Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Kecupan Hangat


__ADS_3

Selamat membaca ^_^


***


Shinta tak ingin beranjak dari tempat tidurnya. Hatinya sedih sekali. Selain karna Kenzo ia juga sedih karna Joe.


Air matanya mengalir lagi. Di tinggal oleh kedua orangtuanya, menyukai Kenzo dan menikah dengan Joe. Sungguh menyedihkan jalan hidupnya. Tak pernah ia berfikir akan serumit ini jalan hidupnya.


Pintu kamar diketuk beberapa kali. Mbak Asih beberapa kali memanggil nama nonanya. Tak ada jawaban. Mbak Asih memutuskan untuk masuk.


"Non, saya masuk ya Non." kata Mbak Asih dengan hati-hati.


Mbak Asih membuka pintu kamar Shinta perlahan agar tidak menimbulkan bunyi derit yang mengganggu. Mbak Asih melangkah masuk. Melihat nonanya beringsut bersandar ke dinding.


"Non, makan malamnya sudah siap. Mau makan di kamar saja non?" tanya Mbak Asih.


"Nggak usah mbk. Saya nggak lapar." kata Shinta parau.


"Non Shinta kenapa?" tanya Mbak Asih lembut.


"Aku nggak papa mbak. Tenang saja." kata Shinta sambil mengelap air matanya.


"Non Shinta jangan sedih. Ada Mbak Asih. Non Shinta bisa cerita sama Mbak Asih." Mbak Asih sungguh khawatir.

__ADS_1


Shinta hanya menggeleng tidak mau. Bukannya ia tak mau makan masakan Mbak Asih, ia hanya ingin menghindari Joe dimeja makan. Ini juga sebagai bentuk protes terhadap perintah Joe yanh seenaknya tadi.


Suruh bawa bekal katanya? Aku bukan anak TK kau tau? Shinta.


"Nona makan dulu ya." bujuk Mbak Asih lagi. Nadanya mengiba agar Shinta mau menurutinya.


Tiba-tiba seluruh kamar itu menjadi gelap. Ada aura mistik yang membuat kamar itu menjadi suram. Ya, si buat perintah seenaknya itu sudah berdiri diambang pintu. Melihat kedua perempuan sedang bercakap - cakap.


Joe melangkahkan kakinya mendekati Shinta. Mbak Asih yang menyadari kedatangan Joe, seketika menunduk hormat. Memberi jalan tuannya untuk duduk dipinggir tempat tidur tepat didepan Shinta. Joe menyuruh mbak Asih keluar.


Joe menatap wajah Shinta. Terutama di mata Shinta yang sembab. Shinta pun reflek mengalihkan pandangannya. Ia menunduk melihat jemarinya yang ia tautan untuk mengurangi rasa gugupnya sedekat ini dengan Joe. Tak mau joe melihat dirinya yang menyedihkan. Nanti dia marah - marah lagi Shinta sudah tak punya tenaga untuk melawan Joe.


"Kau ini kenapa? Kemarin menangis sekarang menangis. Nanti habis airmatamu." gerutu Joe dengan pandangan mengintimidasi. Dia terlihat tidak suka melihat wajah sembab Shinta.


Shinta hanya diam. Tak ingin menyahut ataupun menanggapi. Yang hanya malah membuat Joe semakin marah psdanya. Ia memilih sibuk mengelap ingusnya. Karna siapa aku menangis?


Shinta masih melakukan aksi diam. Joe mengambil tisu. Mengelap air mata yang tersisa diwajah Shinta.


"Pergilah mas. Jangan ganggu aku." kata Shinta serak.


"Tenanglah! Jangan menangis lagi. Mulai sekarang aku tidak akan mengatur - ngatur lagi. Oke?" kata Joe agar Shinta puas. "Jangan menangis lagi. Lihat matamu sampai hilang begitu. Sudah jangan nangis." pinta Joe.


Kemudian Joe meraih tubuh Shinta dan mendekapkan ditubuhnya. Hangat. Kini air mata yang ia tahan agar berhenti malah tumpah lagi. Air mata Shinta membasahi baju Joe. Tubuh mungilnya bergetar karena dipelukannya Shinta merasa nyaman. Menyadari posisinya di hati Joe bukanlah apa-apa.

__ADS_1


Joe mengusap - usap punggung Shinta. Kemudian dia mengelus rambut Shinta yang panjang. Joe membiarkan Shinta terus menangis dalam dekapannya. Kini dekapan Joe semakin erat. Cup! Kecupan hangat mendarat tepat dikening Shinta.


Entah kenapa Joe bisa melakukan ini dengan tanpa sadar. Ia seperti melihat wajah penuh duka yang mendalam yang perlu ia tenangkan. Ia seperti melihat Mommynya saat menangis, seperti ada ketidaktegaan yang bergelayut di hati terdalamnya.


Shinta sama sekali tak menolak. Ia memang butuh tempat untuk menumpahkan kesedihannya. Joe memang membuatnya sedih. Tapi kali ini ia mampu menenangkan hati Shinta.


Shinta mulai tenang. Joe mulai merenggangkan pelukannya. Mengelap sisa air mata yang tersisa dengan punggung tangannya.


"Jangan sedih lagi. Ayo makan." ajak Joe lembut.


Shinta mengangguk pelan.


"Maafkan aku ya mas. Bajumu jadi basah." kata Shinta merasa bersalah.


"Tidak apa - apa." kata Joe. Joe malah tersenyum. Hatinya mulai melunak. Memberi jarak dengan selalu memarahi dan berkata ketus membuat Joe sadar. Cara itu salah. Caranya malah membuat Shinta semakin menderita.


Maafkan aku uncle Raditya, batin Joe.


***


terimakasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote ya

__ADS_1


nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya


peluk cium DevaNurAna


__ADS_2