
Selamat membaca ^_^
***
Joe sudah selesai mandi. Ia memakai handuk yang ia belit dipinggangnya. Memperlihatkan tubuh atletis Joe yang indah. Terlihat otot kekar itu yang sangat menggoda. Terlihat maskulin sekali. Oh roti sobek itu, bikin jantungan. Joe menggosok - gosok rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.
Glek.
Shinta menatap penuh takjub. Membulatkan matanya lebar. Mulutnya menganga. Sekian detik ia sadar dan menutup mulutnya. Astaga. Keren sekali! Roti sobek itu. Kenapa dia sekeren ini sih? Padahal cuma ngeringin rambut rambut doang.
"Lihat air liurmu hampir menetes!" kata Joe. Melempar handuk kecil itu sembarangan.
"Ambilkan baju gantiku, suamimu ini harus ganti baju." Joe menekan kata suami.
"Ba-baju Mas Jonathan kan di lemari kamar sebelah." jelas Shinta tergagap. Dulu dia bilang jangan mimpi! Sekarang bilang suamimu? Sungguh tak konsisten orang ini!
"Coba carikan dilemarimu." Joe berkacak pinggang.
"Mana mungkin?" Shinta membuka lemarinya. Ternyata ada beberapa baju santai Joe disana. Siapa yang memasukan disini? Mbak Asih?
Shinta mengambil baju untuk Joe. Memilah yang mungkin cocok. Belum juga Shinta memberikan pada Joe, Joe sudah mendekati Shinta.
Shinta terkejut merasakan kehadiran tubuh Joe yang terlalu dekat. Shinta membelalakan mata dan nafasnya sudah memburu. Jantungnya memacu lebih cepat. Tubuhnya beku. Joe berdiri dibelakangnya tanpa ada jarak sesentipun. Meraih bajunya dari lemari.
Joe mendekatkan wajahnya di pundak Shinta. Tubuh Shinta menjadi kaku membisu.
"Thanks honey," bisik Joe tepat ditelinga Shinta. Shinta memejamkan mata. Takut. Jiwanya benar - benar tergoyah.
Deg. Detakan itu terasa sampai ubun-ubun. Hampir saja meledak. Di-dia gila ya? Mau membuatku jantungan?
Joe meraih bajunya. Melihat wajah Shinta dari samping, terlihat wajah terkejut yang membeku. Kemudian Joe melangkahkan kakinya masuk kekamar mandi. Mengganti bajunya.
__ADS_1
Shinta duduk berselonjor kaki di ranjangnya. Huh! Selalu seenaknya! Suka sekali membuat hatiku ambigu begini. Sialan tuh orang! Kalau dia sedekat itu mana mungkin aku tidak suka padanya? Bagainana dengan Mas Rendra? Hiks Shinta memukul kepalanya sendiri. Merasa bodoh.
Ia menerawang jauh. Sudah lama Rendra tak ada kabar. Entah apa yang terjadi. Terakhir hubungan mereka tak ada masalah. Membuat Shinta sedih dan tanpa arah. Dilain sisi sikap Joe padanya semakin manis, membuat Shinta jadi bimbang. Kalau ingat akting kelas dunia Joe, Shinta jadi merengut sedih karena bisa jadi Joe hanya menggodanya. Dia bingung harus bagaimana bersikap pada Joe.
Joe keluar dari kamar mandi. Kemudian beringsut ke ranjang. Merebahkan tubuh besar itu disebelah Shinta.
Shinta terkejut. Joe membuyarkan lamunannya.
"Kenapa tidur disini Mas?" tanya Shinta.
"Kenapa? Aku mau tidur disini." ketus Joe.
"Aku nggak mau kamu tidur disini mas! Keluar!" Shinta mendorong tubuh Joe.
"Kau takut ya? Tenang saja aku sudah pakai pengaman Honey." bisik Joe. Menggoda Shinta yang sudah merona merah dipipinya.
Glek. Shinta menelan ludah. Astaga. Ini benar - benar gila!
"Honey, kiss me please." goda Joe.
"Jangan panggil aku honey!" Shinta mendorong tubuh Joe lagi. Tapi tubuhnya sama sekali tak bergerak. Joe hanya tergelak. Lucu sekali bocah ini.
Joe mengubah posisi tidurnya. Sekarang ia memiringkan tubuhnya menghadap Shinta.
"Bagaimana hubunganmu dengannya?" tanya Joe. Sebut Rendra.
"Baik - baik saja kok Mas." Tapi ekspresi Shinta sendu.
"Sampai kapan kamu mau begini padanya?" Joe ketus. Merasa Shinta tak bisa jujur pada kekasihnya sendiri. Shinta hanya diam. Menunduk dalam. Ia tak tau sampai kapan ia sembunyikan Joe dari Rendra.
"Apa kau ingin segera mengakhiri hubungan kita agar kau bisa bersamanya?" tanya Joe kemudian.
__ADS_1
"Tentu saja. Memang kita ada hubungan apa sampai harus dipertahankan terlalu lama?" Shinta mencibir.
"Anak ini! Apa kau benar - benar mencintainya?" Joe selalu ketus bicaranya. Membuat Shinta juga ketus menjawab.
"Tentu saja. Dia laki - laki yang baik dan pintar."
"Apa dia lebih baik dariku?"
"Itu sudah pasti kan?"
"Bocah ini! Aku lebih baik tau! Awas menyesal kau nanti memilih dia."
"Aku takkan menyesal memilih dia."
"Apa kau juga pernah berciuman dengannya?"
"Bisa tidak dilupakan saja." Shinta merasa sangat malu. Tapi Joe dengan santai mengatakan itu.
"Mana mungkin bisa." Joe menyentuh bibirnya sendiri. "Ingin rasanya aku ulangi lagi, honey." bisik Joe kemudian.
"Maumu apa sih Mas? Kau lupa kau pernah bilang apa padaku? Kau bilang hanya sebagai kakak! Bukan suami! Kau lupa? Jangan mempermainkan perasaan orang seenaknya!" Shinta berkata penuh emosi. Ia benar - benar kesal. Joe selalu bicara tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Shinta meraih selimut. Tubuhnya merosot masuk dalam selimut. Kemudian memejamkan mata membelakangi tubuh Joe.
***
Terima kasih sudah membaca^_^
jangan lupa like komen tip dan vote ya
nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
__ADS_1
peluk cium DevaNurAna^_^