
Selamat membaca^_^
***
Piring itu berdenting seirama dengan jatuhnya sendok mengenai permukaannya. Mereka sedang sarapan. Formasi lengkap. Ada Joe, Shinta, kedua orangtua Joe dan Andi. Mereka sedang fokus dengan sarapan masing - masing.
Sesekali suara Joe bercakap dengan Mommy-nya atau Daddy-nya. Yang lain hanya mendengar. Apalagi Shinta, hanya tersenyum malu - malu saat namanya disinggung.
"Joe, Daddy bangga padamu." kata Andrew. Menepuk bahu Joe. Sungguh rasa yang tak pernah terungkap dalam lisan Andrew pada Joe. Biasanya Andrew akan menghukumnya atau memarahinya bila melakukan kesalahan. Kali ini wajah Andrew terlihat senang. Senyum tercetak jelas dibibir tua itu.
"Thanks Daddy." kata Joe tersenyum kecut.
"Ih... Kalian ini menggemaskan ya?" Rania menimpali. Keluarga yang sangat harmonis menurut Shinta yang melihat. Sedang Andi hanya diam tanpa ekspresi seperti biasa.
"Selesai sarapan ke ruang kerjamu dulu ya. Ada yang ingin Daddy sampaikan padamu."
"Ok Dad. I don't know what else you are planning." Joe menatap Daddynya tajam. Ada gurat tidak suka di wajah Joe. Daddy is true and I always wrong.
" Shinta, hari ini ada rencana kemana?" Rania mencoba mencair kan suasana. Menoleh kearah Shinta yang kikuk.
"Em... Tidak ada Mom. Mungkin Shinta akan dirumah saja." Sebenarnya mau kerumahnya Anin. Karna Mommy dan Daddy disini jadi tidak jadi.
"Oh... Itu membosankan sekali. Bagaimana kalau kita jalan - jalan, Sayang. That good idea, right?"
"Em... Yes Mom."
"Kenapa Mommy memaksa? Shinta kan ingin dirumah saja." Joe dengan nada tidak sukanya. Sedikit ketus.
"Mommy tidak memaksa Joe, sayang. Ini waktunya women day." Rania dengan senyum mengembang melihat anak lelaki nya itu menggerutu tidak suka. Posesif sekali sih anakku kalau sudah jatuh cinta.
Andrew menepuk bahu Joe. Dengan sorot matanya ia menunjukkan ke arah pintu ruang kerja.
Andi bersiap berdiri. Menunduk hormat kala Andrew menyelesaikan sarapannya. Beranjak dari kursi menuju ruang kerja.
"Honey, aku kesana dulu ya. Mana ciuman tanganku. Kau akan pergi kan?" Joe mendekati Shinta. Memberikan tangannya untuk bersalaman. Shinta kaku. Sudah sejak Joe mulai merasakan perasaan cintanya aturan rumah ini berubah. Meski tidak suka, Shinta tak bisa apa - apa. Lihat mata berbinar dari kelopak sang Mommy nya itu sudah mengharap lebih. Uhg! Bisik Shinta.
__ADS_1
Ia segera meraih tangan Joe. Menempelkan dikeningnya. Sebagai gantinya Joe mencium kening Shinta.
Kalau bukan karna ada Mommy disebelahku, aku bisa berontak sedikit. Sungguh Menyebalkan! Ia memanfaatkan situasi ini.
Joe tersenyum. Manisnya. Dia patuh bagai istri yang sangat mencintai suaminya. Apa ini rasanya cinta yang sesungguhnya? Ah, rasanya melayang di udara.
Shinta menatap tajam. Pasalnya, tangannya tak juga Joe lepaskan. Malah Joe sengaja berlama - lama dengan tangan lembut itu
"Joe, come here!" teriakan Andrew menyadarkan lamunan Joe yang indah. Dasar pak tua itu selalu saja mengganggu kesenanganku.
Joe melepas pegangan tangan Shinta. Melangkah menuju asal suara.
"Mommy, kita mau kemana?"
"Kemana ya? Salon and boutique? What your choice?"
"Kemana sajalah Mom." lirih Shinta. Rania tambah gemas melihat Shinta. Penurut sekali. Entahlah. Biasanya kelemahan bisa jadi kelebihan. Itu yang dipikirkan Rania. Tapi bagaimana jika kelemahan ini justru akan merusak hubungan mereka? Rania tak mau memikirkan hal buruk. Hanya doa yang selalu ia lantunkan untuk anaknya.
***
Kini terulang kembali bersama orang yang sama. Shinta sudah berganti pakaian dengan kain. Membaringkan tubuh untuk di pijat. Sedang Rania pun juga.
"Apa yang kau pikir kan Sayang?" tanya Rania memecah keheningan. Hanya ada gerak tangan sang pemijat di ruang khusus itu.
"Tentang apa Mommy?" Shinta sedang menikmati pijatan di kepalanya. Ia memejamkan mata. Nyaman.
"Tentang Joe."
"Tidak ada Mom."
"Apa kau tidak ingin bersamanya selamanya?"
"Aku masih memikirkan itu Mom."
"Kenapa kau masih bimbang? Apa kau tidak merasakan cintanya Joe padamu sayang?"
__ADS_1
"Bukan itu Mom. Bisakah kita bahas yang lain?"
"Sayang, kenapa kau menghindar begitu? Mommy tidak akan memaksamu untuk menerima Joe."
"Aku hanya masih memikirkan sekolahku Mom. Masih ada ujian kelulusan didepan mata."
"Oh... Kau benar Sayang. Maafkan Mommy ya." Rania merasa bersalah. Menantunya ini sedang sibuk - sibuknya memikirkan sekolah. Bukan soal perasaan Joe. Pasti dia sangat gugup juga menghadapi ujian kelulusan. Oh my.... Apa yang aku katakan? Aku hanya ingin menyatukan mereka.
"Bagaimana setelah lulus? Apa kau punya rencana kuliah di Amerika?"
"Tidak Mom. Bahasa Inggris ku buruk sekali."
"Oh... Kau bisa belajar Sayang. Tak perlu khawatir."
"Mom, apa Shinta boleh bertanya sesuatu?"
"Tentu saja. Katakan sayang?"
"Apa pekerjaan Mommy dan Daddy di Amerika?"
"Kau penasaran? Bisnis Daddy sangat banyak. Ada ekspor impor barang, pabrik minuman, tempat GYM yang dikelola Joe, ada juga bisnis produk kosmetik juga dan masih banyak lagi. Kenapa kau ingin tau Sayang? Kau ingin berkunjung ke sana?"
"Em... Kenapa tidak ada ulasan sedikitpun tentang bisnis Daddy atau Mommy di laman pencarian. Biasanya kesuksesan bisa jadi inspirasi banyak orang. Atau paling tidak ada sedikit pembahasan mengenai perjuangan kalian."
"Kau hanya perlu menikmatinya, Sayang. Tak perlu pikirkan hal - hal yang membuatmu pusing. Lebih baik memikirkan ujian sebentar lagi."
Shinta tertegun. Matanya terbuka lebar. Apa dia sudah lancang menanyakan ini pada Rania? Tentu saja Rania takkan menjawab. Apa ada sesuatu? Semakin misteriusnya dirimu Mas. Apa aku harus menerimamu kalau aku bimbang begini?
****
Terima kasih sudah membaca
jangan lupa like komen tip dan vote ya
nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya
__ADS_1
peluk cium DevaNurAna