Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Rencana I


__ADS_3

Selamat membaca^_^


***


Joe dan Andi datang ke sebuah gedung tinggi berwarna biru. Dengan kaca - kaca besar disemua lantai dari bawah ke atas. Mereka nampak percaya diri. Banyak yang memperhatikan kedatangan mereka. Dari sorot mata mereka ada yang kagum dengan ketampanan Joe dan ada juga yang penuh tanya dan heran. Pandangan mereka tertuju ke lantai atas gedung ini. Tepat dimana ruang direktur utama.


Mereka sampai didepan ruang direktur utama. Sekretaris yang duduk dimejanya menghadang mereka yang ingin langsung masuk ke ruang direktur.


"Maaf tuan, Kalian tidak boleh masuk." kata perempuan berpakaian rapi dengan rok span yang pendek dan wajah yang dirias paripurna.


"Kenapa?" tanya Joe dengan angkuhnya.


"Karna Anda belum membuat janji dengan Pak Direktur, Tuan." kata sekretaris itu dengan lantang.


"Janji? Hubungi dia. Aku datang." kata Joe dengan senyum liciknya. Ia langsung masuk ke ruang direktur itu tanpa mengindahkan sekretaris yang sudah frustasi dengan Joe yang seenaknya ini.


"Cepat hubungi Pak Direkturmu. Kalau Tuan Muda Jonathan Smith datang." kata Andi. Kemudian dia ikut masuk keruang direktur utama juga.


Sekretaris itu tergesa menuju telpon dimejanya. Ia pasti kena masalah kalau tidak bisa menghadapi orang seperti ini. Seenaknya masuk ruang direktur! Siapa namanya tadi? Jonathan Smith?


Sekretaris itu sudah menghubungi direktur utama. Suara direktur sangat terkejut saat sekretaris itu bilang Jonathan Smith datang ke kantornya.


"Paman, aku berkunjung." sapa Joe saat Paman masuk ke ruang direktur. Joe duduk di kursi kebesaran Paman dengan santainya. Memutar ke kanan ke kiri untuk memastikan kenyamanan kursi direktur itu. Andi berdiri disebelah Joe.

__ADS_1


"Ada apa kau sampai datang berkunjung nak? Kenapa tidak menghubungi Paman dulu?" tanya Paman. Matanya melotot menahan geram. Itu kursiku! Seenaknya kau duduk disinggasanaku. Tidak punya sopan santun!


"Apa keponakan Paman ini tidak boleh berkunjung?" jawab Joe dengan wajah polos bak raja drama. Dia memang pandai bersandiwara.


"Tentu saja boleh. Silahkan mampir kapan saja kau mau. Tapi hubungi paman bila kau datang agar paman ada ditempat." Paman tersenyum manis. Meski hatinya sudah gusar. Namun Paman tak bisa apa - apa. Investasi besar dari Joe sungguh menyelamatkan perusahaan ini.


"Baiklah Paman. Kursi Paman nyaman sekali. Saya suka duduk disini. Tidak apa - apa kan paman?" Joe tersenyum. Tapi paman sudah tak ingin melihat tingkah Joe yang kekanakan.


Paman diam. Ingin sekali mengusir Jonathan tapi ia juga tak bisa seenaknya dengan Jonathan ini. Apalagi Paman juga sudah memberikan kepemilikan saham 30 persen.


"Paman, kapan rapat pemilik saham? Aku ingin hadir. Tolong besok adakan rapat ya Paman?"


Ini bertanya atau menyuruh? Sialan anak ini! Paman.


"Lihatlah ini." kata Andi yang sedari diam membuka suara. Ia menyerahkan beberapa dokumen.


"Apa ini?" tanya Paman heran. Paman tak mendengar jawaban. Hanya sorot mata yang menyuruh Paman untuk membuka dokumen itu. Paman terkejut. Dokumen itu berisi surat kepemilikan saham atas nama Raditya.


Paman terbelalak karna surat kepemilikan itu tidak ada dimanapun saat Paman mencari. Kenapa Joe punya surat ini?


"Ini palsu!"


"Paman bisa pastikan keasliannya di bursa saham."

__ADS_1


"Kau tak bisa melakukan ini! Kau ingin menipuku?" Paman sungguh marah. Matanya melotot dan wajahnya tampak merah.


"Tidak Paman. Aku hanya ingin mengembalikan apa yang seharusnya istri saya dapatkan."


"Haha... kau ingin aku percaya?"


"Tidak masalah Paman tidak percaya."


"Sebenarnya kau sendiri yang ingin menguasai perusahaan ini kan? Jujur saja." Paman bergelak lagi sangat keras. Anak kecil! kau tak bisa menipuku!


"Kekayaan Tuan Besar bahkan bisa membeli sepuluh perusahaan kecil seperti ini." Andi berdecak.


Sial! Aku dijebak. Paman


***


Terima kasih dah baca ya ^_^


Aku tunggu like, komen, tip dan vote


Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya


Peluk cium DevaNurAna^_^

__ADS_1


__ADS_2