
Selamat membaca
***
Di sebuah restoran mewah. Acara temu keluarga digelar. Rendra Mahardika sebagai pemeran utama dalam pertemuan keluarga ini tampak biasa saja. Tanpa ada rasa gugup ataupun gelisah. Ia hanya terkejut bukan main. Ia sama sekali tidak tau kalau acara yang dimaksud Ibunya adalah acara pertunangannya sendiri. Acara ini sama sekali tidak melibatkannya, bahkan Rendra hanya mendengar kalau temu keluarga biasa. Tidak disangka malah sudah disiapkan cincin untuk mereka bertunangan.
Ia tak peduli tentang kedua keluarga yang sangat bahagia dengan pertunangan kedua pemeran utama ini. Rendra sebenarnya sangat kesal.
Meski cincin sudah di sematkan dijari Risya, perasaan Rendra sama sekali tak goyah. Pikirannya nampak kosong. Seperti boneka yang akan menuruti kata-kata pemiliknya. Ia memang pandai menyembunyikan amarahnya.
Ia bukannya tidak punya harga diri. Namun, ia juga tak bisa melakukan apapun. Membatalkan ditengah acara begini juga akan berdampak sangat buruk. Sudah sejauh ini ia melangkah. Sudah terlanjur begini ia hanya bisa mengikuti acara ini sampai selesai.
Nama keluarga yang ia pertahankan. Hanya demi nama baik. Ia tak mampu berkomentar banyak. Membatalkan pertunangan ini? Sama saja bunuh diri. Ayah dan ibunya pasti akan sangat kecewa.
Entah ini benar atau salah. Ia tak ingin juga menyakiti Risya. Risya pun sudah tau bagaimana perasaan Rendra terhadap dirinya. Sama sekali tak ada rasa cinta. Si keras kepala Risya yang bilang cinta mati itu, membuatnya semakin terpojok.
Apalagi keluarga Rendra sudah sangat akrab dengan Risya yang mudah membaur. Risya bukanlah gadis biasa. Ia tipe ideal semua laki-laki di muka bumi. Wajahnya cantik, ia juga pandai merebut hati anggota keluarga Rendra. Sialnya Rendra tak bisa menegaskan kalau hubungan mereka bukanlah hubungan asmara.
Acaranya sudah hampir selesai. Risya nampak bergelayut manja di lengan Rendra. Ia tak memperdulikan wajah Rendra yang risih dengan kelakuan Risya. Risya memang sangat gembira. Malam ini adalah malam yang sudah lama ia tunggu. Selangkah lagi, batinnya.
"Rendra, kami pulang dulu ya. Kalian bersenang-senang lah sebentar lagi. Ini malam kalian. Risya, Tante tinggal dulu ya." kata Ibu Rendra lembut.
"Iya Tante. Hati-hati Tante, om." jawab Risya riang. Rasa bahagianya tak bisa ia lepas. Sangat bahagia bisa memiliki seorang Rendra. Dokter muda yang tampan.
__ADS_1
Setelah semua pergi dari hadapan, Rendra melepaskan tangan Risya.
"Lepas!" katanya kasar.
"Apa sih? Ren, kenapa?" tanya Risya tidak mengerti. Bukannya hubungan mereka sudah semakin dekat karna pertunangan. Kenapa Rendra marah begitu. Tidak suka ya bilang saja. Tak perlu membentaknya di tempat umum begini. Rasa bahagia yang tadinya membuncah kini seperti gelas yang dibanting ke lantai. Risya seakan sadar kalau perasaan Rendra takkan berubah sedikit pun meski ia sudah bertunangan. Padahal tadi tidak menolak saat orang tuanya menyuruh tukar cincin, batin Risya.
"Aku tidak suka." Rendra marah. Rendra seakan muak dengan acara yang sudah selesai digelar tadi. Bukan ia yang menginginkan, tapi tubuhnya tak bisa menolak.
"Tapi kan kita..." Risya sedikit kecewa. Rendra sama sekali tidak mengerti perasaan Risya yang bahagia dan meluap ini karna bisa bertunangan dengan Rendra. Hati Rendra masih tetap dingin untuknya. Kenapa segitu batunya hati seorang Rendra.
"Kita memang sudah bertunangan, tapi jangan harap perasaanku ke kamu akan berubah juga." tegas Rendra. Rendra berjalan tanpa mempedulikan Risya yang tergopoh menyamai langkahnya yang cepat.
Risya menarik lengan Rendra. Diparkiran yang sepi disebelah mobil Rendra, Risya berteriak "tapi kenapa? Jelaskan! Kurang apa aku? Aku nggak ngerti" Risya meluap. Dia kesal sekali. Sudah beratus kali ia mencoba mendekati Rendra. Tapi pada titik ini pun dia masih saja kalah. "Katakan saja Ren, aku akan dengarkan. Apa karna mantanmu?" Risya menatap nanar. Menunggu jawaban. Tak pernah sekali pun Rendra menjelaskan kenapa ia tak bisa mencintai Risya. Padahal Risya sudah sangat berusaha dekat dengan keluarganya dan perhatian pada Rendra.
"...." Rendra membuka pintu mobil. Tak ingin menjawab juga pertanyaan Risya. Ia duduk didepan kemudi.
Risya belum puas dengan diamnya Rendra, Risya berdiri di samping mobil sambil menghentakkan kakinya ke lantai ia berkata "jelaskan! Aku mohon! Apapun!" Kali ini Risya sedikit mengiba. Air matanya tumpah. Kenapa nasibnya harus jatuh cinta pada seorang lelaki berhati es seperti Rendra. Bahkan untuk menjelaskan kata mantan dimatanya tidak bisa. Pasti sesuatu yang berat terjadi dengan Rendra. Bahkan Risya tak bisa menggantikan posisi mantan dihati Rendra. Apapun penjelasan Rendra, akan memberi sedikit saja pencerahan untuk Risya
"Risya, aku sudah bilang padamu untuk mengakhiri ini semua. Tapi kau masih nekad untuk melanjutkannya. Apa yang ingin kau dapat dariku? Tidak akan ada bedanya." jelas Rendra. Nadanya datar. Ia menghela nafas lagi. Memegang tuas kemudi dengan erat. Ia menahan sesuatu, namun tak ingin ia ungkapkan.
"Kenapa tidak kau hentikan saja tadi. Ha? Alasannya apa kamu nggak mau sama aku? Apa aku tak bisa sebaik mantanmu?" Nada Risya bergetar. Ia masih menahan tangis.
"Hentikan!" Rendra turun dari mobil. Meraih tangan Risya ke samping mobil. Ia membukakan pintu mobil supaya Risya bisa duduk didalam. Kemudian ia duduk kembali di kursi kemudi.
__ADS_1
"Ren, kenapa kau kejam sekali? Apa salahku? Benar ini karna mantanmu?" Risya menunduk sambil bergumam. Siapa mantan Rendra. Risya semakin penasaran. Bertanya terus agar Rendra mau menjawab keingintahuan Risya.
Rendra menghela nafas lagi. Ia memegang tuas kemudi dengan erat. Mau jelaskan bagaimana? Itu kenangan buruk baginya.
"....."
Rendra sama sekali tidak iba melihat Risya yang sedih dibuatnya.
"Aku pikir kau sedikit punya hati. Aku memang salah menilai mu. Kupikir kau akan berubah karna aku sudah dekat dengan keluarga mu. Tapi nyatanya kau tetap dingin. Tapi setidaknya kau pertimbangkan perjuanganku untuk mendapatkan mu." gumam Risya.
"...."
Rendra mendengar tawa kecewa. Tawa putus asa. Cih!
"Tapi biarlah. Sudah sampai sejauh ini, apa boleh buat. Haruskah aku maju atau mundur? Sia-sia saja." gumam Risya lagi tanpa sadar.
"Hapus air matamu. Aku tidak suka melihatnya." Rendra menyodorkan sekotak tisu didepan Risya. Memutar kunci mobil dan menjalankannya perlahan.
***
terima kasih sudah membaca
jangan lupa like komen tip dan vote ya
__ADS_1
peluk cium DevaNurAna