Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Tujuan awal


__ADS_3

Selamat membaca


***


Shinta pulang. Di depan pintu utama rumahnya, ia disambut oleh Andi. Dengan senyum tipis khas orang datar itu. Shinta melongo. Mengedipkan mata cepat. Ingin sekali mengucek matanya agar lebih jelas untuk melihat wajah Andi diambang pintu. Sudah sekian lama kepergian Andi waktu itu. Baru kali ini melihat Andi tersenyum dan bahkan tanpa kabar sudah didepan rumahnya.


"Selamat sore nona Shinta." Andi tersenyum tipis membukakan pintu utama rumah Shinta.


"Pak Andi?!" suara Shinta mengeras. Naik beberapa oktaf dari suara normalnya. Ia bahkan masih berdiri di hadapan Andi tanpa ingin bergerak. Ia tertegun dihadapan Andi.


"Ya, ini saya nona. Bukan hantu." Andi menghela nafas kasar. " Sepertinya nona sibuk sekali ya sampai pulang sesore ini. Oh iya, saya hampir lupa kalau anda mahasiswi baru."


"Ish! Apaan sih?" gumam Shinta. "Memangnya kenapa?" Shinta mencebikkan bibirnya sebal.


"Tidak apa-apa. Silahkan masuk nona." kata Andi sambil membuka pintu itu lebih lebar.


"Pak Andi datang kenapa mas Joe nggak beritau? Biasanya ia beritau dulu. Apa pak Andi bersama Daddy dan Mommy?" tanya Shinta. Ia langkahkan kakinya masuk ke rumah melewati Andi yang menunduk hormat.


"Terakhir kita bertemu, anda tak secerewet ini? Apa ini bawaan bayi?" pertanyaan datar itu lolos begitu saja dari bibir Andi. Selalu sarkas.


"Hah? Iya, kenapa?" Shinta menyilangkan tangannya sambil membalikkan badannya.


"Itu bagus. Setidaknya anda tidak cengeng lagi." kata Andi.


"Ish!" Shinta melengos meninggalkan Andi yang masih berdiri di dekat pintu.


Shinta melangkah menuju ruang makan. Tenggorokannya kering sekali. Belum sampai di ruang makan, Shinta menemukan Rania dan Andrew sedang duduk santai menonton televisi.


"Mommy? Daddy?" Shinta berhambur memeluk Rania.


"Sayang, sudah pulang. Sini duduk." pinta Rania. Ia berdiri dan membuka tangannya untuk memeluk Shinta.


"Kapan mommy sampai? Kenapa tidak mengabariku?" Shinta duduk disamping Rania.


"Belum lama. Hanya untuk melihatmu. Selamat ya sayang. Mommy dan Daddy sangat bahagia mendengarnya."


Rania memeluk Shinta. Meluapkan rasa bahagianya. Seperti ini, lengkap rasanya.

__ADS_1


***


Joe pulang malam hari. Ia sangat sibuk hari ini. Ia menghela nafas kasar. Merenggangkan dasinya. Ia ingin segera istirahat memeluk istrinya.


Hah...pelukan hangat dan melihat istrinya tersenyum saja sudah mampu meruntuhkan pegal dan kaku tubuhnya.


Namun belum sampai semenit ia memikirkan istirahat santainya bersama sang istri, ia di hadapkan dengan Andi dan Andrew yang sudah menunggunya di ruang kerja.


Joe sama terkejutnya dengan Shinta. Kedatangan orang tuanya tanpa kabar ini membuatnya kesal, meski dalam hati ia juga sangat merindukan mereka.


"Dad, bagaimana kabarmu?" tanya Joe membuka percakapan. Mereka sedang duduk santai di ruang kerja Joe. Menikmati secangkir kopi hangat.


"Ah, aku pikir kau lupa dengan daddymu ini. Makanya jarang memberi kabar."


"Daddy tau kan aku sibuk. Tidak sempat."


"Ya, no problem."


"Daddy ada apa ke sini? Bukannya Daddy juga sibuk akhir-akhir ini?"


"Tentu saja aku sibuk. Usaha mu disana bahkan tidak pernah aku kunjungi."


"Kau lupa dengan tujuan awalmu?" suara Andrew berubah berat mengejutkan Joe.


Tujuan awal? Pertanyaan itu terulang dipikiran Joe. Apa?


Andi yang sejak tadi hanya mendengarkan percakapan mereka, kini bergerak. Mengambil cangkir kopi miliknya dan menyeruput pelan. Percakapan ini mulai menegang sepertinya.


"Bukan begitu Dad," suara Joe lemah. Ia menarik tubuhnya. Menaruh sikunya di ujung pahanya. Menyatukan keduanya ditengah.


"Terus apa?"


"Mungkin tuan muda sudah betah disini." gumam Andi.


"Hah? Bukan begitu!" jawab Joe cepat. "Maksudku, aku juga nggak menyangka secepat ini Shinta hamil dad. Aku janji setelah kehamilannya, aku akan bawa dia ke Amerika."


"Kau sudah pernah menanyakan soal ini padanya?" pertanyaan Andrew menyudutkan Joe.

__ADS_1


"Be-belum." Joe tergagap. Ia tau persis tak pernah menyinggung soal tinggal di Amerika setelah ini pada Shinta.


"Kok melemah begitu tuan muda? Sepertinya Anda belum yakin tentang itu." suara Andi membenarkan.


Sialan!


"Sudahlah. Pikirkan saja nanti."


"Thanks Daddy."


"Bagaimana kehamilan Shinta? Apa baik-baik saja?"


"Baik-baik saja dad."


"Bagaimanapun perusahaan di Amerika adalah milik keluarga kita. Setelah ini, aku juga akan pensiun. Hanya kau penerusku. Jangan lupa itu." Andrew meneguk kopinya perlahan.


"Ya, ya aku paham dad. Tapi dad, bagaimana perusahaan disini? Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Apalagi perusahaan baru meluncurkan produk baru. Aku takut karna kepemimpinan yang baru lagi akan menurunkan minat dan penjualan produk yang baru." jelas Joe.


"Kau sudah tau itu sejak awal kan. Kenapa masih bertanya? Kau takut perusahaan ini akan pailit dan hancur untuk kedua kalinya."


"Tentu saja aku tidak akan membiarkan itu terjadi dad. Makanya aku tidak bisa pergi begitu saja."


"Apa ini juga jadi pertimbangan mu sekarang?"


"Iya Dad, beri aku waktu lagi. Agar perusahaan ini bisa stabil dulu."


"Baiklah... apa boleh buat."


"Saya rasa Anda hanya bingung dengan jawaban nona Shinta nanti. Antara ke Amerika atau Indonesia. Right?"


"Kau! Shit!" Joe mengeram. Andi tidak salah juga mengatakan itu. Banyak yang harus ia pertimbangkan. Bukan hanya Shinta, ini juga tentang perubahan.


***


terima kasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote ya

__ADS_1


nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya


peluk cium DevaNurAna


__ADS_2