Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Pertimbangan


__ADS_3

Selamat membaca ^_^


***


Mata Shinta tak lepas memandang wajah laki - laki dihadapannya ini. Yang sedang fokus pada makan malamnya.


Setelah perjalanan dari pantai sore tadi, Shinta terus saja memandang paras tampan nan menawan ini. Laki - laki yang sudah bersamanya hampir selama tiga tahun terakhir ini. Parasnya dulu sangat angkuh. Suaranya keras dan selalu mengejeknya anak kecil atau bocah. Dulu dengan nada tingginya ia selalu ketus berbicara pada Shinta. Wajahnya juga distel seangkuh mungkin dengan sorot mata menusuk. Mengatur hidup Shinta seenaknya. Tentang makanan, tatanan rumah dan lain - lain. Joe tak pernah bertanya Shinta suka atau tidak. Shinta mau apa tidak. Hanya menggertak Shinta. Dan Shinta mau tidak mau mengikuti katanya.


Sekarang sorot mata itu berubah. Lembut dan teduh. Menyimpan cinta dan rasa ingin memiliki yang besar. Shinta menyadari perubahan itu. Namun kenapa ia masih ragu untuk berkata iya. Apa yang membuatnya tidak yakin pada ketulusan Joe? Padahal dari sorot mata yang ditunjukkan saja sudah terlihat bahwa Joe sangat mencintainya dan menginginkan dirinya.


Shinta mengingat kata - kata Anin. Matanya masih tak terlepaskan dari pemandangan bak pahatan sempurna dari sang maha kuasa dihadapannya ini. Anin mengatakan disela - sela suara tawanya.


"Benar kau tak punya perasaan apa - apa sama Joe? Saat tiba-tiba dia memeluk mu atau mencium mu? Apa kau tidak merasakan merinding dan merasakan ketagihan terhadap sentuhannya? Benar rasa nya hambar? Aku sungguh tidak yakin Shin. Mau dilihat dari sudut mana pun Joe itu perfect meski dilihat dari Sabang sampai Merauke. Atau dilihat dari sedotan es dari puncak Himalaya." Anin berapi - api. Penilaiannya memang benar.. Shinta menundukkan kepala saat itu juga. Shinta mengaku kalah bersilat lidah dengan Anin. Anin benar. Ia selalu mampu menebak apa yang dipikirkan Shinta. Sekalipun Shinta tak mengatakan apapun padanya.


Mas Jonathan memang keren sih. Siapa yang tidak jatuh hati padanya? Wajah blesteran itu sudah terpadu sempurna bagai pahatan maha karya luar biasa dari sang khalik. Tapi aku belum yakin dengan perasaan ku. Memangnya harus secepat itu menerimanya? Aku tidak mau semudah itu ia mendapat kan hatiku. Tidak! Salah dia sendiri dari awal menyebalkan sih. Saat perasaan ku tertuju padanya, dia bilang punya kekasih di sana dan meninggalkan aku begitu saja disini.


"Hei, Honey. Kenapa kau melototiku terus dari tadi? Ada sisa saus dibibir ku?" tanya Joe heran. Ia sudah merasa risih diperhatikan Shinta. Ia mengelap ujung bibirnya dengan tisu. Mengakhiri makan malamnya.

__ADS_1


"Eh, tidak Mas." kata Shinta terbata. Dia menunduk malu. Ia kembali memperhatikan makan malamnya. Menyendok perlahan masuk ke mulutnya.


Joe menghabiskan susu hangatnya. Melirik sedikit lewat ekor matanya. Memperhatikan Shinta. Perasaannya tercampur aduk. Ini sungguh awkward.


Joe berfikir dalam. Ia sangat menginginkan Shinta, terus berada disisinya. Namun apa daya bila Shinta memilih untuk berpisah? Joe pun tak bisa apa - apa. Mengejar seperti apapun, jika perasaan itu tak ada, memaksa itu namanya. Joe menggeleng kuat. Tidak! Belum saatnya menyerah!


Joe sudah menyelesaikan minumnya. Ia beranjak dari duduknya. Melirik Shinta lagi. Ingin memandang wajahnya sebentar, meski wajah itu ditekuk memandang makanannya yang tak kunjung habis.


"Kau tak berselera untuk makan, Honey? Apa kita keluar saja mencari makanan yang kau inginkan?" tanya Joe. Tubuhnya sudah tegap berdiri memandang Shinta.


Shinta menghentikan adukan sendok ditangannya, mendengar suara Joe yang lembut. Ia sedikit terkejut. Ia pun mendongakkan kepalanya. Memandang mata teduh Joe.


Joe melangkahkan kakinya mendekat. Duduk disebelah Shinta. Kemudian ia menarik piring Shinta. Meraih sendok yang dipegangnya.


"Buka mulut mu, Honey." kata Joe, sudah menyendok nasi dan sedikit lauk didepan mulut Shinta. Sesaat Shinta hanya bisu. Tak sadar akan keterkejutannya. Ia pun membuka mulutnya perlahan. Mengunyah pelan.


Joe tersenyum. Mengelus puncak Shinta lembut. Seperti kegiatan yang menyenangkan, Joe pun mengulanginya sampai makanan itu habis.

__ADS_1


"Ish! Bocah manja! Mau aku suapi setiap hari ha?" tanya Joe sedikit tergelak. Lucu sekali sepertinya melihat Shinta tak bisa menolak menghabiskan makanannya. Sungguh pemandangan yang menyenangkan. Apalagi kalau bukan melihat wajah kesal Shinta.


"Makasih Mas sudah menyuapi ku. Tapi aku bukan bocah!" ketus Shinta. Bibirnya manyun. Matanya melotot memandang Joe disebelahnya.


"Iya iya. Jangan marah dong Honey." Joe meraih gelas susu. Menyerahkan pada Shinta. "Habiskan. Lalu tidur."


Shinta meminum susunya. Hampir habis. Ia letakkan dimeja didepannya.


"Aku naik dulu Mas. Selamat malam." Shinta beranjak. Melangkah kaki ringan menuju peraduan. Ia harus segera masuk kamar kalau tidak ingin melihat Joe terus. Perasaannya bisa goyah. Huh! Desah Shinta.


Honey, entah apa yang kau pikirkan tentang ku. Tapi sebelum kau menjawab akhir kisah kita, aku akan berjuang untuk mendapatkan hatimu. Joe memandang tubuh Shinta mulai menaiki tangga dan menghilang dibalik pintu kamarnya.


***


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa like komen tip dan vote ya

__ADS_1


Nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya


Peluk cium DevaNurAna


__ADS_2