Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Apa Maumu?


__ADS_3

Selamat membaca^_^


***


Sore hari. Shinta sudah sangat segar. Wajahnya tampak bersinar setelah perawatan sehari bersama mertuanya, Rania.


Mereka dijemput oleh Andi sore itu didepan salon kecantikan. Andi mempersilahkan kedua perempuan yang berbeda generasi itu masuk mobil. Menunduk hormat membuka pintu mobil belakang.


"Silahkan Nyonya besar dan nona muda." kata Andi.


"Terima kasih pak." jawab Shinta. Sedangkan Rania langsung masuk dalam mobil. Tanpa menjawab apapun.


Andi memutar langkahnya. Setelah memastikan kedua penumpangnya masuk semua. Andi berada dibelakang kemudi. Menyalakan mesin mobil itu kemudian menginjak pedal gas. Melajukan mobil dengan perlahan meninggalkan salon kecantikan itu.


Didalam mobil nampak Shinta sangat canggung. Setelah percakapan di spa tadi, Shinta tak berani bertanya apapun lagi. Ia takut akan menyinggung perasaan Rania. Jadinya ia hanya diam. Meski Rania terlihat biasa saja dan masih menyunggingkan senyum seperti semula. Tapi Shinta sungguh tak berani menanyakan keinginan tahuannya pada Rania. Gagal sudah untuk mengetahui seperti apa keluarga mereka. Atau sedekat apa orangtuanya dulu dengan mereka. Sampai mereka mau menanggung wasiat yang diberikan Papanya.


Semoga mereka keluarga baik - baik, batin Shinta.


Rania meraih tangan Shinta. Menggenggam erat. Shinta dibuat terkejut karna dari tadi Shinta berkelut dalam pikirannya. Shinta menatap netra Rania. Senyum itu masih tercipta indah dibibir Rania.


"Apa yang kau khawatir kan sayang?" tanya Rania.


"Ti-tidak Mom. Aku baik - baik saja."


"Begitu kah? Oke, jangan pikirkan apapun lagi sayang. Bukannya kelulusan mu jauh lebih penting? Mommy yakin kau pasti bisa. Jadi semangat ya sayang." Senyum merekah Rania membuatnya semakin bercahaya. Kata - katanya mampu membuat Shinta takjub sesaat. Shinta hanya membalas dengan senyuman.


Setelah itu tak ada percakapan lagi. Hening. Sampai mereka dihalaman rumah. Mobil berhenti.


Andi dengan sigap membuka pintu untuk nyonya dan nonanya.


Shinta keluar diikuti Rania dibelakangnya. Bergandengan masuk ke rumah. Andi mengikuti langkah mereka dibelakang.


"Andi, dimana Andrew dan Joe?"


"Ada diruang kerja Nyonya." jawab Andi menghentikan langkahnya.


"Shinta, kau ingin bertemu Joe?"


"Tidak Mom. Shinta mau ke kamar "


"Oke." Rania melepas pegangan tangan Shinta. Kemudian masuk ke ruang kerja.


Rania mengedarkan pandangan. Melihat Joe yang sibuk dengan laptop dan Andrew yang duduk menyilangkan kaki.


Dan juga didalam ada seseorang yang Rania tidak kenal. Ia mendekat. Duduk disamping Andrew.


"Siapa Sayang?"

__ADS_1


"Sekretaris baru Joe." Cup!


Rania membulatkan bibirnya. Ia melihat Daren dari atas ke bawah. Masih muda.


Joe melirik Rania. Sejurus pikirannya tertuju pada Shinta. Kalau Rania disini, berarti Shinta sudah pulang. Begitu pikirannya berhipotesa.


"Mom, mana Honey ku?"


"Dikamar."


"Daren, kau boleh pulang. Kita lanjutkan besok saja."


"Baik tuan. Saya permisi." Daren menunduk hormat. Kemudian keluar dari ruang kerja itu. Menghela nafas lega. Hidup nya masih tergantung besok. Huh! Setidaknya hari ini ia selamat.


Joe beranjak dari duduknya. Minta diri pada kedua orangtuanya untuk menemui Shinta. Mereka paham betul bagaimana anaknya ini sedang dimabuk cinta.


"Honey, buka pintunya."


Tak ada sahutan. Joe jadi gusar. Pikirannya jadi khawatir. Joe turun. Meminta Mbak Asih mencari kunci cadangan kamar Shinta.


Joe pun membuka kamar Shinta dengan kunci cadangan. Dan terbukalah kamar itu. Joe mengedarkan pandangannya. Mencari sosok Shinta. Shinta tak ada. Joe mendengar suara gemericik dibalik pintu kamar mandi.


Joe menutup pintu kamar Shinta. Duduk di sofa. Ia menunggu Shinta selesai dari kamar mandi.


Betapa terkejutnya Shinta saat melihat Joe dengan santai nya berbaring di sofa sedang memainkan ponselnya.


"Hei Honey ku. Sudah selesai?" Joe meletakkan ponselnya di nakas. Kemudian menyilangkan kakinya. Menunggu reaksi Shinta selanjutnya.


"Ngapain disini?"


"Aku mau bicara. Cepat ganti bajumu. Jangan sampai aku me...."


"Stop! Jangan harap ya!' Shinta sebal. Ia membuka lemari dan mencari baju ganti. Masuk kembali ke kamar mandi.


Joe tersenyum penuh arti. Melihat wajah Shinta yang manyun itu sungguh hiburan yang menyenangkan.


Shinta melangkah mendekati Joe. duduk disamping Joe.


"Katakan Apa maumu Mas?" suara Shinta ketus. Seenaknya masuk kamar perawan. Dasar!


"Kau lupa punya hutang pada ku Honey?" Suara Joe mulai sinis. Nadanya tidak suka. Shinta melupakan hal sepenting itu. Apa Joe dihidupnya tak berarti apa-apa?


"Soal apa?" Shinta menoleh menatap Joe lekat. Hutang apa coba?


"Huh! Hutang jawaban yang kemarin. Kau lupa? Kau belum menjawab." Joe kesal. Benar kan dia melupakan pernyataan cintanya waktu itu. Ia ingin mempertahankan rumah tangga ini.


"Oh soal itu. Kau ingin tau sekali ya?" Shinta sengaja membuat Joe semakin penasaran. Suaranya terdengar santai menanggapi Joe.

__ADS_1


"Jangan menguji kesabaran ku." Joe melengos.


"Iya iya bule galak!"


"Sebutan macam apa itu? Jawabanmu apa? Jangan buat aku marah ya? Kau tau kalau aku marah bisa apa."


"Memangnya bisa apa? Jangan mengancam ku ya. Aku tidak akan jawab kalau kau melihatku seperti itu."


"Sekarang mulai berani ya? Mau aku makan?"


"Ya sudah kalau tidak mau mendengar jawabanku. Keluar sana." Shinta mau berdiri. Seketika lengan Joe meraih tangan Shinta. Menariknya kuat sampai Shinta terjerembab ke dada bidang Joe. Joe menyeringai.


"Jangan harap kau akan ku lepaskan." Bisik Joe ditelinga Shinta. Oh my... Jantung Shinta mulai tak karuan. Niatnya membuat Joe agar lebih lembut padanya malah semakin menggila. Shinta salah perhitungan.


Aku benar-benar belum mengenal siapa dia. Bagaimana aku bisa menjawab pernyataan cintanya.


Shinta menutup mata. Ia hanya bisa ******* kaos yang dikenakan Joe. Sekian detik berlalu Joe tak melakukan apapun. Eh? Shinta mulai kembali kesadarannya. Joe tak bergerak. Hanya saja ia juga tak melepas pelukannya.


"Apa?" tanya Joe memiringkan kepala menatap Shinta.


"Lepaskan aku Mas."


"Tidak. Jawab dulu."


"Memangnya aku bisa menjawab kalau kau pegang seperti ini?"


"Kenapa tidak bisa? Jawabannya ada dibibir ini kan?" Joe menyentuh bibir Shinta. Menambah rasa gugup yang menyatu dengan detak jantung yang semakin kencang.


"Iya iya."


"Itu jawabannya?"


"Bukan! Maksudku...."


"Aku anggap itu jawabannya." Joe memotong cepat.


"Hei, jangan seenaknya Tuan Jonathan!" Shinta menghentakkan tangannya di dada Joe. Ia gusar karena bukan itu yang ia ingin ucapkan. Joe tergelak. Lucu sekali, sumpah!


***


terima kasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote ya


nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya


peluk cium DevaNurAna

__ADS_1


__ADS_2