
"Berarti aku boleh tidur disini bersama mu?"
Shinta tidak menjawab. Hanya suara helaan nafasnya yang terdengar dalam. Ia menatap netra Joe. Ia ingin Joe tau bahwa perasaanya belum sepenuhnya untuk Joe. Jadi Shinta berharap Joe sedikit bersabar.
"Bisakah kau menahan diri sampai aku cukup yakin dengan perasaan ku?"
"Tidak masalah Honey. Aku akan menunggu sampai hari itu tiba."
Akhirnya tangan Joe melepas pelukannya. Membiarkan Shinta menjauh. Shinta naik ke tempat tidur. Meraih selimut dan menenggelamkan tubuh dibawahnya.
Joe berdiri. Berkacak pinggang. Tidak masalah baginya menunggu perasaan Shinta menyatu dengannya. Yang terpenting Shinta tidak menolaknya. Selama menunggu Joe bertekad akan membuktikan cintanya.
Kau akan tau seberapa besar aku menginginkan mu. Joe masuk kamar mandi. Membersihkan dirinya. Dan mengganti baju tidurnya. Joe naik ke atas ranjang disamping Shinta dan kemudian memeluk tubuh mungil itu.
Tubuh Shinta menggeliat. Merasakan ada yang memeluk tubuhnya. Ia membuka mata.
"Mas Jonathan?! Siapa bilang kau boleh tidur disini? Keluar." Shinta mencoba membuka pelukan Joe. Tapi bukannya terbuka malah semakin kencang.
"Ini bukan pertama kalinya kan? Kenapa takut?"
"Aku tidak takut. Tapi aku merasa tidak nyaman."
"Mulai sekarang kau harus biasa kan, agar merasa nyaman didekat ku."
"Huuuuhhh.... Kau itu selalu seenaknya! Katanya cinta, begini menunjukkan rasa cinta mu padaku?"
"Iya. Mau lebih gila lagi?"
"Tidak!"
"Bisakah kita tidur? Aku sudah mengantuk Honey."
Joe memejamkan matanya. Sedang Shinta mencebikkan bibirnya sebal dengan kelakuan Joe. Huh!
__ADS_1
Malam panjang pun berlanjut. Akhirnya perdebatan itu berakhir dengan kemenangan Joe. Joe terlelap dan tak melepas Shinta diperlukannya.
***
Ruang kerja itu hanya ada Andrew dan Andi masih bersama. Membahas masalah bisnis di Amerika. Rania sudah naik untuk tidur. Tak ingin menganggu pekerjaan suaminya.
Andi beberapa kali mengatakan pendapatnya. Bagaimana menyelesaikan masalah yang mengancam bisnis tuannya ini.
"Kau tau, pihak CC sudah bergerak. Aku tidak mau kita kalah dari mereka. Kita harus mendapatkan kerja sama dengan pihak NNC Korea Selatan. Kau mengerti kan? Pihak itu sangat berpengaruh sekali. Kita akan mendapat keuntungan yang sangat besar bila berhasil mendapatkan kontak kerja itu."
"Iya tuan. Saya akan selesaikan malam ini juga sehingga besok kita bisa langsung terbang ke Korea Selatan."
"Bagus. Lihat di emailmu. Aku sudah mengirim beberapa file untuk kau pelajari."
"Baik tuan." Andi membuka laptopnya. Kemudian dengan cepat sudah fokus dengan apa yang diperintahkan tuannya.
"Andi, menurutmu bagaimana Joe sekarang?"
"Apa dia masih menjalani hidup sehatnya?"
"Masih tuan." Andi memandang tuan besarnya itu. Sepertinya sedang gundah. Mengingat kelakuan Joe yang hampir saja menghancurkan bisnisnya gara -gara dekat dengan seorang bernama Carol. Wanita itu tampak mencurigakan.
"Anda tak perlu cemas tuan. Saya yakin tuan Joe pasti bisa mengurus perusahaan nona. Perusahaan itu tak lebih besar dengan perusahaan tuan di Amerika."
"Ya. Aku juga percaya padanya."
Andrew menepuk bahu Andi. Perasaannya lebih tenang sekarang. Andi akan disampingnya lagi. Dan Joe sudah mendapat sekretaris baru yang menurut Andrew lumayan juga cara kerjanya. Andi memang bisa diandalkan dan mampu menilai orang. Tak sia - sia ia bekerja belajar bertahun -tahun bersamanya.
***
Shinta menggeliat pelan. Pagi masih buta. Namun ia harus membuka mata untuk memulai hari ini. Sekolah masih harus ia jalani. Yup! Tinggal beberapa bulan lagi ia akan lulus. Tinggal menghadapi ujian kululusan setelah itu ia bisa bernafas lega.
Shinta melirik mahluk tampan yang sedang menderu lembut. Nafasnya berhembus teratur. Joe masih terlelap. Shinta seperti melihat keindahan pagi yang sempurna. Tuhan, kau ciptakan makhlukmu dengan segala keunikan yang berbeda. Indah sekali.
__ADS_1
Shinta memiringkan tubuhnya untuk menatap wajah yang putih itu. Melihat mata yang terpejam itu. Bulu mata yang lentik dan alis yang tebal. Hidung mancung. Bibir merah merona.
Shinta mengangkat tangannya menyentuh pipi Joe lembut. Ia menyunggingkan senyum manis. Kalau kau diam begini rasanya ingin memelukmu. Aduh Shinta, malu banget deh!
Wajah Shinta merona. Bak tomat matang. Merasakan keinginannya yang datang tiba - tiba. Pagi - pagi sudah memikirkan hal mesum. Shinta pun menangkup pipinya. Ah, rasanya gila kalau dia terus begini. Tidur sekamar denganku.
Suara gumaman terdengar lirih. Joe menggeliat pelan. Meraih tubuh Shinta. Memeluknya erat. Eh? Shinta terkejut. Tangan besar itu sekarang ada di pinggangnya.
Joe mengerjap pelan membuka matanya. Ia menarik bibirnya keatas. Memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Shinta.
"Morning, Honey." sapanya dengan suara khas bangun tidur.
"Hmmm." Shinta menyibak selimut. Ingin turun dari ranjang.
"Mau kemana?"
"Mandi. Sekolah."
"Tidur lagi yuk. Masih pagi Honey."
"Ish! Lihat mataharinya Mas. Sudah naik. Nanti telat."
Joe cemberut. Kenapa harus pagi sih? Aku kan jadi kelewatan momen indah bersama Honeyku. Huh! Aku juga harus kerja ya? Bisa nggak aku libur panjang seperti bulan madu. Ah benar! Joe terus bermonolog sambil melihat Shinta yang sudah meraih handuk mandi dan menghilang dibalik pintu kamar mandi.
***
Terimakasih sudah membaca
jangan lupa like komen tip dan vote ya
nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
peluk cium DevaNurAna
__ADS_1