Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Hari Yang Buruk


__ADS_3

Selamat membaca


***


Maaf Bu. Aku tidak bermaksud berbohong. Aku hanya ingin mempertahankan ketenangan ku dalam belajar disini. Hanya sampai sekolah ini selesai. Hanya tinggal beberapa bulan lagi. Oh Tuhan, tolong aku. Jangan sampai semua orang tau. Aku mohon, batin Shinta.


Shinta melangkah keluar dari ruang BP tersebut. Berjalan gontai menuju kelasnya. Ia sesekali melirik kanan kiri dengan ekor matanya. Tampak banyak adik kelas yang sedang berkumpul didepan kelas seperti ia baru masuk tadi. Obrolan mereka terhenti kala melihat Shinta yang sedang berjalan melewati tempat mereka.


Mereka menatap Shinta penuh kebencian dan seperti barang menjijikkan. Shinta tak mengindahkan tapi ada rasa yang sulit diungkapkan bila sudah dipandang seperti itu. Itu sangat tidak nyaman baginya. Apa arti tatapan itu? Sesorang datang menghampiri Shinta. Mungkin karena keingintahuannya yang besar sehingga adik kelas itu dengan angkuhnya berjalan menghampiri Shinta.


"Mbak Shinta, aku mau tanya ada hubungan apa kamu sama Tuan Jonathan?" tanya adik kelas itu dengan menyilangkan tangan di dada dan tanpa basa - basi.


Tidak punya sopan santun. Shinta


"Apa maksudmu?" tanya Shinta sedikit sinis.


"Aku tuh member di GYM-nya tuan Jonathan. Aku lihat mbak Shinta ini diantar jemput olehnya. Sepertinya mbak Shinta ini dekat dengannya." jelasnya dengan nada tidak suka.


"Terus?"


"Aku suka sama dia. Bodoh banget sih?"


"Cih! Bocah ingusan sepertimu mau menggoda om-om? Kejarlah! Semoga kau berhasil." Shinta melangkah pergi tanpa menghiraukan adik kelas itu yang jengkel mendengar jawaban Shinta.


Shinta menghela nafas kasar. Sejak kapan ia bisa bersikap seperti itu. Sok angkuh dengan bahasa kasar sekali. Ini bukan dirinya.


Apa aku keterlaluan? Aku cuma ingin melindungi diriku. Aku tidak mau dipandang rendah dan penakut lagi.


Shinta menapaki anak tangga untuk naik ke kelasnya. Ia melihat Reno yang menuruni tangga. Teman satu kelasnya yang menyatakan cinta tempo hari.


"Shin," sapanya. Tatapan matanya seperti ada semburat kecewa.


"Ada apa?" tanya Shinta.


"Apa benar yang dikatakan Santi itu? Kau..."


"Terserah kau saja Ren. Aku tidak memaksamu percaya padaku. Permisi." Shinta kesal. Ia harus menghadapi orang-orang yang menanyakan hal seperti itu. Sungguh tidak penting untuk ditanggapi.


"Sepertinya kau sudah berubah Shin," kata Reno.


"Orang itu semakin hari umurnya bertambah, kalau tidak berubah, itu artinya dia bodoh!" Suara Shinta ketus. Ia lalu melengos meneruskan langkahnya menuju kelasnya.


Reno hanya terpaku dengan apa yang dikatakan Shinta. Memang Shinta sudah berubah. Bukan Shinta yang dulu lagi. Lihatlah gayanya bicara, sangat ketus dan angkuh.

__ADS_1


***


Pelajaran hari ini selesai dengan cepat. Semakin hari semakin banyak saja latihan - latihan soal. Shinta memijat kepalanya pening. Sebanyak ini hanya untuk satu mapel. Gila! Shinta menggigit bibirnya. Ia seperti tidak yakin menyelesaikan tugas - tugas ini. Shinta geleng - geleng kepala melihat setumpuk fotokopian yang sudah diberikan oleh guru mapel untuk di kerjakan sebagai latihan dirumah.


Shinta memasukkannya di dalam tas. Tak ada guannya dilihat terus. Mending segera pulang saja.


Anin menyuruh Shinta menunggunya. Anin bilang ke kamar mandi sebentar. Shinta memutuskan mengecek ponselnya. Ia melihat ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.


Sama sekali tidak penting. Shinta mengacuhkan nomor itu. Namun ternyata nomor tidak dikenal itu kembali memanggil.


Dengan sedikit gusar, Shinta mengangkat telfon itu.


"Siapa ini?" suara Shinta terdengar ketus. Sangat menganggu waktu istirahatnya.


"Honey, kau tak mengenali suaraku?"


"Oh kau. Ada apa mas?"


"Hanya ingin mendengar suaramu."


"Bisa tidak bicara hal yang lebih penting?" ketus Shinta.


"Maaf Honey, aku masih banyak kerjaan jadi tidak bisa menjemputmu hari ini."


"Tidak masalah." ketus Shinta.


"Terserah. Sama sekali bukan urusanku." Shinta menggigit bawah bibirnya kesal.


"Kau kejam sekali Honey. Daren akan menjemputmu ya. Maaf untuk hari ini saja Honey." Tut.


Kenapa dia harus tanya dulu. Terserah dia mau apa? Dia bahkan tak menghargai keputusanku. Aku kesal padanya. Tidak bisa mendengarkan aku sedikit saja.


"Hei kenapa cemberut begitu?" tanya Anin mengagetkan Shinta.


"Eh? Tidak apa-apa."


"Ini roti isi buat kamu."


"Makasih Nin. Katanya dari toilet kok bawa roti isi?


"Ya tadi mampir kantin."


"Lain kali aku akan mentraktirmu. Hehe."

__ADS_1


"Bener ya? Aku menantikan itu." Mereka menenteng tas, kemudian keluar bersama.


Shinta dan Anin mengobrol banyak hal, sampai tak terasa sampai di depan gerbang. Revan sudah didepan gerbang menunggu Anin.


Shinta melambaikan tangan untuk Anin melihat sahabatnya itu sudah pergi bersama Revan. Sekarang tinggal Shinta sendiri dipinggir jalan depan sekolahnya. Menanti jemputan.


"Cupu," panggil seorang dibelakang. Shinta pun menoleh cepat. Seseorang yang tidak ingin ia lihat bahkan sapa.


Kenapa hari ini hari ku buruk sekali? batin Shinta menggerutu.


Shinta tak menjawab sapaan itu. Dia balik badan dan menengok kanan kiri siapa tau mobil Joe sudah nampak di kejauhan.


"Hei cupu! Apa kau sudah bosan hidup? Lihat kelakuanmu padaku, kurang ajar sekali." Amelia sepupu Shinta itu mendekat berdiri disamping Shinta.


"Kenapa? Aku pikir kita tak sedekat itu untuk bicara dengan akrab dan sopan." ketus Shinta. Menyilangkan tangannya. Enggan bicara.


"Wah wah sinisnya anak ini. Sekarang sudah berani ya? Merasa sudah besar sekarang berani pada ku." Amelia terkejut dengan apa yang ia dengar. Tak biasanya Shinta bicara dengan nada seperti itu.


"Pergilah. Moodku sedang buruk sekarang."


"Beraninya mengusirku! Dasar masih kecil sudah menikah, makanya sikap dan sifatmu kurang ajar karena pengaruh buruk dari dia. Sudah tidak punya adap ketimuran. Jangan harap hidupmu akan bahagia bersamanya karna dia hanya menipumu. Dia hanya ingin menguasai perusahaan milik orang tuamu. Aku heran kau malah percaya padanya bukan percaya pada ayahku. Kualat kau pada ayahku yang sudah baik padamu." suara Amelia membuat telinga Shinta panas. Hampir saja Shinta ingin mendorong tubuh Amelia itu.


Namun akal sehatnya masih berfungsi. Tak perlu meladeni Amelia ini. Deru suara mobil Joe mendekat, berhenti tepat didepan Shinta. Tampak Daren keluar dari mobil menghampiri Shinta.


"Apa ada masalah nona?" tanya Daren. Matanya tajam memperhatikan sepupu Shinta disampingnya.


"Tidak pak. Mari kita pulang." Shinta tak menoleh sedikitpun.


"Baik nona." Daren menunduk hormat, membukakan pintu belakang. Mempersilahkan Shinta untuk masuk.


Shinta sudah berada di dalam mobil. Menunggu Daren menjalankan mobil itu.


"Sebaiknya nona Amelia berhenti menganggu nona Shinta. Karna kalau sampai tuan Jonathan tau, anda akan habis. Atau ayah anda tercinta bisa didepak langsung dari perusahaan. Permisi." Daren menundukkan kepala. Kemudian masuk mobil.


Mobil melesat dengan cepat membuat debu berterbangan ke udara.


"Dia tau siapa aku? Bisanya cuma mengancam. Dasar." gumam Amelia heran.


***


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa like komen tip dan vote ya

__ADS_1


Nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya


Peluk cium DevaNurAna


__ADS_2