
Selamat membaca
***
Tangan kanan Shinta melambai seiring datangnya orang yang ia nanti. Gadis, oh maaf ia sudah sudah menjadi wanita dewasa sekarang. Anin nampak sudah jauh dari beberapa bulan yang lalu. Wajahnya terlihat lebih fresh. Mungkin bawaan hamil kali ya. Anin sudah hamil lima bulan. Perutnya sudah kentara agak buncit. Setelah pernikahannya di gelar secara besar, ia dan Revan nampak sangat bahagia.
Anin berjalan menghampiri Shinta duduk dengan santai makan spaghetti bolognese-nya.
Shinta sudah janjian sama Anin di caffe ini. Karna Anin katanya sudah kangen pengen ketemu. Anin sudah berapa bulan ambil cuti kuliah.
"Siput banget sih Nin." kata Shinta sebal. Saat Anin duduk pelan memegang perutnya. Sudah setengah jam Shinta menanti kedatangan sahabatnya itu.
"Maaf, bumil baru keluar dari goa ya harus bebenah lama." kata Anin santai. Ia melambai pada salah satu pramusaji di caffe itu untuk memesan sesuatu.
Dengan senyum pramusaji itu mendekat dan menuliskan pesanan Anin.
"Kelamaan ganti baju kan?" tanya Shinta melihat perut Anin yang sudah terlihat buncit.
"Hehe... Iya. Udah pada nggak muat dan nggak cocok buat jalan. Banyak yang nggak mix and match gitu." keluh Anin.
"Alah kamu tuh gaya banget Nin. Udah nikah aja masih mix and match. Haha..." Shinta meledek sahabatnya yang kelewat centil itu. Memang ya Anin itu tak bisa kalau nggak fashionable.
"Hei, mix and match itu penting tau! Harus tetap gaya walau sudah tidak gadis lagi. hehe..." sergah Anin. Sambil menerima pesanan lemon tea pesenannya. Ia meneguk pelan. Ah, segar sekali.
"Iya iya, bumil mah maha benar deh." kata Shinta memutar bola matanya jengah. Nggak ada yang bisa membantah bumil deh. Ngalah saja.
"Kamu pesen makan? Tadi nggak sempat makan siang ya? Ini kan sudah kelewat jamnya Shin." Nggak takut gendut ya?
__ADS_1
"Terus aku harus minum aja gitu nungguin kamu kelamaan? Tadi udah makan sih, tapi lihat di menu kayaknya enak." jelas Shinta.
"Ya ampun Shin, cuma setengah jam bawel banget sih." Anin manyun.
"Mau nggak nih cobain enak banget lho spaghetti bolognese-nya." Shinta menyodorkan piring spaghetti itu didepan Anin.
"Nggak mau. Bisa tambah berat nih tubuhku." Anin menolak." Eh, aku lihat kamu kayak beda ya Shin, terakhir kali pipi kamu nggak setembem ini." Anin meraih pipi sahabatnya itu menyubit gemas.
"Arrrggghhh... ish Anin! Sakit tau." Shinta mengelus pipinya. Bibirnya mencebik kesal. "Masak sih? Mas Joe nggak bilang aku gendutan kok."
"Mana berani? Paling juga takut kalau kamu ngambek." Anin terkekeh mengatakan fakta sebenarnya. Joe sekarang lemah didepan Shinta. Cinta buta itu nyata ya.
"Nggak tau ah."
"Kenapa sih? Kok mood mu kayaknya buruk ya? Dari tadi ngegas melulu."
"Huh... Tadi aku ke kantor Mas Joe. Kamu tau kan Yuna Nadira? Dia keluar dari ruangan mas Joe, sebal banget tau lihatnya." Shinta mulai ceritanya. Geram - geram mengingat bagaimana Yuna Nadira melihatnya dan melengos begitu saja. Apalagi Shinta sudah baik mau tersenyum, eh dengan angkuhnya ngeloyor begitu saja. Mana mungkin nggak kesal coba.
"Aku takut dia marah, makanya aku nggak nanya ngapain Yuna itu di ruangannya. Kata sekretarisnya sih cuma jadi brand ambassador gitu."
"Jadi brand aja kamu udah cemburuan gitu. Ya ampun, curigaan amat sih buk. Cemburu juga ada waktunya dong." Anin meledek kecemburuan sahabatnya itu yang menurutnya berlebihan. Tidak biasa Shinta segitu cemburunya pada Joe. Ya mana mungkin tidak cemburu kalau ia merasa levelnya sudah berbeda.
"Kamu nggak tau sih Yuna pakai baju kurang bahan ke kantor suami aku, menurut kamu aku harus tenang gitu?" suara Shinta ketus.
"Hmmm... Auk ah! Orang cemburu buta emang susah untuk dikasih tau." Anin memutar bola matanya jengah.
Uhg!
__ADS_1
Shinta menyeruput secangkir teh hijau di depannya untuk menenangkan moodnya. Sebenarnya ia kalau kesal nafsu makannya bertambah drastis. Entah kenapa sepertinya itu berhasil meredam kemarahan.
"Nin, aku lagi pengen makan martabak manis deh." kata Shinta tiba-tiba.
"Pesen aja."
"Pengen makan di pinggir jalan gitu. Ke alun-alun kota yuk. Katanya ada pasar malam. Sore pasti dah ramai."
"Udah ijin sama Joe?"
"Belum. Nanti aku kabari dia. Kamu juga jangan lupa kabari Revan."
"Siap. Nanti aku suruh ke sana deh."
"Eh? Terus aku jadi apa? Obat nyamuk bakar?"
"Haha... Baper banget sih buk. Sana ajak suaminya. Biar kita sekalian double date."
"Dia sibuk. Ya udah deh yuk berangkat. Nanti keburu jalan deket alun-alun macet."
Shinta mengambil tas disampingnya dan membayar tagihan pesanannya. Anin juga siap-siap untuk keluar dari caffe itu.
***
terima kasih sudah membaca
jangan lupa like komen tip dan vote ya
__ADS_1
nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
peluk cium DevaNurAna