
Selamat membaca^_^
***
Ruang eksekutif itu tampak hening. Suasananya nampak gelap karena penampakan Joe yang tengah gusar. Ia sedang menahan amarahnya. Kenapa ada kesalahan dibawah kepemimpinanya. Siapa yang berani menjatuhkannya. Padahal proposal sudah dibuat Daren dengan sangat baik terperinci dan saling menguntungkan kedua belah pihak. Namun pihak pesaing malah yang mendapatkam tender itu. Sialan!
"Buat perusahan itu berlutut padaku! Aku benci kecurangan ini." Joe berteriak.
"Baik tuan." Daren hanya bisa mengiyakan. Bagaimana Daren membuat perusahaan itu jatuh? Daren berfikir sambil memijat kepalanya. Tuan mudanya memang selalu seenaknya. Tapi ini keterlaluan. Memangnya bisa menjatuhkan perusahaan dalam satu malam? Itu gila!
Daren minta undur diri untuk kembali ke ruang kerjanya sendiri. Menunduk hormat, kemudian keluar dari ruang petinggi itu yang rasanya ingin mencekiknya.
Daren menutup pintu itu pelan agar Joe tak merasa terganggu karena derit suara pintu ditutup.
Daren melihat sesorang laki - laki memakai kacamata hitam didepan meja Nana. Perawakannya tinggi semampai persis seperti tuan Joe. Rambutnya coklat namun keriting. Kulitnya putih bersih. Lebih putih dari pada tuan Joe. Siapa kah dia? Daren menmicingkan matanya mengamati.
Nana nampak bingung menjawab setiap pertanyaan dari bule itu.
Daren menghampiri mereka. Siapa tau memang laki - laki itu sesorang yang dikenal tuannya.
"Ada apa Nana?" tanya Daren.
"Tuan ini ingin bertemu dengan tuan Jonathan pak." jawab Nana.
"Kenapa masih disini? Kenapa tidak menghubungiku?"
"Maaf pak." Nana menunduk takut.
"Hai I'm Justin. I'm Joe's cousin. Can I meet him now?" tanya bule itu dengan suara renyah. Ia sungguh terlihat lebih bersahabat dari pada Joe.
"Of course Mr. Justin. Let's Follow me."
Daren membuka pintu ruang direktur utama itu. Mengedarkan padangan pada sosok Joe yang duduk di sofa menyandarkan kepalanya yang pening.
"Maaf tuan. Ada tamu untuk Anda."
Joe terpengarah. Matanya memicing menusuk. Ia sedang kesal begini, siapa yang berani menganggunya. Daren mempersilahkan Justin untuk masuk. Kemudian Daren menutup ruang direktur itu dan kembali ke tempat kerjanya.
"Justin?" Joe hampir tak percaya dengan penglihatannya. Sepupunya ini mengunjunginya. Ini mimpi atau nyata?
__ADS_1
"Hai bro! How are you?" sapa Justin dengan langkah santai. Ia langsung berhambur duduk disamping Joe.
"Haaaahhhh sialan! Kenapa kau bisa datang kemari?" Setelah sekian detik terpana dengan penampakan Justin yang sama sekali tidak berubah.
"Kenapa tidak bisa. I can do anything. Tadi pagi aku ke tempat GYM mu tapi kau tidak ada. Aku tanya Andi. Haahh... Kau tau susah sekali membujuk orang tua itu berkata tentang keberadaanmu? Sama menyebalkan dengan uncle Andrew. Dia bahkan tidak memberi alamat rumahmu."
"Jangan kurang ajar! Beliau itu daddyku." Joe memukul bahu Justin pelan.
"Ya ya aku tau." Justin menyandarkan kepalanya. Lelah.
"Ada apa kau kemari? Kangen padaku?" Joe bertanya dengan sinis.
"Tentu saja. Disana tak ada kau sepi."
"Cih! Kau membual membuatku muntah saja."
"Haha... Padahal sudah hampir tiga tahun tidak bertemu kau masih galak saja. Hei kau tak ingin mengenalkanku pada istrimu? Kata aunty kau menikah disini. Kau kabur kesini terus menikah? Hebat sekali kau Joe!"
"Apa yang hebat? Aku sungguh ingin kabur waktu itu. Tapi Daddy memaksaku. Kalau bukan karna aku takut kualat, aku benar-benar kabur."
"Haha... Kau mau menipuku? Sekarang kau bahkan betah disini."
"Wah aku sungguh penasaran sekarang. Ayo kenalkan aku padanya. Aku akan berlutut padanya karna bisa membuatmu tergila - gila seperti ini. Lihat wajahmu makin berseri-seri."
" Haha... Awas kau macam-macam pada istriku."
"Tentu saja tidak. Ia kan kakak ipar ku. Aku harus menyapanya dengan baik kan."
"Hmmm."
"Aku sudah disini. Kau tak ingin mengajakku jalan-jalan?"
"Butuh teman? Kau bahkan bisa mencari sendiri. Dasar kau ini! Tidak berubah sama sekali."
"Come on Bro! Hidup harus dinikmati kan sebelum kau mati?"
"Ya matilah sendiri! Jangan ajak aku. Aku punya istri yang harus ku hidup."
"Alah kau itu alasan saja. Kau benar-benar sudah move on sekarang ya?"
__ADS_1
Joe mendesah. Tau apa yang dimaksud oleh Justin. Ia melempar pandangannya sendu. Memikirkan Carol memang membuatnya membuka luka lama. Dulu ia sangat bodoh tak mendengarkan kata-kata Justin. Sekarang aku bahkan sudah lupa dengan bau parfumnya. Aku sudah tak ingin mengingatnya.
"Dia sudah menikah kan? Untuk apa aku memikirkannya." Hanya itu yang bisa Joe katakan untuk mengalihkan topik memojokkan perasaannya yang sudah lama lenyap.
"Yang aku tau, dia menikah diam-diam dengan wakil direktur perusahaan BB group. Tapi sampai sekarang kabar itu dibantah oleh pihak BB group. Ya tentu saja, wakil direktur itu sudah punya istri. Menyedihkan sekali bukan." jelas Justin prihatin.
"I don't care. Aku sudah muak dengannya."
"Bahagialah kau disini Bro. Aku tau kau layak mendapatkan perempuan baik-baik."
"Tentu saja istriku baik." ketus Joe.
"Hei ayo minum. Sudah lama kita tidak minum bersama."
"Kau tau aku sudah lama tidak minum."
"Ya kau minum yang lain saja. Temani aku minum."
"Tidak. Aku akan segera pulang."
"Sebentar saja."
"Lihat ini. Kau bereskan perusahaan ini. Baru aku akan minum denganmu." Joe melempar sebuah dokumen perusahaan saingannya.
"Kau serius? Wah gila! Kau ingin aku menghancurkan perusahaan ini?" Justin membuka dokumen itu dengan membelalakkan matanya.
"Yes. I trust you. you can do anything, right?"
"Baiklah. Tunggu saja. Pokoknya malam ini kau harus minum denganku." Justin tersenyum penuh arti.
***
terimakasih sudah membaca
jangan lupa like komen tip dan vote ya
nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya
peluk cium DevaNurAna
__ADS_1