
Selamat membaca ^_^
***
Anin sudah bersiap. Mematut wajahnya dicermin. Memperhatikan riasannya sudah sempurna atau belum. Kecantikannya memang sudah digariskan Tuhan untuknya. Tak perlu dandan semenor apapun Anin tetap cantik.
Mama Anin masuk. Mengatakan tamunya sudah datang. Raut wajah mama sendu. Tak menyangka anak keduanya yang belum lulus SMA ini harus mengakhiri masa lajangnya secepat ini. Ada gurat kecewa serta kasian disana.
"Sayang, turun yuk!" kata Mama Anin lembut.
"Maafin Anin Mah." lirih Anin.
"Tenanglah. Mama disampingmu." Mama merangkul bahu Anin. Menuntunnya untuk turun.
Sepenuhnya bukan salah Anin. Mama Anin merasa dia juga punya andil disini. Tak pernah memperhatikan putrinya. Selalu sibuk dengan pekerjaannya. Sampai Anin harus kelewat batas begini. Mama Anin saja tak berani memandang Papa Anin. Malu karna tak bisa menjaga anak gadisnya yang masih belia.
Anin memakai dres selutut dengan warna pink cerah. Rambut sebahunya ia biarkan tergerai jatuh. Ia sematkan jepit hati di rambut itu. Manis sekali.
__ADS_1
Anin mengedarkan pandangan. Kedua orang tuanya mengapitnya. Sebelah kanan Papa ada Zaky kakaknya. Didepan mata terlihat wajah kekasihnya yang menunduk. Kedua orang tuanya dan adik perempuannya yang masih SMP, mungkin.
"Kami datang untuk melamar Anin untuk jadi istri anak kami, Revan, Bapak Ibu." kata Ayahnya Revan sopan. Ini kesalahan anak lelakinya yang nakal.
"Ya. Apa nak Revan ini sudah bekerja?" tanya Mama Anin.
"Belum. Dia masih kuliah. Tapi setelah menikah saya akan menyuruhnya mencari pekerjaan." kata Ayah Revan.
Mama Anin menghela nafas dalam. Bagaimana nasib Anin setelah menikah. Kalau hamil bagaimana urusan finansialnya? Huh! Tapi kalau tidak dinikahkan segera malah membuat keluarga ini semakin malu.
"Sebentar lagi Anin akan lulus. Acara pernikahannya dilaksanakan setelah wisudanya saja." kata Papa Anin yang sedari diam.
"Zak, tahan emosimu!" Papa Anin.
"Aku sudah ingin memukulnya Pah. Beraninya dia menyentuh adikku!" Zaky akan berdiri, namun Papa mencegah Zaky.
"Maafkan aku kak." kata Revan.
__ADS_1
"Jangan panggil aku kakak! Aku bukan kakakmu!" Zaky penuh emosi. Wajahnya merah padam menahan amarahnya.
"Kak, maafin Anin." lirih Anin. Airmatanya hanpir tumpah. Adikmu ini yang tak bisa menjaga diri. Maaf.
Perdebatan itu tiada henti. Beberapa kali Papa Anin melotot tajam pada Zaky yang tak bisa menahan emosinya. Anin semakin menunduk dalam melihat kakaknya begitu marah. Apalagi Papa. Meski wajah Papa nampak tenang, tapi dalam hati siapa yang tahu.
Keluarga Revan minta pamit setelah kesepakatan, pernikahan akan digelar setelah Anin lulus sekolah. Sementara akan dilaksanakan ijab qobul dulu lusa. Setelah itu, Revan akan tinggal bersama Anin dirumah kedua orang tua Anin. Mama Anin tidak mengijinkan kalau Anin akan ikut keluarga Revan.
Walaupun besar kesalahan anaknya ini, takkan rela Mama Anin membiarkan hidup anaknya akan menderita ikut mertua. Lebih baik ikut kedua orang tuanya sendiri. Mama Anin takkan tega, Anin akan setiap hari dituntut oleh mertuanya nanti. Apalagi Anin yang masih sekolah, masih manja dan cerewet. Ia akan mati kutu di rumah mertuanya nanti.
Hah... anakku Anin. Mama
***
Terima kasih dah baca ya ^_^
Aku tunggu like komen tip dan vote
__ADS_1
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya
Peluk cium DevaNurAna^_^