Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Mengejutkan


__ADS_3

Selamat membaca ^_^


***


Mbak Asih masuk ke kamar Shinta dengan senampan makanan dan susu hangat untuk nonanya.


Joe dengan sigap menerima nampan itu. Menaruh dipangkuannya. Joe bersiap menyuapi Shinta. Shinta makan suapan demi suapan dari Joe. Joe nampak telaten menyuapi Shinta.


"Bocah manja! Makan saja harus dibujuk. Harus disuapi. Huh!" gerutu Joe.


"Kamu memaksa. Aku kan bilang nggak mau!" Shinta mendengus. Selalu saja bikin emosi orang.


"Jangan lupa minum susu hangatmu." kata Joe. Sambil menyuapi sendok terakhir yang dipegangnya.


"Mas, apa kamu di Amerika punya pacar?" tanya Shinta tiba - tiba.


"Kenapa bertanya soal itu?" Joe tak ingin menanggapi. Joe memberikan susu hangat. Agar Shinta segera meminumnya. Tapi Shinta hanya memegangnya saja.


"Jawab saja. Kenapa malah balik tanya." Shinta kesal. Sudah tau kalau Joe akan membuatnya emosi tapi ia malah penasaran dengan kehidupan Joe. Laki - laki didepannya ini sangat tampan. Mana mungkin tidak punya kekasih.


"Ya, aku punya." jujur Joe. Menatap mata Shinta yang juga menatapnya dengan sendu. Ia tersenyum kecut.


"Apa dia cantik?" tanya Shinta lagi. Matanya menatap Joe lekat. Seperti ingin memastikan.


"Haha tentu saja. Sangat cantik." Joe tertawa. Apa maksudnya bocah ini?


"Kau mencintainya?" Shinta masih bertanya. Membuat emosi Joe naik.

__ADS_1


"Jangan tanya lagi. Sudah habiskan minumanmu!" kata Joe sedikit berteriak.


"Kenapa kau ini? Selalu saja berteriak. Aku nggak tuli tau!" Shinta marah.


"Karna kamu cerewet."


Shinta melotot. Cih! Dasar bule gila! Selalu saja marah - marah.


Shinta meminum susunya sampai habis. Kemudian meletakkan di nampan. Joe membawa nampan keluar dari kamar. Menuruni tangga. Kemudian sampai meja makan. Ia meletakkan nampan itu disana.


"Kenapa bocah itu ingin tau kekasihku? Apa dia...  cemburu?" gumam Joe.


***


Shinta menatap langit - langit kamar. Matanya belum juga ingin terpejam. Berguling ke kanan dan ke kiri. Menentukan posisi nyaman untuk tidur. Tapi nyatanya dia belum terpejam juga.


Mas Joe punya kekasih. Dia bilang kekasihnya sangat cantik. Pasti dia sangat mencintainya. Beruntung sekali. Suatu saat Mas Joe pasti akan kembali kepada kekasihnya.


Shinta berusaha melupakan baik perasaannya pada Kenzo dan Joe. Tak ada untungnya mencintai salah satu dari mereka. Sudah tidak ada harapan. Lebih baik melupakan sebelum perasaan itu tumbuh lebih besar.


Tring. Ponsel Shinta berbunyi. Ada telfon. Ia melihat tak ada namanya. Berarti ia tak kenal dengan nomor itu. Tapi benda itu terus saja berbunyi. Dari nomor yang sama. Akhirnya Shinta mengangkat telfon itu.


"Hallo, siapa ya?" tanya Shinta dengan malas.


"Hallo. Ini aku Rendra Shin. Temannya Kenzo. Tadi kita ketemu dikantin." suara disana nampak riang.


Shinta nampak mengingat.

__ADS_1


"Oh, Mas Rendra. Ada apa mas?"


Setiap ada Kenzo disitulah Rendra. Rendra anak yang ramah dan humoris menurut Shinta. Beberapa kali Shinta mendengar obrolan mereka yang seru. Tapi Shinta hanya pengagum rahasia Kenzo. Jadi tak begitu memperhatikan Rendra. Pada kenyataannya Aninlah yang lebih dekat dengan Kenzo.


"Nggak ada apa - apa kok. Kamu lagi apa? Sibuk nggak?" tanya Rendra.


"Nggak kok mas. Mas Rendra kok tau nomor ponselku dari siapa?" tanya Shinta penasaran.


"Dari Anin. Maaf ya aku nggak minta langsung sama kamu. Soalnya..." kata - kata Rendra menggantung. Ragu - ragu. "Soalnya tadi kamu keburu ke toilet sih. Aku jadi nggak bisa tanya langsung. Nggak papa kan?" tanya Rendra hati - hati. Takut Shinta terbebani.


"Nggak papa kok mas. Santai saja," Shinta tak ada masalah soal itu.


"Ya udah. Jangan lupa save ya. Sampai jumpa besok."


"Ya, dah..." tut. Sambungan terputus.


Mas Rendra? Kenapa dia menghubungi aku ya? Tumben sekali, Shinta.


***


Terima kasih sudah membaca ^_^


jangan lupa like komen dan vote ya


nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya


peluk cium DevaNurAna^_^

__ADS_1


__ADS_2