
Selamat membaca ^_^
***
Joe pulang dengan peluh membasahi tubuhnya. Hari ini memang banyak menguras tenaga. Karna harus memindahkan ini itu ditempat semestinya. Tempat GYM yang ia rencanakan sudah hampir rampung. Tinggal merapikan sedikit dan akan cepat selesai. Tapi sampai malam ini pun belum selesai juga. Pemindahan alat berat itu yang paling menguras energi. Lelah sekali!
Joe menghela nafas berat. Pikirannya pun menerawang. Ia ingat video yang diputar Andi kemarin. Sungguh mengoyakkan hatinya. Tapi ia tak bisa percaya sepenuhnya. Ia ingin memastikan sendiri. Apa gadisnya yang teramat dicintainya itu benar -benar sudah berpaling? Aku merindukannya, bisik Joe.
Andi melihat wajah kusut tuannya itu. Tiket sudah disiapkan olehnya. Tuannya besok siap berangkat.
"Sebaiknya tuan memberitau nona muda akan keberangkatan tuan besok," ujar Andi.
"Tidak perlu. Biar Asih nanti yang memberitau. Untuk beberapa hari kau urus dia ya." kata Joe. Dia benar - benar tak punya tenaga sekarang.
"Nona muda pasti sedih ditinggalkan Anda untuk menemui perempuan itu."
"Dia takkan sedih."
"Oh ya? Anda sudah pastikan?"
"Andi tolong kali ini saja jangan memancing kemarahanku." Joe benar - benar lelah meladeni Andi.
"Aku hanya ingin memastikan Nona tidak sedih karna kepergian tuan muda yang tanpa pamit." Andi mengikuti tuannya yang beranjak ke meja makan.
"Baiklah. Aku akan pamit setelah makan." Joe pasrah. Tak ada tenaga membantah Andi.
Joe mengambil piring dan nasi sedikit. Ada kentang balado. Sepertinya enak. Ia memang suka masakan indo. Mommynya sering memasakan masakan seperti ini di rumahnya. Joe makan dengan lahap. Benar - benar enak sekali! Joe berbinar. seperti ingat masakan mommy. Kangen.
Mbak Asih tergopoh dari kamar belakang. Seperti ada yang ia lupakan. Wajahnya nampak pias pasi melihat tuannya sudah makan dimeja itu. Mbak Asih mendekat dengan gemetaran. Sebelum semuanya terlambat.
"Maaf tuan, kentang balado tadi ada udangnya." kata Mbak Asih menunduk. Ia sudah melakukan kesalahan. Joe pasti akan marah.
"Apa?!" Joe tersedak matanya terbelalak. Melototi makanan itu. Ia buru - buru minum air putih dengan tergesa.
__ADS_1
Andi langsung menelfon dokter. Tau akan apa yang akan terjadi pada tuan mudanya. Dari dulu Joe tidak bisa makan masakan dengan campuran udang.
"Siapa yang masak makanan itu? Bukannya kamu? Ceroboh!" Andi marah menghampiri Mbak Asih yang menunduk dalam. Mbak Asih nampak ketakutan.
"Ma-maaf tuan. Te-temannya nona yang membawa makanan itu." jawab Mbak Asih terbata.
"Kenapa tidak disingkirkan? Kau mau meracuni tuanmu? Padahal aku sudah memperingatkan mu! Kalau kau ulangi lagi kesalahanmu kali ini kau tamat!" Andi berdecak.
Andi menahan untuk memukul Asih. Takut kalau Shinta akan melihat. Kemudian Andi membawa Joe ke kamar atas. Merebahkan tuan mudanya.
Tubuh tuannya sudah penuh dengan ruam kemerahan. Alerginya mulai menyebar keseluruh tubuh. Tangan Joe tak henti menggaruk. Sial! umpat Joe.
Dokter datang memeriksa keadaan Joe. Dokter memberi obat dan salep dingin untuk mengurangi ruam.
Shinta yang mendengar kegaduhan di kamar sebelah langsung keluar memastikan. Menyuruh Anin tetap dikamarnya menunggu.
"Ada apa Pak Andi? Kenapa ada dokter?" tanya Shinta saat melihat Andi didepan pintu kamar Joe.
"Tuan muda mengalami alergi nona. Oleskan salep ini pada tubuh tuan. Saya akan mengantar dokter ke depan." kata Andi sambil memberikan salep dingin pada Shinta.
Shinta mengetuk pintu kamar Joe, kemudian ia masuk perlahan.
Joe sudah tak pakai apapun kecuali celana pendek hitam. Dia sudah meminum obat yang diberikan dokter. Tapi ruam merah itu masih saja gatal.
Deg. Kulit putih Joe terekspos. Membuat jantung Shinta berdetak tidak karuan. Ini pengalaman pertama melihat tubuh laki-laki selain Papa dulu. Apalagi tubuh Joe yang berotot itu. Tuhan, sempurna sekali sampai mata ini melihat itu dengan laparnya. Shinta menggelengkan kepala pelan, kemudian ia menunduk.
"Ada apa?" tanya Joe saat melihat Shinta di belakang pintu. Ia hanya melihat sekilas kedatangan Shinta. Ia masih fokus dengan gatal ditubuhnya.
"P-pak Andi menyuruhku mengoles salep dingin mas." kata Shinta terbata. Ia kikuk melihat pemandangan didepannya ini. "Aku bantu oleskan ya?" Shinta meminta ijin.
"Cepetan! Aku sudah tidak tahan." kata Joe sambil masih menggaruk. Ah sial! Gatal dan panas sekali tubuhku.
Dengan perlahan Shinta duduk ditepi ranjang. Mengoles dengan ragu - ragu keseluruh tubuh Joe. Mulai dari wajah, dada dan kaki. Ia menutup mata saat jemari itu menyentuh tubuh Joe.
__ADS_1
Deg. Jantung itu terus saja berdetak tak karuan. Mengisyaratkan ketertarikan yang luar biasa. Shinta menghembuskan pelan agar Joe tak mendengar ketidaknyamanan posisi Shinta. Apalagi akan mendengar deru nafas itu sudah ingin memburu.
Joe hanya melihat wajah Shinta yang nampak aneh. Kenapa anak ini? Lucu sekali ekspresinya. Menahan apa coba begitu? batin Joe. Senyum tipis tercetak jelas di bibirnya.
Joe mengubah posisinya, Ia tengkurap sekarang. Joe meminta Shinta mengoles disana. Shinta patuh. Tapi hatinya semakin bergetar tidak karuan. Hatinya tak bisa berbohong. Ia sudah mulai menyukai Joe.
Joe membalik tubuhnya. Rasa gatal mulai mereda. Joe lega.
"Terima kasih," bisik Joe.
"Mas Jonathan istirahat ya. Aku balik ke kamar dulu. " Shinta tak sanggup terus berada didekat Joe. Joe makin memikat hati Shinta.
"Ya, tidurlah. Oh ya, besok aku akan pulang ke amerika hanya beberapa hari." Joe minta ijin.
"Ada apa mas? Apa Tante Rania dan Tuan Andrew ada masalah?"
"Tidak. Aku mau ketemu Carol,"
"Si-siapa dia?" tanya Shinta setengah berbisik.
"Kekasihku."
Deg. Shinta beranjak dari duduknya. Memalingkan wajahnya. Kemudian keluar dari kamar Joe.
Sakit.
***
Terima kasih sudah membaca^_^
jangan lupa like komen tip dan vote ya
nantikan kelanjutan kisah Joe dan Shinta
__ADS_1
peluk cium DevaNurAna^_^