
Selamat membaca^_^
***
Shinta sudah membersihkan diri. Dia memakai atasan oblong kebesaran dan hot pant. Baju santai paling nyaman untuknya.
Mbak Asih sudah memanggilnya untuk makan malam bersama. Shintapun turun untuk mengisi perutnya.
Shinta melihat Joe dan Andi yang sudah duduk tenang disana.
Shinta makan dalam diam. Hanya mendengar perbincangan mereka tentang usaha Joe yang akan segera di buka. Shinta tidak sepenuhnya mendengarkan.
Bodoh amat! Shinta.
"Hei, weekend ikut aku ke peresmian tempat GYM ya?" Kata Joe pada Shinta.
Shinta acuh. Dia hanya fokus pada makananya.
"Kamu dengar aku tidak?" Tanya Joe ketus.
"Maaf tuan. Saya punya nama!" Shinta menatap Joe tajam.
"Mulai berani ya." Kata Joe dengan nada mengejek. "Kalau besok kau tidak siap, awas kau!" Ancamnya.
"Ya," jawab Shinta singkat. Kalau sudah diancam begini membuatnya bergidik takut. Apalagi mata Joe yang sudah melotot seperti hendak menelan apapun.
Huh! Percuma aku khawatir >ama dia saat pergi ke Amerika. Ternyata pulang pun sifatnya masih sama. Shinta
Shinta menyelesaikan makanannya dengan cepat. Kemudian menghabiskan susu hangat disampingnya.
Shinta naik ke kamarnya. Tak menghiraukan Joe dan Andi yang masih makan.
"Tuan lupa nama nona muda?" Andi.
__ADS_1
"Memangnya aku tua sepertimu jadi aku pelupa? Sialan!" Kata Joe kesal. Bocah ini mulai kurang aj*r padaku!
"Nona muda jadi ngambek. Ck! Kasian. Suami macam apa tidak mengingat nama istrinya sendiri," gumam Andi namun terdengar jelas di telinga Joe.
"Cih! Biarkan saja!"
"Tuan lupa kemaren malam, Tuan bahkanKmengigau didepan nona muda." Andi tertenyum mengejek.
"Aku?" Tanya Joe nampak terkejut. Andi mengangguk.
Sial! Kenapa dia harus tau kebiasaan burukku sih! Batin Joe
"Nona muda tertawa saat itu." Andi
"Kenapa kau katakan? Sudah pasti dia akan menertawakan aku! Menyebalkan!" Joe ngedumel. Andi terkekeh melihat Joe nampak sudah pias.
***
Agar lebih privasi dari pada harus di ruang tamu atau ruang tengah. Yang pasti, Andi tak ingin nona mudanya mendengar apapun yang tak boleh ia dengar.
Joe membaca setiap rincian laporan itu. Andi sungguh teliti dalam hal laporan. Kinerjanya memang sudah tidak diragukan lagi. Dia bahkan sudah ikut Andrew belasan tahun. Andi paham betul keinginan tuan besarnya.
Andi sudah makan pukulan dan cibiran dari Andrew. Itu sebabnya kinerjanya dan hasil akhirnya ia kerjakan dengan begitu sempurna. Dia susah payah untuk mendapatkan posisi ini. Posisi dimana ia ada dibalik Tuan Besarnya yang terhormat.
"Pemilikan saham sudah berganti nama. Tinggal sedikit lagi." Gumam Joe. Investasi di perusahaan Paman Shinta memberikan Joe kepemilikan saham sebesar 30 persen. Itu awal yang cukup bagus bukan. Setelah ini Joe akan menarik saham kepemilikan atas nama Raditya selaku pemilik terbesar. Kemudian mengusir Paman dari perusahaan itu secepatnya.
"Tuan tidak perlu buru - buru. Santai saja." Kata Andi.
"Kau benar Andi. Mereka tidak akan jauh - jauh dari kita. Good job!"
"Ah, kemarin ada yang bilang tidak becus kerja ya? Sudah lupa mungkin."
"Apalagi? Pendendam sekali kau ini. Sekarang aku memujimu. Harusnya kau bersyukur,"
__ADS_1
"Ya syukurlah. Setidaknya aku tidak akan diusir dari sini,"
"Kau benar - benar pendendam ya."
Andi dan Joe tergelak. Merasa rencana mereka sudah mulai berjalan sesuai keinginan mereka.
"Andi, apa ada yang aku lewatkan saat aku pulang ke Amerika?" Tanya Joe.
"Tidak Tuan,"
"Katakanlah. Aku ingin dengar semuanya."
Glek.
Akhirnya setelah berdiam lama. Andi bersiap menceritakan kejadian hari demi hari. Dimana Shinta dua hari pulang malam diantar oleh laki - laki. Andi juga bilang pertama Shinta hanya minta ijin untuk tidak dijemput. Namun selalu pulang telat.
"Bagaimana orangnya? Masih sekolah?"
"Dari emblem sekolahnya, laki - laki itu satu sekolah dengan nona Tuan."
Joe sudah mengira itu pasti Rendra.
Sial! Joe
***
Terima kasih dah baca ya ^_^
Aku tunggu like komen dan vote
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya
Peluk cium DevaNurAna^_^
__ADS_1