
Selamat membaca
***
New York. Pukul 9 pagi.
Shinta sudah mengantar anaknya sekolah. Sudah mengantar suaminya juga. Sekarang ia sedang membaca majalah. Ada maid yang menemaninya. Rachel, tentu saja.
Rachel menawarkan diri untuk memijat kaki Shinta. Shinta tidak keberatan sama sekali.
Ah nyaman sekali, batinnya berkata. Setiap kali selesai mengantar anaknya sekolah ia tak punya pekerjaan lain selain duduk diam baca majalah. Bak sultan yang sedang bersantai, dirinya patut bersyukur dengan kehidupannya saat ini.
Tak perlu memikirkan hal-hal berat, mungkin tak perlu berfikir sekalipun.
Ah, kehidupan ini memang layak disyukuri setelah sekian tahun hidupnya penuh dengan derita. Masa mudanya yang tak bahagia. Terpaksa menikah dengan orang asing yang umurnya jauh lebih tua. Kalau Shinta ingat-ingat kembali ia merasa sangat tertekan waktu itu. Tapi coba sekarang ia malah bersyukur dipertemukan dengan Jonathan. Si bule Amerika yang kadang galaknya sudah seperti aturan mati dalam hidup Shinta.
Sedang apa ya suamiku sekarang? batin Shinta merindu sang suami. Padahal ia baru saja mengantarnya untuk berangkat bekerja.
"Nyonya ingin minum sesuatu?" tanya Rachel tiba-tiba.
Shinta mengangguk.
Kenapa dia sangat peka? Kalau saja suaminya sedikit lebih peka.
Aku memang sedang bosan tidak melakukan apapun.
Ya, sejak ia tinggal disini, semua kebutuhannya sudah disiapkan oleh maid-maid yang bekerja disini. Oleh ibu mertuanya, Shinta tidak boleh mengerjakan tugas didapur ataupun bekerja. Meski membosankan, karna dia tidak melakukan apapun seharian. Hanya mengantar anaknya sekolah dan menunggu suaminya pulang bekerja.
__ADS_1
"Silahkan nona."
"Terima kasih." Shinta menurunkan kakinya dan meneguk minuman itu. Tidak ada yang paling nyaman dari hidupnya sekarang. Keluarga kecilnya yang bahagia. Sudah cukup baginya untuk menjalani hidup ke depan. Ia harap tidak akan ada masalah yang berarti. Entah itu dari manapun asalnya.
Memang membosankan jika sudah duduk diam tak melakukan apapun. Hanya menambah berat badan dan pikiran yang tidak-tidak.
Sudah tambah berapa ya lingkar pinggangku? Kayaknya sudah tambah gemuk deh. Shinta melirik perut yang makin hari makin menunjukkan lekuk-lekuk lemak.
Anehnya, suami dan mertuanya malah senang. Meski Shinta tidak pernah protes dengan kelakuan suami dan mertuanya, tapi dalam hati ia ingin sekali menggerakkan jemari kaki tangannya untuk suatu kegiatan yang bermanfaat.
Ia ingat pernah membujuk suaminya. Ia minta ijin untuk kursus. Apapun kursus itu yang penting ia bisa keluar beraktifitas.
"Kalau kau mau, aku akan bawa guru untuk mengajarimu setiap hari dirumah." kata Joe dengan nada menggoda. Ia tau Shinta tidak akan suka kalau sudah begitu keputusan suaminya.
"Gak. Bukan gitu. Ah mas ih nggak ngerti banget." rengek Shinta.
Shinta berdiri hendak pergi. Dengan sigap Rachel menghentikannya dengan suaranya yang penuh hormat, "mau dibawakan makanan ringan nyonya?" Seperti sudah hafal tentang bagaimana Shinta kalau sudah bosan. Shinta akan ke taman belakang untuk menyirami bunga-bunga ditanam belakang rumah.
"Tidak."
Dari tadi pagi aku sudah makan banyak. Mau ngemil terus sampai perutku buncit? Wah, keterlauan juga Rachel ini. Terus menawariku makanan.
Shinta langsung pergi ke taman belakang. Masih dengan Rachel yang mengikutinya dari belakang.
"Rachel, kau tak punya pekerjaan lain? Aku tak apa sendiri."
"Tidak nyonya, tugas saya sudah selesai."
__ADS_1
Dia memang tak pernah sekalipun membiarkan aku sendiri. Jangan tanya kenapa.
"Apa sudah melapor pada bosmu?"
"Ah, sudah nyonya." Rachel tergagap. Merasa malu. Tapi itu sudah menjadi tugasnya setiap hari. Ia akan memastikan Shinta akan pulang setelah mengantar anaknya sekolah dan apa kegiatan yang ia lakukan sekarang. Tentu saja melapor pada Joe.
"Ayolah Rachel, sekali saja. Jangan beri tau dia. Aku ingin jalan-jalan sebentar saja. Di mall atau taman kota gitu. Lihat gedung-gedung dipusat kota. Percuma juga aku disini tapi nggak pernah keluar. Keluarpun kalau bersama dia. Itupun jarang. Dia itu suami kejam tau!"
"Nyonya tidak boleh bicara begitu. Tuan sangat mencintai nyonya."
"Trus kenapa aku nggak boleh keluar? Ibu mertua juga protektif banget. Aku bosan."
"Ini untuk keselamatan nyonya."
Keselamatan dari apa sih? Aku nggak ngerti. Rachel selalu bilang untuk keselamatanku. Tapi nggak pernah bilang dengan jelas apa maksudnya. Memangnya berbahaya gitu kayak di film-film? Ah, ngawur. Mana ada yang seperti itu.
"Coba jelaskan selamat dari apa?"
"Apapun itu."
"Apapun itu apa? Ah, sudahlah." Shinta mengibaskan tangannya. Ia sudah tau akan jawaban Rachel yang takkan mudah ia mengerti. Kadang berputar-putar tidak jelas. Buang-buang energi saja.
Rachel menghela nafas lega. Kali ini ia selamat lagi dari pertanyaan yang menyulitkan itu. Lebih baik dimarahi Shinta dari pada dimarahi tuannya.
"Dia tidak perlu tau. Kau harus tutup mulutmu!" suara keras dan lantang Joe selalu terngiang-ngiang dikepala Rachel.
***
__ADS_1