
Selamat membaca
***
Daren mencengkram setir itu kuat. Ia harus melaporkan apa yang baru saja terjadi dengan nonanya pada Jonathan. Sesekali Daren memperhatikan raut wajah Shinta yang tampak sendu. Melihat kening berplester itu.
Shinta dibelakangnya hanya diam melihat keluar jendela. Melihat pemandangan luar. Hari ini adalah hari paling buruk untuknya. Kenapa hari ini ia sungguh sial sekali.
"Apa kening yang diplester itu karna sepupu anda nona?" tanya Daren memecah keheningan didalam mobil itu.
"Eh? Tidak Pak. Bukan dia."
"Siapa yang melakukannya?"
"Ini hanya tidak sengaja pak. Tidak apa-apa."
"Apa nona bisa jamin kalau tuan Jonathan tidak akan marah? Beliau pasti tidak akan memaafkan orang yang sudah menyelakai nona."
"Tidak akan separah itu pak. Mas Jonathan takkan melakukan apapun. Tenang saja."
Daren membulatkan matanya. Nona mudanya ini sungguh tidak tau siapa Jonathan. Hanya karna kerja sama yang gagal saja, Joe membeli semua saham di perusahaan itu.
Bagaimana kalau istri yang ia cintai terluka? Aku tidak mau membayangkannya. Aku pasti tidak akan selamat.
" Kita mau kemana pak? Ini bukan jalan ke rumah."
"Eh? Kita ke kantor nona. Tuan Jonathan yang meminta."
"Untuk apa ke kantor? Aku mau pulang saja."
"Maaf nona. Tidak bisa."
"Ish! Pak Daren sama saja ya dengan pak Andi."
"Benarkah nona? Saya tak sehebat pak Andi."
"Pak Daren sama menyebalkannya dengan pak Andi."
Daren hanya tersenyum. Ia sungguh terhibur. Nonanya ini memang masih kecil, lucu.
"Untuk apa aku ke kantornya? Aku tidak paham masalah perkantoran."
"Memangnya nona akan disuruh menjadi pengamat laba? Haha... Pasti bukan itu tujuannya."
__ADS_1
"Terus aku disuruh apa ke kantor?"
"Entahlah nona. Tuan Jonathan tidak memberitahu."
Cih! Aku heran, kenapa orang - orang yang didekatnya mas Jonathan ini selalu menyebalkan. Oh ya aku lupa, tuannya juga sama menyebalkannya.
Daren menghentikan mobil dihalaman parkir kantor Joe. Ya, tentunya itu perusahaan Papa Shinta dulu.
Daren dengan cepat membuka pintu mobil belakang. Menunduk hormat mempersilahkan nona mudanya keluar dari mobil.
Didepan terpampang jelas SJ Group. Shinta mengernyitkan dahinya. Ini perusahaan baru ya? Namanya beda. Nama perusahaan Papa dulu kan Atmaja Maju Tbk. Kenapa jadi SJ Group?
Daren membuka pintu kaca, Shinta dengan bingung masuk ke kantor itu. Banyak karyawan yang menatap heran. Shinta masih menggunakan seragam, pastilah terlihat aneh bila berada di kantor. Mau ngapain anak sekolahan masuk kantor? Magang juga tidak mungkin. Ini kan perusahaan besar, pastilah lulusan sarjana yang dibutuhkan.
Mereka masuk lift. Shinta masih menunduk malu diperhatikan mata - mata karyawan tadi saat melihat Shinta berjalan bersama Daren. Apalagi saat Shinta masuk lift khusus petinggi perusahaan.
"Pak Daren, kita mau kemana?" tanya Shinta , tubuhnya bergetar karna ketakutan.
"Bertemu tuan Jonathan nona." kata Daren.
Shinta masih tidak mengerti untuk apa dia diajak ke kantor ini. Perusahaan ini sungguh jauh berubah dari kepemimpinan papanya. Shinta hanya pernah sekali diajak kesini oleh Mamanya untuk mengunjungi papanya.
Tring. Lift terbuka. Daren dibelakang Shinta berjalan menuju ruang kerja Joe. Didepannya ada Nana yang sibuk dengan pekerjaannya.
Daren membuka pintu kaca itu. Shinta melangkah ragu. Ini ruang kerja Joe? Dia seperti bingung dan takut masuk ke dalam ruangan itu. Shinta mengedarkan pandangannya. Melihat sosok suami bulenya yang duduk di sofa. Membuka berkas-berkas yang berjejal didepannya.
Joe tersenyum, melambaikan tangannya. Menepuk ruang kosong disampingnya.
"Honey, sudah datang." sapanya.
"Hmmm." Shinta duduk disamping Joe. Menaruh tas disampingnya. Joe menghentikan pekerjaannya. Meraih pinggang Shinta agar lebih dekat dengannya.
"Siapa yang melakukan ini?" suara Joe tampak geram. Ia meraih kepala Shinta mengecup kening berplester itu lembut. Lama ia melekatkan bibirnya dikening Shinta. Seperti ingin menggantikan luka itu di tubuhnya sendiri. Shinta menganga terkejut. Matanya membulat sempurna.
"Katakan honey, siapa yang berani membuatmu terluka." bisiknya penuh kelembutan.
"Apaan sih?" Shinta mendorong tubuh Joe menjauh. " Ini bukan apa-apa mas."
"Aku serius. Katakan siapa?"
"Aku jatuh sendiri mas."
"Bener?"
__ADS_1
"Hmmm."
"Daren, selidiki semua. Laporkan padaku."
"Baik tuan."
"Apa sih? Memangnya mau ngapain mas."
"Aku tidak akan biarkan ada yang menyakitimu."
"Jangan berlebihan. Aku tidak apa-apa."
"Jangan tutupi semua dariku. Aku tidak akan memaafkan siapapun itu."
"Terserahlah. Memangnya apa yang akan kau lakukan." Shinta menyebikkan bibirnya. Tidak peduli.
Hanya Daren yang terlihat takut. Mana mungkin nonanya biasa saja, padahal ia yang sudah lama hidup bersama Joe tidak tau kelakuan suaminya ini?
"Tadi saya melihat nona sedang ngobrol dengan sepupunya yang bernama Amelia tuan. Sepertinya nona Amelia ingin mengusik nona."
"Tidak! Apa yang kau katakan pak Daren? Dia tidak melakukan apapun. Apa yang kau lihat tadi pak?" Shinta terkejut mendengar Daren melaporkan pertemuannya dengan Amelia.
"Benar kamu ketemu sepupumu?"
"Iya. Tapi dia tidak melakukan apapun mas. Hanya ngobrol biasa."
"Beri dia pelajaran Daren."
"Baik tuan."
"Apa sih? Mas, apa yang akan kau lakukan? Jangan sembarangan dan aneh - aneh." Shinta panik.
"Tenanglah. Aku akan bereskan orang - orang yang mengusikmu."
***
Terimakasih sudah membaca
Jangan lupa like komen tip dan vote ya
Nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
Peluk cium DevaNurAna
__ADS_1