Anin melepas tangan Shinta. Menekan kata ITU. Apa? Shinta tidak paham. Sejurus pikirannya menerawang menemukan kata ITU yang dimaksud Anin.


Menenangkan Anin yang mulai bergetar. Tangisnya akan tumpah. Kok bisa? Pertanyaan itu urung Shinta tanyakan. Melihat Anin seperti ini pasti laki - laki itu memaksa Anin melakukannya. Ya Tuhan, Anin begitu terpukul.


"Dia berjanji akan tanggung jawab kok Shin." Katanya lirih.


"Janji? Anin, jangan percaya janji. Suruh dia segera bertemu dengan kedua orang tuamu. Jangan nanti - nanti. Segera! Kalau perlu malam ini juga." Shinta berapi. Suaranya penuh tanda tak sabar.

__ADS_1


Bagaimana kalau Anin hamil? Perutnya akan membesar bukan? Kalau laki - laki itu lari bagaimana Anin menjalani hidupnya kedepan? Tuhan, jangan biarkan laki - laki itu lari dari tanggung jawabnya. Shinta


"Iya Shin." Anin mulai menepis air matanya pelan. Sungguh baru ia lega bisa cerita pada Shinta. "Kamu jangan khawatirin aku Shin. Aku nggak apa - apa kok. Bagaimana kamu sama Joe? Apa sudah pernah melakukan 'itu'?" tanya Anin. Tersenyum tipis.


"Ish! Apa sih Nin? Kok malah nanya soal itu sama aku?"


"Kenapa? Kalian kan suami istri. Jelas sudah halal."


"Nggak mau." Shinta mencebikkan bibir. Anin nih situasi lagi genting begitu bisa - bisanya santai begitu. Huh! Anin!


***


Terima kasih dah baca ya ^_^


Aku tunggu like komen tip dan vote


Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya

__ADS_1


Peluk cium DevaNurAna^_^


__ADS_2