Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Again


__ADS_3

Selamat membaca^_^


***


Malam ini sangat dingin. Hujan deras mengguyur dari sore tadi. Shinta jadi terbayang hangatnya makan mie instan.


Malam dingin begini makan mie instan panas dan pedas itu rasanya nikmat tiada tara. Pakai toping telur dan beberapa sawi hijau. Tak lupa saus kecapnya. Shinta sudah ngiler dari tadi membayangkan mie instan itu.


Tapi malang, sudah pasti mie instan yang dulu sering jadi teman disaat dingin begini sudah tak ada lagi. Joe benar - benar membersihkan semuanya.


Kenapa sih dia itu tega padamu mie instan? Dia itu terlalu buruk sangka padamu. Iya kan? Shinta.


Shinta duduk di meja makan. Lemas. Mbak Asih datang dari arah belakang mendekati nonanya yang tampak murung.


"Kenapa Non? Nona butuh sesuatu?"


"Pengen makan mie instan Mbak,"


"Jangan Non. Nanti Tuan Joe marah sama Non Shinta. Mau Mbak Asih buatkan susu hangat?" tawar Mbak Asih.


"Nggak mau." Shinta berdiri. Ia naik ke atas lagi. Membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Melihat langit-langit kamar. Joe belum pulang. Hujannya begitu deras hingga hawa malam ini semakin dingin. Shinta masih dalam posisinya. Pikirannya kosong.


Kemudian ia beranjak dari tidurnya. Mengambil langkah ke pintu utama. Mengambil payung kemudian keluar.


Shinta ingin membeli mie instan. Ia tak peduli hujan deras. Ia mau beli di minimarket diseberang jalan dari pintu masuk perumahan itu.


Sudah lama ia tak makan mie instan. Kali ini keinginannya begitu kuat. Biarpun Joe akan marah, Shinta tak peduli.


Shinta keluar rumah tanpa memakai jaket. Hanya kaos oblong dan celana pendek. Brrr! Dingin sekali. Desis Shinta.


Shinta sudah masuk diminimarket yang ACnya menambah kedinginan tubuhnya. Ya ampun aku jadi merinding. Shinta sudah membayar beberapa bungkus mie instan dan beberapa cemilan keripik kentang.


Iapun keluar dari minimarket dengan senyuman hangat dari penjaga kasir minimarket itu.


***


Joe sampai rumah. Dia begitu kesal dengan keadaan ini, hujan. Hawa dingin dan jalanan menjadi licin. Daren harus berhati - hati kalau tidak mau celaka dijalan. Dia terus saja mengeram pada Daren. Memarahinya karena telat sampai rumah.


"Dimana Honeyku?" tanya Joe pada Asih yang membawakan susu hangat untuk kedua laki - laki yang baru pulang ini.


"Nona keluar Tuan." jawab Mbak Asih tertunduk. Dia sudah tau akan mendapatkan apa dari Joe.


Joe berdiri. Membanting cangkir susu itu dilantai.


"Keluar kemana? Kenapa kau tidak menghalanginya? Katakan!"


"Mungkin ke mini market depan Tuan. Nona ingin makan mie instan katanya." Mbak Asih gemetaran. Ia meremas kedua jemarinya. Takut. Daren pun yang melihat terbelalak. Begitu kah Joe sedang marah?

__ADS_1


"Aku bilang tidak boleh!" Joe berbalik. Mencari payung dan menyusul Shinta.


"Tunggu Tuan. Biarkan saya yang menyusul nona." kata Daren menghalangi Joe untuk keluar.


"Tidak! Aku sendiri yang akan menjemputnya." Joe akhirnya keluar rumah tanpa mengganti pakaiannya.


Joe menyusuri jalan yang berair. Tidak peduli celana dan sepatunya yang sudah basah. Joe melihat diseberang jalan. Tampak bangunan minimarket dari kejauhan.


Joe melihat kanan kiri untuk menyebrang jalan. Langkahnya mengayun pelan menuju minimarket. Joe sampai didepan minimarket. Dari luar tak nampak Shinta disana.


Dimana dia? pikirnya. Joe menengok ke kanan kekiri. Mungkin saja Shinta sudah keluar.


Netra Joe menemukan wajah ayu Shinta dengan rambut dikuncir kuda. Sedang duduk dipinggir jalan menikmati semangkuk mie ayam. Astaga!


Joe menghampiri Shinta. Menarik kursi dan duduk disampingnya. Mengejutkan Shinta.


"Mas Jonathan? Kok tau aku ada disini?" tanya Shinta terperanjak.


"Habiskan makananmu. Lalu pulang."


Shinta menyumpit mie ayam. Menyodorkan ke mulut Joe. Joe menggeleng kuat. Shinta melahap mie itu dengan lahapnya. Sepertinya mie ayam itu sangat nikmat di mulut Shinta. Joe sampai geleng - geleng kepala melihat tingkah istrinya yang makan dengan lahap itu.


Sudah lama tak makan mie ya? Sampai dia lahap sekali. Kasian istriku ini. Joe


Joe melihat penjual mie ayam. Ia heran kenapa Shinta suka sekali mie ayam itu. Apalagi jualannya dipinggir jalan begini. Pasti kotor, Honeyku bisa sakit perut setelah ini. Joe berfikir. Ingin sekali meraih mangkok mie itu agar Shinta tak makan lagi. Namun kalau ia lakukan, Shinta akan marah.


Joe melepas jas abu-abunys memakaikan ke tubuh Shinta. Senyum Joe terkembang manis.


"Hemm." Shinta menyuapi mulutnya penuh dengan mie.


***


Joe membaringkan tubuhnya di ranjang. Setelah membersihkan diri. Tubuhnya basah karna harus memayungi Shinta. Tak apalah yang penting Shinta tak kehujanan. Padahal sama - sama bawa payung. Tapi Joe memaksa memakai hanya satu payung.


Joe menggeliat. Memiringkan tubuhnya. Melihat pantulan wajah Shinta dicermin. Shinta sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Kemudian menyisir rambut itu sampai keujung. Dari dulu rambut panjangnya tak pernah ia potong. Rambut hitam dan lurusnya memang sungguh indah.


Joe tersenyum manis. Turun dari ranjang dan duduk bersimpuh disamping Shinta. Memeluk pinggang Shinta erat.


"Eh? Kenapa Mas?"


"Dingin Honey."


"Mas Joe sakit?" Shinta mengelus tangan Joe yang melingkar kuat itu.


"Minta peluk." Ada-ada saja kelakuan Joe yang kekanakan.


Shinta berdiri. Otomatis tangan itu lepas. Joe ikut berdiri kemudian berhambur memeluk Shinta.

__ADS_1


"Ayo tidur. Sudah malam." kata Shinta menuntun tubuh Joe yang menempel itu naik ke atas ranjang.


Shinta menoleh melihat makhluk tampan itu terus saja bergelayut di tubuhnya. Membuat Shinta merinding tiap malam.


Arrrggghhh bagaimana aku melepaskan diri. Dia itu sengaja membuat ku sesak nafas. Tuhan, kuatkan imanku. Eh?


"Mas, bisa nggak jangan meluk gini?"


"Hmmm."


"Aku sungguh nggak nyaman."


"Aku kedinginan Honey. Sebentar saja."


"Haaahhh... Baiklah. Tidur yang nyenyak ya." Cup! Tanpa sadar Shinta mengecup kening Joe pelan. Joe terbelalak.


Ia bangun dari tidurnya. Duduk memandang istrinya yang heran melihat tingkahnya. Wajahnya memerah.


"Kau menciumku? Iya kan?"


Eh? Kenapa seheboh itu sih? Shinta berdecih. Memangnya kenapa kalau aku menciumnya? Dia menciumi tubuhku tiap malam saja aku diam. Ini cuma dicium kening saja sudah hebohnya seperti ketiban durian.


Shinta melengos. Menenggelamkan tubuhnya dibalik selimut. Ia merasa malu. Wajahnya juga merah melihat respon Joe yang sungguh berlebihan.


"Honey, iya kan? Cium lagi ayo cium lagi." Joe girang bukan main. Ia berbaring lagi. Sambil menciumi pipi Shinta.


"Ayo cium lagi, Honey."


Ish! Sekarang siapa yang bocah?


"Honey." panggil Joe dibelakang kepala Shinta. Seketika merinding sekujur tubuh Shinta.


"Ish! Tidur! Sudah malam Mas."


"Kiss me again Honey. Come on."


"Tidak."


"Kenapa cuma sekali. Again."


Shinta tak mau mendengar rengekan Joe. Ia mengeratkan pelukannya di selimut itu. Hingga ia tertidur pulas.


***


terima kasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote ya

__ADS_1


nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya


peluk cium DevaNurAna


__ADS_2