Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Kencan Pertama Part 1


__ADS_3

Selamat membaca^_^


***


Siang ini Shinta malas pulang. Baru juga sehari ditinggalkan Joe pulang ke Amerika Shinta sudah kepikiran.


Huft. Sudahlah! Dia kan menemui pacarnya. Berharap apa aku ini? Jangan mimpi Shinta! Ingat dia bilang apa kemarin? Dia bilang dia hanya kakak, bukan suamimu, Shinta membatin sedih. Ada rasa ngilu di dadanya mengingat perkataan Joe.


Shinta sudah selesai membereskan buku pelajarannya. Anin sudah minta diri untuk pulang dulu.


Tadi pagi, Andi mengantarnya berangkat ke sekolah. Shinta minta ijin untuk pergi ke toko buku. Shinta bilang tidak perlu dijemput karna ia akan lama.


Ini hanya alasan saja sebenarnya. Shinta hanya tak ingin cepat - cepat pulang. Toh dirumah tak ada Joe. Jadi ia merasa tak perlu cepat - cepat pulang juga. Si tukang mengatur kan tidak ada, jadi tidak apa-apa kan kalau Shinta refreshing sedikit saja.


"Hai Shin. Mau pulang?" sapa Rendra dengan senyum manis. Dia berdiri diambang pintu. Menyilangkan tangan didadanya. Ia bersandar keren di daun pintu.


"Iya mas." jawab Shinta singkat. Shinta menghampiri Rendra di pintu dan melangkah keluar dari kelas. Diikuti Rendra disampingnya.


"Kamu dijemput hari ini?" tanya Rendra menjajari langkah Shinta menuju gerbang sekolah.


"Tidak mas. Aku sudah ijin mau beli buku mas hari ini." jelas Shinta.


"Kenapa? Jonathan nggak jemput kamu?" tanya Rendra penasaran.


"Dia pergi ke Amerika mas kemaren."


"Shin, maaf sebelumnya nih. Sebenernya Jonathan itu siapa? Pacar kamu?" Rendra menggaruk kepalanya. Konyol! Kenapa tanya? Mulutku gatel sekali dari tadi. Sial!


"Bukan," kata Shinta lirih.


"Baguslah."bisik Rendra


"Baguslah? Kenapa mas?" tanya Shinta polos.


Ya aku bisa dekat sama kamu. Hehe


"Maksudku kali aja dia itu pacar kamu. Kan aku bisa dibikin pepes ikan kalau aku deketin kamu." Rendra terkekeh. Ingin rasanya loncat - loncat saat itu juga sangking senangnya mendengar jawaban Shinta. "Aku anterin ya Shin?"


Shinta mengangguk. Rendra kenapa aneh begitu. Kalau mas Rendra tau kalau mas Joe itu suamiku bagaimana ya? Pasti dia brfikir buruk tentangku. Entah sejak kapan ya aku dan dia jadi dekat begini? Shinta membatin menatap laki - laki ramah disampingnya ini.

__ADS_1


Mereka sampai parkiran. Shinta menerima helm dari Rendra. Dipakainya helm itu yang pas dikepala Shinta.


"Tenang saja. Kamu perempuan pertama yang pakai Helm ini." jelas Rendra tersenyum manis.


"Hah? Memang biasanya siapa yang pakai mas?" tanya Shinta heran.


"Biasanya Reyhan yang sering pakai sih. Hehe... Ayo naik!" Rendra sudah bersiap menyalakan mesin motor. "Kita cari makan dulu ya Shin,"


"Iya mas," Shinta ikut saja. Tak apalah sekalian menenangkan pikirannya.


Anggap saja kencan pertama, Rendra.


Rendra senang sekali hari ini bisa mengajak Shinta jalan. Ini kemajuan cinta namanya.


***


Mereka mampir di kedai bakso yang terkenal bikin kangen pengunjung. Memang selain rasanya enak dan kuah bakso yang mantap, kedai bakso ini juga pas dikantong anak muda. Cocok sekali untuk acara kumpul - kumpul selain untuk mengganjal perut. Secara disini juga ada free wifi. Cocok sekali kan dengan tempatnya yang dekat dengan area sekolah.


Shinta menyeruput teh panas pesenannya. Mereka masih menantikan bakso yang mereka pesan. Disini kalau jam pulang sekolah pasti ramai. Banyak anak - anak dari sekolah lain datang kesini.


Shinta mengedarkan pandangannya keseluruh pojok ruangan kedai bakso ini. Ramai sekali. Banyak anak - anak sekolah dan orang biasa juga. Untung saja tidak ada yang satu sekolahan dengan Shinta. Kalau tidak, besok akan jadi gosip ter-hot di sekolahnya. Dengan judul seorang anak kelas satu yang jalan dengan Rendra Mahardika. Bisa jadi satu sekolah mengucilkan Shinta dan ber cie cie ria didepannya. Sebagai buah bibir itu sangat tidak nyaman.


"Shin, tau nggak aku pertama kali lho kesini bareng cewek." kata Rendra mulai serius.


"Serius. Kamu yang pertama."


Wajah Shinta merasa panas. Bukan karna teh itu yang masih panas. Tapi kata - kata Rendra yang nampak serius. Shinta jadi salah tingkah.


Kenapa sih dari tadi dia seperti merayuku? Ini perasaan ku saja atau memang bener ia suka padaku? Ah, aku kelewat percaya diri. Jangan Shinta! Ingat kau sudah bersuami. Ya meski tidak dianggap istri sama sekali. Shinta


Pesenan mereka sudah siap untuk disantap. Dengan cekatan Rendra menuangkan saos, kecap dan sedikit sambal ke mangkok bakso Shinta. Shinta nampak tak keberatan.


"Suka pedas nggak Shin? Mau aku tambahin sambal lagi?"


"Nggak mas. Cukup. Makasih,"


"Kamu nggak suka pedas ya?"


"Nggak juga sih, mas,"

__ADS_1


Mereka mulai makan. Rasa bakso yang nikmat meluluhkan peluh - peluh di dahi mereka. Rendra bersiap mengelap peluh diwajah Shinta. Shinta terkejut. Rendra begitu perhatian sekali.


"Maaf ya mas. Pasti nggak nyaman jalan sama aku."


"Kenapa? Aku nyaman kok. Baksonya enak kan? Kapan - kapan makan bakso lagi disini ya Shin? Sama aku." kata Rendra. Untuk kencan kedua. Hehe


Shinta mengangguk. Senyumnya makin lebar. Rendra merasa sudah ada lampu hijau disenyum manis itu.


***


Setelah kenyang makan, Rendra melajukan lagi motornya menuju pusat perbelanjaan. Mereka jalan menuju toko buku seperti tujuan Shinta dari awal. Sesekali Rendra membuat guyonan yang membuat Shinta terkekeh pelan.


"Mau cari buku apa Shin? Jangan yang berat - berat nanti pusing bacanya." kata Rendra sambil terkekeh. Menggoda Shinta yang sedang memilah buku di rak - rak besar itu


"Tentang ilmu praktis menghafal rumus matematika."


"Ya ampun. Itu berat Shin. Awas pusing abis baca."


"Hehe... Mas Rendra cari kisi - kisi ujian nggak?"


"Ya nanti. Aku cari buku tentang Ilmu kedokteran. Bagaimana menurutmu?"


"Wah, mas Rendra mau kuliah di kedokteran ya?" Shinta nampak berbinar. That is cool man.


"Yup! Cita-cita gitu. Kamu gimana? Apa cita-citamu?"


"Belum kepikiran sih mas. Tapi yang jelas mau kuliah bidang bisnis sih."


"Semoga sukses."


"Mas Rendra juga. Semoga sukses. Dan semangat!"


Ada rasa tak bisa dikatakan dengan kata-kata. Tiba-tiba semangat itu bangkit dari hati Rendra. Yang pasti itu berkat Shinta yang mengatakan itu.


***


Terimakasih sudah membaca ^_^


jangan lupa like komen dan vote ya

__ADS_1


nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya


peluk cium DevaNurAna^_^


__ADS_2