Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Makan Buah


__ADS_3

Selamat membaca


***


Joe membaringkan tubuhnya di ranjang sebelah Shinta. Kemudian merengkuh istrinya itu seolah tak ingin Shinta bergerak menjauh sedikitpun dari dirinya.


"I love you, honey." bisik Joe di belakang telinga Shinta.


"Euhmmm." suara Shinta merenggangkan tubuhnya. Ia mengerjapkan matanya cepat. Merasakan tangan besar Joe melingar di perutnya. Ia mengerjapkan mata cepat. Mengusap ekor matanya yang berair. Shinta membuka mata lebar, menoleh ke samping.


"Mas," panggil Shinta serak.


"Hmmm."


"Kau sudah pulang?" tanya Shinta, sambil mengusap rambut Joe lembut.


"Hmmm. Kenapa kau bangun? Ayo tidur lagi." Joe masih terpejam. Melingkarkan tangannya di perut Shinta lebih dekat lagi.


"Kau sudah makan?"


"Belum sih. Tapi tidak lapar juga."


"Aku ingin makan buah." lirih Shinta, ia malu mengatakan ini. Namun dipikirkannya ingin sekali makan buah.


"Kau lapar?" tanya Joe heran. Kalau lapar, lebih baik makan yang sedikit berkarbo biar kenyang.


Shinta mengangguk pelan. Shinta beringsut bangun, kemudian bersandar di kepala ranjang. Joe mengikuti Shinta untuk bangun.


"Mau makan nasi?"


"Tidak mau! Mau buah!" rajuk Shinta mencebikkan bibirnya.


"Oh ya, kau bilang beli martabak. Apa kau sudah memakannya honey?"

__ADS_1


Shinta menggeleng. Menatap Joe dengan puppy eyes. Tersenyum malu-malu.


"Aku ingin buah, bisa kah mas Joe bawakan ke kamar sekarang?" Kenapa banyak tanya sih, mau buah! Titik!


"Hmmm. Baiklah. Tunggu ya." Cup! Kecupan hangat berhasil mendarat sempurna di kening Shinta. Menyisakan wajah merona Shinta yang sedang memeluk guling.


***


Shinta menikmati semangkuk buah itu dengan lahapnya. Ada potongan buah strawberry, buah naga, buah kiwi dan buah apel. Dipotong kecil-kecil. Kalau di beri minyak sayur sedikit sudah menjadi salad buah.


Glek. Joe menelan ludah, kelu. Joe menatap heran pada Shinta. Kemudian Joe memalingkan wajah. Rasa mualnya kembali muncul. Ia pun masuk ke kamar mandi.


Biasanya aku harus memaksanya makan buah. Sekarang ia malah lahap makan buah bahkan mungkin akan memakan mangkuknya juga. Ah, aku malah mual melihat aneka buah itu yang tercampur di dalam mangkuk. Kelihatan aneh dan mengaduk isi perutku. Untung Asih bisa aku bangunkan untuk menyiapkan potongan buah itu. Hoek.


"Asih, siapkan semangkok buah." kata Joe saat sampai di depan kamar Asih. Padahal Asih baru saja mematikan semua lampu setelah membukakan pintu untuk tuannya. Kini, perintahnya membuat Asih jadi bingung. Buah? Malam-malam begini? Serius?


Asih menatap tuannya penuh heran. Namun ia tetap melakukannya. Asih membuka isi lemari es. Mengupas perlahan buah satu persatu. Beberapa kali ia menguap karena kantuknya harus terganggu dengan kepulangan Joe.


"Tidak. Segini pasti cukup. Istirahatlah."


Joe kembali dari kamar mandi, duduk di tepi ranjang. Meraih kotak martabak. Menyodorkan ke pangkuan Shinta.


"Kenapa martabaknya masih penuh? Bahkan ada tiga martabak di dapur."


"Sudah dingin. Aku tidak mau."


"Kenapa tadi nggak langsung kau makan saja?"


"Sudah nggak selera makan." Karna melihat tes pack yang diberikan Anin, nafsu makanku untuk martabak itu jadi down seketika. Padahal awalnya akan terasa nikmat martabak itu. Apalagi yang campur gelato cream cheese.


"Ya sudah. Sekarang tidur ya."


"Tunggu mas,"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Hmmm. Me-menurut mas Joe kalau aku hamil bagaimana?" tanya Shinta agak ragu-ragu. Terlihat jelas ia memilah kata-kata untuk keluar dari mulutnya.


"Apa?! Hamil?! Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" Joe meninggi. Suaranya terdengar terkejut dengan pertanyaan Shinta yang menurutnya mendadak. Berhasil membuat dia tersentak.


"Eh? In-ini cuma seandainya mas. Se-seandainya aku hamil begitu." Shinta pias. Please jangan marah, batinnya.


Glek. Joe sudah susah menelan salivanya. Ia panik mendengar pertanyaan Shinta. Kalau ia boleh jujur, ia akan berjingkrak dan berkata, aku ingin punya banyak anak. Karna ia adalah anak semata wayang, ia bertekad untuk punya anak sebanyak-banyaknya. Namun apa yang terjadi? Ia malah sok cool dengan jawaban sok bijaksana. Dengan suara datar ia berkata pada Shinta, "Ya terserah kamu saja. Tapi nggak perlu dipaksa juga sih kalau belum siap. Ya begitu menurut ku."


Terserah ya? Kok kedengarannya ia sama sekali tidak peduli. Apa ia tak ingin atau sama seperti ku-belum siap punya anak- juga sekarang? Aku kok jadi kecewa ya mendengarnya.


"Hmmm. Baiklah. Aku akan tidur. Selamat malam."


"Have a nice dream Honey." Cup!


Shinta menenggelamkan tubuhnya dibalik selimut. Joe beranjak dari duduknya keluar untuk mengembalikan martabak itu di dapur.


Sampai di dapur ia memukul dahinya. Ia merasa bodoh dengan apa yang baru saja ia katakan pada Shinta.


Harusnya aku tidak bilang begitu. Harusnya aku bilang "yes honey, what do you want? two, four, or six? Ten kids is fine. I really want it. Arrrggghhh! Gusar Joe mengacak-acak rambutnya sendiri. Meratapi apa yang sudah ia lakukan.


"Pasti dia sedih kan sekarang." gumamnya.


***


terima kasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote ya


nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya


peluk cium DevaNurAna

__ADS_1


__ADS_2