Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Tidak Suka


__ADS_3

Selamat membaca^_^


***


Shinta melangkah kan kaki masuk melalui gerbang sekolahnya dengan malas. Ya, sebenernya bila ia bisa memilih ia ingin libur dirumah karena batinnya sungguh tidak mendukung untuk mencerna pelajaran hari ini.


Namun ujian kelulusan sudah hampir didepan mata. Ia tak bisa menolak karena itu sudah siklusnya yang harus ia jalani. Apalagi keinginannya dan cita-cita yang ingin ia raih setelah ini.


Ia melangkah pelan. Rasa mengganjal masih saja menyelimuti batinnya. Aduh... Perih. Gumamnya dalam hati.


Ia menyusuri koridor kelas satu menuju kelasnya yang ada dilantai dua. Banyak adik - adik kelas yang bergerombol mengoceh kesana kemari di tempat - tempat duduk didepan kelas mereka. Mereka tampak asyik bercerita dan tertawa bersama.


Sampai Shinta naik tangga, ia melihat seseorang seangkatan dengannya namun beda kelas sedang turun dan melewati dia. Tatapan orang itu sungguh tidak mengenakan. Seperti membenci dan meremehkan. Shinta tau namanya, Santi. Ia memang tidak akrab dengannya. Hanya sekedar tau namanya.


Santi berhenti tepat dihadapan Shinta. Menghadang Shinta untuk naik menuju kelasnya. Tatapan Santi menjadi lebih tajam. Ketidaksukaannya terhadap Shinta terlihat jelas disana.


Santi mendorong Shinta ke dinding. Tentu saja Shinta terkejut. Selama ini ia tak pernah ada masalah apapun terhadap Santi. Shinta tidak begitu kenal bahkan dekat dengan dia.


Kenapa dia mendorongku? batin Shinta.


"Kau menjijikan ya. Kenapa guru - guru mengijinkanmu masih bersekolah disini. Pasti kau sudah membayar mereka untuk tutup mulut." suara Santi nampak merendahkan Shinta.


"Apa maksudmu? Apa kita sedekat itu sampai kau berhak berkata seperti itu padaku?" Shinta memicingkan mata geram.


"Kau itu munafik Shinta."


"Kau juga munafik. Kalau kau ada masalah dengan seseorang jangan lampiaskan denganku. Permisi."


Santi meraih tangan Shinta yang akan beranjak naik. Kaki Shinta yang tidak stabil memijak anak tangga didepannya itu malah terpeleset dan jatuh. Kepala Shinta terbentur anak tangga diatasnya.


Kening Shinta sedikit berdarah. Tangannya dan kakinya sakit karna menatap lantai untuk menopang badannya yang jatuh.


Santi menganga melihat darah menetes jatuh. Ia sungguh terkejut dengan apa yang ia lakukan.


Aku tak sengaja, sungguh! Bukan itu maksudku, batin Santi takut. Wajahnya nampak pias melihat darah dikening Shinta.


Shinta menatap Santi yang hanya menatapnya tanpa mau menolongnya berdiri. Shinta meringis merasa perih di keningnya.


"Ada apa itu?" tanya anak - anak dibawah dan atas tangga yang melihat kening Shinta mengeluarkan darah.


Dua anak dari atas, yang Shinta yakini itu Mitha dan Anin turun tergesa mendekati Shinta.


"Kenapa Shin?" tanya Mitha.


"Hei Santi! Kau apa-apaan sih?" Anin dan Mitha membantu Shinta berdiri.


"Bu-bukan aku." Santi yang ketakutan malah beranjak menuruni tangga. Menjauh atau lebih tepatnya kabur dari masalah.


"Sialan tuh anak. Kabur." umpat Anin. Mereka membawa Shinta ke ruang UKS untuk mendapatkan perawatan.

__ADS_1


"Kau ada masalah dengan Santi?" tanya Anin saat menempel plester di kening Shinta. Darahnya sudah Anin bersihkan terlebih dulu.


"Tidak. Kau tau kan aku dan dia tidak akrab juga tidak begitu kenal."


"Shinta kan hanya dekat denganmu Anin." Mitha menimpali.


"Iya juga sih."


"Terus kenapa dia sampai membuatmu berdarah begini Shin?"


"Aku juga tidak tau. Dia bilang aku munafik."


"Aneh tuh anak. Eh Shin, by the way ini apa sih?" Anin mendekat. Menyibak kerah seragam Shinta.


"Apa sih Nin. Lepas ah!" Shinta langsung menepis tangan Anin. Shinta memerah wajahnya karna Anin melihat tanda cinta Joe.


"Wow! Apa ini?" Mitha ikut syok melihat leher Shinta.


Shinta menutup lehernya yang disibak Anin dengan rambut panjangnya.


Padahal tadi sudah aku bedakin banyak banget kenapa masih terlihat sih? Shinta membatin. Ia hanya bisa menunduk malu. Seperti anak ketahuan mencuri.


"Shin, ini...." Anin tergantung. Shinta hanya menganggukkan kepala menjawab arah pertanyaan Anin. Shinta menggigit bawah bibirnya.


"Apa sih kalian pakai rahasia deh. Cerita dong." Mitha kebingungan melihat kedua temannya ini saling memberi kode.


Ruang UKS itu seketika hening. Hanya suara hembusan nafas Mitha yang kesal karena dua orang didepannya ini kompak bungkam.


"Aku temenin ya."


"Tidak usah Nin. Kamu masuk kelas saja sama Mitha. Makasih ya udah obatin lukaku."


"Hmmm. Baiklah nanti cerita ya."


Shinta mengangguk pelan. Kemudian mereka keluar dari ruang UKS dan berpisah diujung koridor.


"Shinta, ceritakan apa yang terjadi." kata Bu Aminah dengan membenarkan kacamata plusnya yang tidak kenapa - kenapa itu. Penuh wibawa. Disampingnya sudah ada Santi yang tertunduk.


"Santi menarik tangan saya Bu sampai kepala saya terbentur lantai tangga." jelas Shinta. Ia pun ikut tertunduk karna takut sekali dengan guru BP dihadapannya ini yang terkenal tegas. Ini pertama kalinya Shinta masuk keruangan BP.


"Kau murid teladan disekolah ini, Shinta. Ada masalah apa kalian sampai bertengkar seperti ini?"


Setahu Bu Aminah Shinta tak pernah begitu bertingkah. Bahkan Bu Aminah juga tau tentang Shinta yang pendiam dan sering menghabiskan waktu istirahatnya diperpustakaan.


"Jawab ibu Shinta."


"Maaf Bu. Tapi saya juga tidak mengerti dengan Santi yang tiba-tiba begitu."


"Santi, katakan ada salah apa Shinta padamu?"

__ADS_1


"Bu, dia itu anak nakal Bu. Harusnya dia dikeluarkan dari sekolah." Santi berkata dengan rasa kebencian yang membuncah.


Eh? Bu Aminah melongo. Anak nakal katanya. Shinta tidak seperti anak nakal. Dia bahkan anak yang pandai dan selalu rangking.


"Katakan dengan jelas Santi." pinta Bu Aminah penasaran.


"Dia itu menjadi simpanan bule Bu. Saya selalu melihat dia dijemput dan diantar dengan mobil mewahnya setiap hari."


"Shinta apa benar yang dikatakan Santi?"


"Tidak Bu. Dia salah."


"Terus siapa bule yang selalu mengantarmu itu ha?"


"Dia... Dia kakakku."


"Kakak? Kau serius? Lihat Bu. Dia mengatakan hal tidak masuk akal."


"Santi, stop. Minta maaf pada Shinta. Bagaimanapun kau sudah mencelakakan dia."


"Tapi Bu aku tidak sengaja."


"Tentunya kau harus minta maaf kan walaupun tidak sengaja. Cepat minta maaf."


Cih! " Iya aku minta maaf." Suaranya ketus tapi tangan itu terulur sebagai permintaan maaf meski terasa tidak ikhlas sama sekali.


"Sekarang Santi, kembalilah kekelasmu."


Santi beranjak keluar setelah melirik Shinta dengan tatapan kemenangan. Shinta masih tertahan di ruang BP itu karna Bu Aminah belum mengijinkannya keluar. Shinta tertunduk takut. Apa Bu Aminah akan menanyakan sesuatu lagi.


"Shinta, ibu tau kau hidup sendiri. Ibu sangat prihatin dengan itu. Namun ibu juga bangga kau berprestasi di sekolah ini. Katakanlah bila kau punya masalah. Ibu akan mendengarkan." kata Bu Aminah lembut. Seperti melihat anaknya sendiri yang membutuhkan kasih sayang.


"Tidak Bu. Saya tidak punya masalah apapun."


"Siapa bule yang dimaksud Santi? Apa benar ia kakakmu? Sepupu?"


"I-iya." Shinta terbata. Ia terpaksa berbohong karena takut rahasianya terbongkar. Akan jadi apa hidupnya disekolah ini kalau jujur sudah menikah. Sudah ia tahan tiga tahun ini untuk merahasiakan ini semua. Hanya tinggal beberapa bulan lagi.


"Baiklah. Kembalilah. Kalau kau merasa pusing kau bisa istirahat di UKS."


"Baik Bu. Permisi." Shinta keluar ruangan itu dengan rasa lega namun ada setitik rasa bersalah karna sudah berbohong. Tidak ada cara lain selain itu.


***


terimakasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote ya


nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya

__ADS_1


peluk cium DevaNurAna


__ADS_2