Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Mana Mungkin?


__ADS_3

Selamat membaca


***


Shinta terdiam didalam kamarnya. Duduk berselonjor kaki diatas ranjang. Ia memegang benda yang diberikan Anin tadi. Ia sedang memperhatikan cara penggunaan benda itu. Ia menimang, bingung harus bagaimana. Menggunakan benda itu atau biarkan saja. Mana mungkin ia hamil?


Aku bisa gila kalau memikirkan ini terus. Kok bisa Anin berfikir aku hamil? Hah... Itu tidak mungkin. Sudah jelas kan mas Joe saja pakai pengaman mana mungkin hamil. Emang bisa? Arrrggghhh... Seandainya saja benar aku hamil, aku takut bayanginnya. Aku belum siap!


Dari masuk rumah, ia sudah gelisah tak menentu. Pikirannya tertuju pada alat tes kehamilan itu. Ia berikan semua martabak yang ia beli pada mbak Asih yang tadi menyambutnya di depan pintu. Ia sama sekali sudah tak berselera untuk makan martabak itu.


"Kok banyak sekali non?" tanya mbak Asih.


"Hmmm." Shinta langsung ngeloyor pergi tanpa melihat ekspresi wajah mbak Asih yang bingung.


Shinta menatap kosong. Ia masih kepikiran soal ini. Mana mungkin? Mana mungkin? Pertanyaan itu terus muncul di benaknya. Dan jawabannya tetap tidak mungkin. Tapi ia juga ragu, masak iya? Aku tidak merasakan apapun. Ah, sudahlah. Jika ia pikirkan akan semakin pusing.


Kemudian ia pun memutuskan untuk menaruh benda itu di laci meja. Lalu mengambil laptop dan membuka layar kosong di Microsoft word. Ia mulai menuliskan tugas makalah yang harus ia serahkan senin ini.


Belum sampai ia menyelesaikan tugasnya, tiba-tiba tangannya terhenti mengetuk-ngetuk tombol keyboard. Ia menepuk dahinya. Kenapa otaknya tak mau bekerja. Pikirannya hanya tertuju pada benda aneh itu.


Kemudian ia menghela nafas dalam. Kalau ia hamil, bagaimana reaksi Joe padanya? Senang atau tidak suka. Mana yang akan terjadi?


Huh... Kenapa aku ini? Aku semakin merinding memikirkan itu. Belum tentu juga akan terjadi. Apa aku tes aja ya? Tapi Anin bilang lebih baik di pagi hari setelah bangun tidur. Aku mikir apa sih? Argghhh!


Akhirnya karna pikirannya kalut, ia letakkan laptop itu. Ia malah berbaring menatap langit-langit. Mau tidur saja, pikirnya. Tapi anehnya ia juga tak bisa terlelap. Hanya memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri.


Karna gusar, ia jadi bangun. Ia melihat jam di ponselnya. Menekan touchscreen ponsel mencari nama Anin disana.

__ADS_1


"Anin," panggil Shinta setelah panggilan seluler itu tersambung.


"Hmmm. Ada apa Shin? Tumben telfon. Aku baru aja abis makan martabak dari kamu bareng sama mama dan mas Revan." jelas Anin dari seberang. Terdengar sangat senang.


"Aku bingung." lirih Shinta.


"Bingung kenapa lagi? Masih soal tes pack? Ya ampun, santai saja lagi Shin."


"Aku sama sekali nggak bisa santai. Aku... Aku takut." bibir Shinta gemetar berucap. Supaya tenang, ia menggigit bibir bawahnya.


"Apa yang kamu takutin?" tanya Anin.


"Semuanya."


"Semua itu apa? Rasa hamil? Atau melahirkannya? Atau setelahnya?" pertanyaan Anin memberondong Shinta, membuat Shinta semakin bergetar.


"Tentu saja seneng. Dia kan sayang banget sama kamu."


"Tapi, kalau seandainya tidak bagaimana? Dia pasti kecewa kan? Lagian dia pakai pengaman. Mana mungkin bisa hamil. Itu artinya ia belum menginginkan anak kan?"


"Kamu benar-benar bingung ya?"


"Sumpah! Bukannya aku berlebihan ya. Tapi aku tuh belum seratus persen siap kalau punya anak."


"Sebaiknya kamu bicara baik-baik deh sama Joe. Daripada kamu kepikiran terus."


"Aku bingung mulainya dari mana."

__ADS_1


"Ya Tuhan, ngomong aja ribet bener."


"Aku takut dia tersinggung Nin. Kamu tau kan dia itu mudah emosian."


"Ya udah. Gimana kalau kamu sedikit bermanja gitu. Aku yakin kok dia nggak bakal marah dan tersinggung. Kalau dia mulai kesal, cium aja. Hehe."


"Hmmm. Baiklah. Makasih ya Nin. Bye." tut. Huh... Shinta menghela nafas lega. Hanya Anin yang bisa meredakan kegalauannya.


Shinta pun berbaring kembali. Menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala. Ia mulai memejamkan mata. Membawa pikirannya ke dalam mimpi.


"Honey ku, sudah tidur rupanya." Joe mengecup kening Shinta lembut. Ia baru saja masuk ke kamar ingin melihat istri tercintanya. Sebenarnya ia bermaksud menanyakan soal martabak yang Shinta beritahu di pesan chatnya tadi siang. Tapi melihat wajah tertidur pulas istrinya itu, Joe tak sampai hati membangunkan.


Biarlah. Ia pasti lelah jalan-jalan dengan Anin, pikir Joe tersenyum.


"Anak mama," lirih namun terdengar jelas. Shinta mengigau. Joe mengernyitkan dahi.


"Tadi dia bilang apa?" gumamnya heran.


***


terima kasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote ya


nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya


peluk cium DevaNurAna

__ADS_1


__ADS_2