Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Putus


__ADS_3

Selamat membaca


***


Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Rendra. Sangat keras sampai terasa di tulang pipi Rendra. Pipinya langsung kemerahan. Tanda tamparan itu sungguh kuat. Rendra tak bergeming. Ia langsung mengangkat kepala agar terlihat bahwa ia tidak merasa bersalah.


"Sudah cukup! Jangan pukul lagi." Ibu Rendra mengiba. Menahan amarah suaminya. Memegang kuat tangan yang akan memukul anaknya itu lagi. Karna ayah Rendra melihat wajah menantang sang anak yang minta dipukul.


"Anak ini sudah mempermalukan aku! Dengan entengnya memutus hubungan seperti itu! Kau pikir ini main-main?!" Ayah Rendra berteriak keras. Mengibaskan tangannya ke udara. Melepas pegangan istrinya.


"Apa ayah pernah bertanya padaku tentang keinginanku? Semuanya selalu perintah ayah! Aku ingin menentukan hidupku sendiri!" tak kalah keras, Rendra pun berteriak didepan ayahnya.


"Apa?! Menentukan apa? Memangnya kau bisa apa? Berani menjawab ayahmu?" Ayah Rendra akan memukul lagi, namun secepat kilat ibunya menghadang.


"Sudah, hentikan." cegah Ibu Rendra.


"Jangan halangi aku untuk memukul dia! Anak kurang ajar!"


"Selama ini semua ayah yang tentukan! Sama sekali aku tidak membantah, tapi untuk pernikahan aku tidak akan menurut pada ayah! Aku ingin tentukan pasanganku sendiri." ucap Rendra tegas. Ia sudah tidak bisa menolerir kelakuan ayahnya yang tidak ia sangka akan nekat membuat acara tanpa sepengetahuan Rendra.


"Oh ya?! Siapa? Apa selama kau jadi dokter di rumah sakit itu punya pacar? Kau tidak pernah sama sekali membawa perempuan ke rumah. Sudah ada perempuan yang baik mau menerima mu malah kau buang begitu saja! Apa kau sudah gila?!" Ayah Rendra memperlihatkan fakta bahwa Rendra tak pernah sekalipun pernah punya hubungan asmara. Sekarang di pikiran ayahnya adalah Rendra sudah waktunya untuk berumah tangga. Sudah ada Risya, tinggal meresmikan saja. Namun bagi Rendra, hubungannya dengan Risya bukan hubungan asmara melainkan paksaan dari kedua keluarga.


Rendra diam. Memang tidak sekalipun terdengar ia punya kekasih, apalagi membawanya ke rumah. Selain Risya yang selalu datang tanpa diundang.

__ADS_1


"Sudah Ayah, Rendra tidak menyukai Risya." Apa boleh buat? Mungkin orang tua Rendra saja yang terlalu berlebihan melihat kedekatan mereka sampai mempersiapkan acara pertunangan tanpa sepengetahuan Rendra. Sudah lima tahun lebih orang tua Rendra mengenal Risya. Selain anaknya baik dan mudah menempatkan diri, ibu dan ayah Rendra juga kagum atas pencapaian gadis cantik itu. Tapi, anak mereka juga ingin menentukan masa depannya sendiri.


"Tidak suka? Kurang apa anak itu? Anak ini saja yang tidak melihat. Apalagi yang ia cari?" masih penuh emosi. Ayahnya berkacak pinggang tidak akan setuju kalau Risya bukan perempuan idaman bagi laki-laki.


"Ayah, hentikan! Aku tidak akan mengubah keputusanku!" Rendra meraih jas putihnya. Membawa langkahnya menuju mobil yang ia parkir didepan rumah. Ia melirik kaca spion. Melihat memar di pipi. Memerah. Terlihat jelas. Kalau ia masuk kerja pasti banyak dokter dan perawat menanyakan tentang pipinya itu. Harus jawab apa?


Sial sekali pagi ini. Sudah mendapat tamparan keras di wajahnya. Tiba-tiba ponselnya berdering tanda pesan masuk.


Reuni Akbar. Angkatan tahun xx. Akan digelar di hold hotel xx tanggal x bulan x tahun ini.


Rendra mengernyitkan dahi. Minggu depan? Ia membaca juga siapa yang menjadi panitia penyelenggara. Disitu tertulis nama Nayla Rahmawati dan beberapa nama yang ia kenal seperti Kenzo dan Reyhan.


Anak-anak OSIS dulu, batin Rendra. Nayla? Apa dia sudah pulang? Ah... Perasaan Rendra berdesir. Nayla? Gadis itu mengingatkannya pada seorang yang tegas dan disiplin. Anak tentara. Ia memang terdidik begitu. Bukan seperti Rendra yang harus ini itu diatur, Nayla memang lahir dari keluarga tentara. Namun, meski kedisiplinan diatur sedemikian rupa dikeluarganya, soal cita-cita dan impian ia dibebaskan. Keluarganya tak pernah menuntut agar Nayla harus juga masuk kemiliteran. Atau pun kepolisian.


Gadis yang pernah menyatakan perasaan cinta padanya, dihari dimana hati dan pikirannya sudah terpaut oleh Shinta.


Sekarang, daripada Risya, Rendra akan lebih memilih Nayla jika perasan Nayla masih sama untuknya. Andai, dulu Rendra tak menolak perasaanya. Apa boleh buat? Toh sekarang keadaannya sudah berbeda.


Risya sama sekali bukan perempuan idamannya. Mungkin dulu ia, sekarang tidak lagi. Makanya Rendra bersikeras menolak perjodohan itu. Gadis itu memang parasnya tak kalah dengan selebgram, namun gayanya yang lemah lembut mengingatkan ia pada Shinta. Kalau ia terus bersama Risya, ia akan merasakan berada didekat Shinta. Sampai kapanpun ia tidak akan bisa mencintai Risya.


Ia berfikir, jika ingin melupakan Shinta, ia harus membuang jauh-jauh pikiran tentang Shinta. Tentang perempuan yang mirip dengannya. Ia harus merubah setiap pikirannya tentang perempuan yang akan mencintai dan dicintainya.


Rendra kembali ke dunianya. Ia coba menekan nomor ponsel seseorang.

__ADS_1


"Ada apa? Gila ya pagi-pagi udah bangunin gue." celetuk suara diseberang sana.


"Kenapa lo nggak ngabarin gue soal reuni? Gue kok gak diajak bahas sih! Lo lupa ya dulu gue juga juga OSIS!" kesal Rendra.


"Haha... Ceritanya iri? Dasar anak kecil Lo! Sorry ya takutnya Lo sibuk." Reyhan cekikikan mendengar omelan sahabatnya.


"Hah? Alasan aja Lo Rey, kampret!"


"Gue beneran mikirin Lo Ren." jijik! Rendra merinding.


"Gila Lo ya!"


"Ya udah, besok datang aja. Temen-temen udah siapin semua kok. Lo tinggal datang aja. Reuni ini juga sama guru-guru kita dulu." jelas Reyhan.


Tut. Dasar Reyhan kampret. Main matiin telfon gue, gerutu Rendra. Kangen juga sama temen-temen. Aku akan datang.


Tak sabar juga ia ingin bertemu dengan Nayla. Setelah wisuda, ia tidak lagi bertemu dengan Nayla. Entah ia bekerja dimana, Rendra sama sekali tidak bertanya. Sudah lima tahun berlalu, pasti semua sudah banyak berubah.


***


terima kasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote ya

__ADS_1


peluk cium DevaNurAna


__ADS_2