
selamat membaca
***
Wajah Shinta tertunduk malu. Dari balik kaca wastafel dikamar mandinya ia bisa melihat dengan jelas tanda cinta yang Joe berikan semalam. Ya Tuhan, ini apa sih banyak sekali.
Tubuh depan Shinta terlihat jelas penuh dengan tanda. Leher, dada, dan perut. Tak lupa bahu dan telinga Shinta juga ada bekas gigitan gigi Joe. Meski tidak sakit, tapi kejadian semalam membuat Shinta memerah seketika bila mengingatnya.
Oh... Tuhan, bisiknya dalam hati. Shinta terus saja menepuk jidatnya. Merutuki kebodohannya yang tidak bisa menolak Joe.
Shinta memakai lagi bajunya. Menyatukan kancing - kancing piyama yang ia kenakan. Menyibak rambut panjangnya kebelakang. Ia rapikan dengan jari jemarinya.
Huh! Aku takut keluar. Apa lebih baik aku tidur di bathtub saja ya? Eh? Ide gila macam apa itu? Aku bisa mati membeku. Tapi kalau aku keluar yang ada tanda cinta ini akan bertambah banyak. Sepertinya ia sangat berselera malam ini. Arrrggghhh!
Shinta melirik pintu toilet, ia takut kalau-kalau Joe akan masuk ke dalam. Fiuh! Sepertinya tidak. Dengan ragu, Shinta membuka pintu kamar mandi. Mengedarkan pandangan mencari makhluk tampan yang sedang dimabuk cinta itu.
"Kenapa mengintip begitu Honey. Sini tidur. Spreinya sudah diganti Asih tadi." kata Joe santai sambil menyandarkan kepalanya di badan ranjang. Gayanya malam ini sungguh cool sekali.
Ya iyalah! Dia merasa menang sekarang. Mbak Asih melihat itu? Arrrggghhh aku tidak punya muka besok bertemu dengannya.
Shinta keluar dari kamar mandi. Melangkah dengan ragu-ragu menuju ranjang. Sudah tidak ada yang membatasi mereka sekarang. Shinta lesu menerima kenyataan ini. Oh my... Hilangkan lah aku dari muka bumi ini. Aku ingin terbang saja daripada melihat senyum liciknya. Lihat seringai dibibirnya itu. Mengandung arti yang mencurigakan.
"Naiklah honey. Sudah malam. Besok harus masuk sekolah kan?" Joe menepuk tempat kosong disebelahnya. Ia sudah dalam posisi berbaring.
Dia pikir aku bisa sekolah dengan keadaanku seperti ini. Aku syok tau tuan muda! Shinta menggigit bibirnya. Ingin meluapkan kekesalannya tapi ia mencoba tahan. Karna ia terlalu malu untuk menatap Joe.
Akhirnya setelah perdebatan batin yang lama Shinta berbaring. Memunggungi tubuh Joe. Mengeratkan pelukan pada selimut itu. Seperti sudah biasa, Joe akan mendekat dan memeluknya dari belakang.
Deg. Jangan lagi! Aku mohon... batin Shinta. Ia menutup mata. Meringis merasakan dekapan Joe diperutnya.
Joe membalikan tubuh Shinta agar mengubah posisinya. Joe naik lagi, diatasnya.
"Honey ku." suara Joe mesra.
"Mas, jangan lagi." Shinta bicara memohon. Lembut agar Joe mau melepas dekapannya
__ADS_1
"Kau sungguh manis malam ini Honey." bisik Joe ditelinga Shinta membuat sekujur tubuh Shinta merinding. Ia mencengkram kedua sisi bantal yang menopang kepalanya kuat-kuat. Joe tak mengindahkan kata-katanya.
"Emmm... aku mohon." kata Shinta lirih.
"Kau sedang menolakku?" Joe mengecup belakang telinga Shinta lembut. Kemudian turun ke bawah leher Shinta. Nafas Shinta terengah-engah. Ia sadar bahaya didepannya sedang menguncinya.
"Mas, tadi kan sudah. Kenapa lagi?"
"Karena aku mau lagi. Kau akan merintih semalam."
Tangan Joe sudah tidak bisa berhenti. Menyusuri lekuk tubuh Shinta kembali. Mengecup kuat setiap bagian yang ia telusuri. Sampai meninggal kan bekas tanda cinta. Mencium aroma tubuh Shinta yang membuat ia menggila.
Joe menyatukan bibirnya. Mengecup dengan lembut seperti biasa. Memberi jeda dan kemudian melanjutkan lagi ciuman itu.
Shinta sudah tidak bisa melawan. Aku payah! Lebih baik aku tidur dikamar mandi saja tadi. batin Shinta. Yang hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan saat Joe sudah mulai menikmati aktifitasnya.
"Aku sudah puas malam ini. Tidurlah." bisik Joe dibelakang telinga Shinta. Ia sudah berbaring disamping Shinta.
"Have a nice dream, Honey." katanya kemudian. Seketika Shinta menutup mata. Namun ia belum tertidur juga. Alasannya mahkluk yang sedang memeluknya ini sudah tak mau diajak negosiasi. Ia bahkan langsung menerkam dan memangsanya. Detak jantung Shinta sudah tidak karuan. Naik turun mengingat ini semua.
Haaaahhhh... Aku seperti domba dimakan buaya. Buaya darat! Sebenarnya perasaannya ke aku tuh apa sih? Terus bagaimana perasaannya pada kekasihnya? Apa benar-benar sudah putus? Malam ini aku benar-benar tamat.
Kejadian malam itu sungguh pengalaman pertama bagi Shinta. Ia hembuskan nafasnya dengan kasar. Ia mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah. Ia tak boleh bolos sehari pun karna bulan ini sampai bulan-bulan berikutnya akan menentukan nasib kehidupan dia selanjutnya. Ia harus lulus dengan nilai yang memuaskan. Janjinya dalam hati.
Ia keluar dari kamar mandi. Duduk di depan meja riasnya. Mematut wajahnya dicermin untuk memberikan sedikit bedak tabur di wajahnya. Tak lupa ia pakai sedikit lipsgloss agar bibirnya sedikit lembab.
Ini memang kebiasaan baru baginya. Ya tentu saja Anin yang menyarankan begitu. Atau karna Shinta sudah merasa perlu merubah penampilannya yang polos.
Shinta turun dari kamar menuju meja makan. Ia tertunduk saat melihat Mbak Asih disana sedang menyiapkan sarapan.
Jangan melihatku Mbak, aku malu banget.
Sedang Joe sibuk dengan MacBook ditangannya. Shinta meraih kursi untuk duduk. Ia ambil sandwich didepannya. Melahap dengan tenang agar Joe tak merasa terganggu dengan kehadirannya.
"Morning Honey. Habiskan sarapanmu. Jangan lupa minum susu juga." Joe memalingkan wajahnya dari MacBook itu dan menaruh segelas susu hangat didepan Shinta. Tersenyum manis.
__ADS_1
Shinta hanya tersenyum terpaksa. Kemudian menunduk lagi. Ia mengunyah pelan roti isi itu.
Apa dia sakit? Apa aku terlalu kasar padanya? Joe
"Honey, apa kau merasa tidak enak badan?" Joe berdiri, beranjak mendekati Shinta yang jauh didepannya. Karna ingin memberi jarak pada Joe.
Joe menyentuh kening Shinta. Tidak panas. Menyentuh leher. Juga sama. Shinta menepis tangan besar Joe.
"Apa masih sakit? Apa hari ini kau libur saja honey."
"Ti-tidak! A-aku nggak papa kok." Shinta terbata. Ia sungguh gugup sekali.
"Baiklah kalau tidak apa-apa. Teruskan makanmu. Aku akan menunggu di mobil." Joe mengecup kening Shinta kemudian melangkah menjauh.
Deg. Seketika Shinta memerah. Malu. Ada rasa hangat di keningnya. Shinta tersadar ketika Mbak Asih datang membawa sekotak bekal yang akan nona mudanya bawa ke sekolah. Memberi senyum menggoda.
"Non, semangat ya." bisik Mbak Asih.
"Apa?"
"Semalam hebat sekali."
"Mbaaakkk Asiiiihhhhh!" Shinta menutup wajahnya malu. Pipinya memerah karna ucapan mbak Asih yang jelas itu.
"Hihihi... Nona tak perlu malu. Lihat tuan muda sangat bersemangat pagi ini. Ia hebat kan semalam?"
"Diem nggak? Aku tampol nih!" Shinta menggertak. Lama - lama aku goreng juga nih Mbak Asih. Malu banget sumpah!
Hihi... Mbak Asih hanya cekikikan melihat wajah nonanya yang sudah memerah bak tomat matang.
***
terima kasih sudah membaca
jangan lupa like komen tip dan vote ya
__ADS_1
nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
peluk cium DevaNurAna