
Selamat membaca^_^
***
Adik - adik kelas bersuka cita. Mereka tampak lelah namun tetap memancarkan kebahagiaan. Adik - adik yang penuh semangat mengikuti ekstra kulikuler. Shinta duduk di lantai depan koridor kelasnya. Melihat mereka dari kejauhan. Shinta tersenyum, dia dulu juga melewati itu. Selalu ada proses ulang di sekolah.
Shinta menghela nafas dalam. Ingat saat ikut eksta dulu dia paling sering kena hukuman karna seringnya ia melamun. Kala itu sangat berat baginya. Kehilangan orang tua dan tak pandai bergaul dengan anak - anak baru dikelasnya.
Beruntung tak lama kemudian dia mengenal Anin. Dia sangat senang karna Anin mengerti dirinya yang pendiam dan kuper.
Andi sudah menghubunginya kalau Joe akan telat sedikit. Jangan kemana - kemana karna Joe akan segera meluncur.
Shinta puas sekali melihat mereka, tiba - tiba Reno, teman sekelas Shinta yang tergila - gila pada Anin datang menghampiri Shinta. Duduk disebelah Shinta.
"Hai Shin." sapa Reno.
"Hai juga." balas Shinta." Ada apa Ren?"
"Mau tanya aja, apa lo masih pacaran sama kakak kelas kita dulu?"
Shinta sedikit terperanjak mendengar Reno bertanya tentangnya. Ini bukan kebiasaan Reno. Aneh. Pikir Shinta. Sudah lama sejak Anin tak menggubris cintanya, Reno tak lagi mencoba mendekati Anin. Tapi sekarang kenapa dia ingin tau soal dirinya.
Shinta urung menjawab. Mereka hening. Shinta jadi ingat luka yang ia torehkan ke Rendra. Sedang Reno sudah tak sabar mendengar jawaban Shinta.
"Perasaan gue udah berubah sama Anin, Shin. Dan perasaan gue tertuju pada elo." kata Reno.
__ADS_1
"Maksudnya?" Shinta terkejut. Perasaan Reno mudah sekali berubah.
"Gue suka sama elo Shin." katanya sedikit malu - malu.
"Ren, kita kan sebentar lagi ujian. Untuk apa kau menyatakan begini? Bukannya akan menganggu pikiran mu?" Shinta menghela nafas berat. Ini bukan waktu yang tepat untuk menyatakan cinta.
"Gue lebih kepikiran kalau gue nggak nyatain sekarang Shin. Gue bener - bener suka sama elo."
"Maaf Ren, aku nggak bisa."
"Kenapa? Karna lo masih pacaran sama Rendra?"
"Tidak. Tapi aku..." Shinta menoleh. Merasakan ada seseorang yang mendekati mereka. Shinta terkejut kala wajah geram Joe berada di belakangnya. Merah padam menahan amarah.
"Apa Shin?" Reno ikut menengok kebelakang. Ia melihat laki - laki yang tinggi semampai sedang menatap dengan tatapan membunuh.
"Mas, sudah datang?" sapanya.
"Ayo pulang." ajak Joe. Meraih tangan Shinta dan pergi meninggalkan Reno yang menganga menatap kepergian mereka.
Shinta sedikit berlari menjajari langkah Joe yang lebar. Sampai di mobil, Joe langsung membuka pintu mobil menyuruh Shinta masuk. Shinta merasa amarah Joe meluap. Tangannya sungguh sakit ditariknya.
Joe memutar langkah. Kemudian masuk dan menyalakan mesin mobil. Mobil itu melaju dengan kecepatan maksimal. Shinta sungguh takut dalam posisi ini. Bisa saja Joe lepas kendali. Shinta menggenggam erat tangannya yang memerah.
"Mas, hentikan mobilnya. Aku takut." kata Shinta.
__ADS_1
Joe menepikan mobilnya. Mematikan mesin mobil. Kemudian mengebrak setir itu keras. Shinta kaget sekali.
"Kalau bukan di sekolah, aku sudah memukul anak itu!" teriaknya. Matanya melotot. Ia menangkup wajahnya. Mengacak - acak rambutnya.
"Mas, aku nggak ada apa - apa sama dia."
"Diam! Kali ini aku takkan melepaskanmu! Aku takkan mengijinkanmu dekatĀ siapapun! Kau milikku! Aku akan membunuh siapapun yang mendekatimu!" Joe gusar. Berteriak keras.
Shinta meringkuk takut. Susah payah menelan savilanya. Merasakan ancaman Joe bukan isapan jempol belaka.
Sekian menit, Joe menenangkan dirinya. Menghirup dalam dan mengeluarkan dari mulut. Joe melirik Shinta yang hampir menangis. Joe membelai rambut Shinta. Tapi Shinta menepis tangan besar Joe.
"Maafkan aku." bisik Joe. Meraih kepala Shinta dan menaruhnya didada Joe. "Aku salah. Aku kalap. Maaf."
Tak ada jawaban. Shinta malah sesenggukan. Tangisnya pecah. Tubuhnya bergetar hebat.
Aku takut, batinnya.
***
Terima kasih dah baca ya ^_^
Aku tunggu like komen tip dan vote
nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
__ADS_1
Peluk cium DevaNurAna^_^