Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Mengigau


__ADS_3

Selamat membaca^_^


***


Tawa masih menghiasi wajah Joe. Seperti mendapat hiburan dikala lelah tubuh dan batin baginya, sungguh mencairkan hati Joe yang tengah gundah. Air mata kecil pun sampai keluar dari ujung matanya. Ia mulai diam. Menghembuskan nafas kasar kemudian bersandar di kursi mobil. Menerawang dalam.


Ia memikirkan Carol. Wanitanya sudah berjanji tidak akan kencan dengan laki - laki manapun lagi. Carol juga berjanji akan kerja yang lain. Joe akan membantu mengirim uang untuknya. Jadi Carol takkan kesulitan uang lagi.


Joe menghela nafas lega. Kemudian dia memejamkan matanya. Menikmati hawa dingin mobil. Ia menguap berkali - kali. Ia lelah dengan perjalanan dari Amerika ke Indonesia yang memakan waktu cukup lama. Ia merasa kantuk merajai tubuhnya.


Tak terasa Joe terlelap. Bersandar dibahu Shinta. Shinta terkejut menahan berat kepala Joe.


Shinta menepis kepala Joe dan menyandarkan kepala Joe ke belakang. Tapi seperti menemukan tempat PW(paling wenak). Joe malah memeluk Shinta erat dan kembali bersandar di bahu Shinta. Joe tidak sadar menggosok - gosok wajahnya dibahu itu. Menentukan tempat untuk terlelap lebih nyaman.


Deg. Jantung Shinta berdegup lebih cepat. Joe mempererat pelukannya. Shinta sama sekali tak bisa bergerak. Joe mendekapnya kuat.


Dia mau membunuhku ya? Kenapa jalan kerumah lama sekali sih. Aku lelah.


"Pak, tolong cepat." kata Shinta pada Andi.


"Didepan macet panjang nona. Bersabarlah. Tuan pasti sangat lelah sekali." kata Andi.


Sial! Kenapa kau seperti sengaja sih? Ngerjain aku lagi ya? Shinta mencebikan bibirnya.


Andi tidak bohong. Didepan memang sedang ada truk besar memutar jalan. Jadi banyak mobil terhenti untuk menunggu truk itu lewat dengan lancar.


***


Mobil masuk halaman rumah Shinta. Shinta bernafas lega. Ia mencoba melepaskan pelukan Joe. Tapi tenaganya tak cukup kuat.


Andi membuka pintu mobil. Ingin membangunkan tuan mudanya.


"Tuan sudah sampai," kata Andi.

__ADS_1


"Sebentar lagi mommy, Joe masih ngantuk." kata Joe mengigau. Joe bahkan tak merenggangkan sedikitpun pelukan itu.


Shinta tersenyum. Menahan tawa. Pfftt... Ini apaan sih? Lucu sekali.


"Tuan, sudah sampai." kata Andi sambil menggoyangkan tubuh Joe.


"Hmmm..." Joe membuka mata. Ia mengerjapkan mata berulang mengembalikan nyawanya.


Joe menoleh ke arah Shinta. Bahkan dekapannya belum ia lepas. Mereka begitu dekat sampai Joe bisa melihat leher jenjang Shinta.


Glek! Putih dan mulus, batin Joe tanpa sadar.


Joe menatap dengan nafas memburu. Jantungnya mulai berdegup kencang. Shinta tersadar. Ia pun mengalihkan pandangannya. Tak ingin Joe menatapnya lebih lama lagi.


"Lain kali jangan kuncir seperti ini! Jelek sekali! Belum keramas ya?" suara Joe ketus. Menarik karet yang menyatukan rambut itu. Rambut Shinta terurai. Jatuh terbuai berantakan.


Joe tertegun sesaat. Rambut itu diraih Joe. Halus dan wangi.


"Benar apa kataku. Kau belum keramas. Rambutmu bau sekali bocah!" Joe tersenyum mengejek.


Arghhh! Dia menyebalkan! Shinta.


Sedangkan Andi tersenyum penuh arti dengan kejadian didepan matanya.


***


Shinta mencoba menutup matanya. Besok ujian tengah semester akan dimulai. Dia harus tidur agar besok bisa menjawab semua soal dengan benar.


Tapi bukan itu yang ia pikirkan. Shinta memikirkan kejadian dimobil tadi. Jantungnya berdegup lebih cepat lagi. Dia tak bisa memungkiri perasaannya yang sebenarnya.


Kemudian Shinta cekikikan. Mengingat kelucuan Joe saat mengigau tadi. Dia bisa selucu itu ya? Ah, kenapa tadi nggak aku rekam video sih? Hihi.


Kemudian Shinta ingat dikerjai Andi.

__ADS_1


Aku tidak akan menuruti kata - kata Pak Andi lagi.


Tring. Ponsel itu berdering.


Malam ayangku. Lagi apa?


Glek. Shinta pias. Tersadar dengan Rendra yang sekarang menjadi kekasihnya.


Nggak lagi apa - apa kok mas. Shinta.


Ponsel itu berdering lagi. Rendra melakukan panggilan video.


"Ayangku. Hehe... udah belajar belum? Semangat ya besok ujiannya," kata Rendra diseberang tertawa kecil. Wajahnya nampak bahagia sekali.


"Udah dong. Mas Rendra juga semangat besok ya," Shinta tersenyum manis.


"Ah, aku jadi nggak bisa tidur nih malam ini." Rendra berdecak.


"Eh? Kenapa mas?" tanya Shinta heran.


"Karna senyum kamu manis sekali. Aku meleleh ayang," Rendra tergelak sendiri. Menutup mulutnya rapat. "Mimpi- in aku ya, love you." cup. Kecupan jarak jauh disematkan. Rendra tersenyum tulus.


"Ya," jawab Shinta. Shintapun tersenyum. Tapi kemudian sedih bergelayut di hati Shinta.


Maaf, batin Shinta


***


Terima kasih dah baca ya ^_^


Aku tunggu like komen tip dan vote ya


Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya

__ADS_1


Peluk cium DevaNurAna^_^


__ADS_2