Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Rencana


__ADS_3

Selamat membaca


***


Dapur sebuah rumah itu tampak sibuk. Dua orang hilir mudik membereskan pekerjaan dapur. Satunya sedang memasak untuk sarapan pagi ini. Satunya lagi sedang memotong daging ayam dan ikan.


Peluh bercucuran tak terelakkan di kening Shinta. Membasahi wajahnya. Saat ini ia sedang memasak capcay dengan isi wortel, kembang kol, paprika hijau dan praprika merah ditambah irisan sosis. Ia tampak terampil menumis sayur itu. Memberi beberapa bumbu dan mencicipi masakannya.


Tampak mbak Asih membantunya membersihkan ikan dan ayam. Mengulek bumbu ungkep untuk ikan dan ayam itu. Masakan sebentar lagi siap untuk disantap tinggal buat sambal saja.


Shinta tampak sumringah dengan hasil masakannya. Meski tidak seterampil istri-istri pada umumnya, ia sudah bersyukur bisa menghidangkan masakan buatan tangannya sendiri. Beruntung Joe tak pernah mengkritisi masakannya. Semua yang tidak berbau udang, ia tetap akan memakannya. Apalagi masakan khas Indonesia seperti ikan pedas manis, sambal balado, semur, gulai ikan dan lain - lain. Ia takkan menolak. Malah selera makannya semakin bertambah. Kadang ia mengeluh, tubuhnya semakin berisi karna istrinya menyuguhkan makanan yang enak-enak itu.


"Kau suka perutku jadi buncit ya? Suka sekali masak yang bikin aku ngiler seharian." katanya sedikit sebal, tapi ia selalu menyempatkan pulang untuk makan siang. Shinta tersenyum mengingat wajah Joe yang kesal tak bisa menghentikan nafsu makannya.


Sejak hubungannya dengan Joe membaik, Shinta memutuskan untuk menjadi istri yang seutuhnya. Belajar memasak, bahkan ia juga ikut kursus masak di libur kuliahnya.


Selain itu, ia juga mengurus kebutuhan Joe yang lain dan tentu saja pekerjaan malam hari juga. Akhir-akhir ini, Joe terlihat semakin tampan. Wajahnya nampak selalu berseri-seri. Ia sangat bahagia. Cintanya semakin hari semakin bertambah untuk Shinta.


"Morning Honey, masak apa? Harum." Joe memeluk belakang tubuh Shinta, menyandarkan kepalanya di bahu Shinta.


"Ish! Mandi dulu sana mas." Shinta mengibaskan bahunya. Tak suka keringat Joe yang habis lari pagi itu menyatu dengan tubuhnya yang berkeringat juga. Lengket.


"Ehm..." Joe mengecup puncak Shinta.


"Jangan begini ah mas." Ekor mata Shinta melirik mbak Asih yang berada tak jauh darinya. Merasa malu.


"Kamu nggak capek? Biar Asih yang lanjutkan. Kamu istirahat dulu."


"Nggak apa-apa. Biar aku selesaikan dulu.."


Joe mematikan kompor listrik itu. Membuat Shinta membalikkan tubuhnya. Wajahnya kesal. Mendorong tubuh Joe.


"Duh... Mas kok dimatiin sih? Pergi mandi sana. Jangan ganggu aku lagi masak." Shinta kesal mendorong Joe agar menjauh. Shinta mencoba menyalakan kompor itu lagi.


Joe mendekat, memeluk erat. Nih orang sudah gila ya? Nggak lihat mbak Asih sudah cekikikan dari tadi.

__ADS_1


Shinta mencoba mendorong Joe lagi. Meraih tombol kompor untuk dinyalakan. Tapi tentu saja Joe lebih cepat menjauhkannya dari kompor itu, dan Shinta tak sekuat itu untuk melepas pelukan Joe.


"Baiklah. Mbak, tolong ya." Shinta menyerah, karna tangannya tak bisa melepas kungkungan tangan Joe.


Joe tersenyum, menggandeng tangan Shinta mengajak masuk kamar. Shinta menyiapkan air hangat dan handuk untuk Joe.


Joe masuk sudah siap untuk mandi. Baju yang ia kenakan sudah teronggok di keranjang baju kotor. Ia sudah siap akan mandi.


"Mas, jangan begitu didepan mbak Asih. Aku malu." jujur Shinta sambil membasuh tubuh Joe.


"Maaf, lain kali nggak begitu lagi."


"Kamu tuh kalau dibilangin nggak mau dengar sih. Maaf terus tapi nggak berubah." Shinta ketus.


"Hmmm." Joe sudah mulai menikmati air hangat itu diseluruh tubuhnya.


"Kamu makin hari makin kayak bocah. Manja melulu."


"Nggak tau, pengen aja nempel terus sama kamu honey."


Joe masih berbaring di bath up kamar mandi. Masih ingin berlama di rendaman air hangat itu yang penuh busa. Segarnya.


***


Duduk berdua di meja makan begini sudah menjadi kebiasaan Joe dan Shinta. Sebelum berangkat kerja, Joe harus sarapan dulu dirumah. Mungkin itu aturan atau entah kebiasaan keduanya. Shinta senang karna Joe selalu menghabiskan makanannya.


"Enak nggak mas?" tanya Shinta di sela-sela makannya.


"Enak banget. Istri siapa sih pinter banget masaknya." Joe mengusap rambut panjang Shinta lembut.


"Hehe... Istrimu lah mas. Nanti sore aku mau ketemuan sama Anin mas. Boleh nggak?"


"Dimana? Mau aku antar?"


"Nggak usah, aku pesen ojol aja. Di cafee Q.1"

__ADS_1


"Hati-hati ya. Kalau ada apa-apa langsung kabari aku. Maaf ya, aku sibuk terus jadi nggak bisa nemenin kamu."


"Nggak apa-apa mas."


Joe mengecup kening Shinta lembut. Setiap hari banyak sekali pekerjaan. Ada agenda beberapa hari kedepan yang harus Joe lakukan. Ia tak bisa mewakilkan pada Justin atau Daren.


Joe sebenarnya ingin sekali mengagendakan seminggu berbulan madu. Tapi rencana kerja sudah dibuat Daren dengan rapi. Tidak bisa di cancel atau menjadwalkan ulang.


Joe juga ingin mengunjungi Daddy dan Mommynya. Ia merindu. Sudah beberapa bulan setelah kunjungan Daddy dan mommy ke Indonesia. Apalagi sekarang ada Shinta di sampingnya. Ia ingin memperlihatkan tempat tinggalnya pada Shinta. Berkunjung ketempat yang keren di Amerika.


"Honey, bagaimana rencana honeymoon kita?" Joe sendu, menandakan ia sangat ingin pergi.


"Terserah mas saja. Mas kan lagi sibuk, kapan-kapan saja juga nggak apa-apa mas." Shinta mengelus bahu Joe dengan lembut sambil tersenyum melihat wajah cemberut Joe.


"Kalau aku sudah ada waktu aku ingin mengajakmu honeymoon. Sebulan penuh."


"Apa? Memangnya mau melakukan apa saja mas? Keliling dunia? Mendaki di gunung Himalaya?" Shinta mendengus, setiap malam saja ia sudah tidak bisa tidur karena ia selalu berselera. Ia habis kata-kata mendengar ide Joe itu.


"Kau tak senang begitu sih?" Joe tidak suka. Padahal ia sangat antusias merencanakan bulan madu ini.


"Ya kamu aneh sih mas. Mana ada bulan madu satu bulan penuh." Kalau punya pikiran dipakai kenapa sih?


"Ada. Kita nanti akan melakukannya."


"Nggak. Sudahlah habiskan sarapan mu mas. Pak Daren menunggumu di depan."


Joe merengut. Padahal pembahasan ini akan menarik kalau Shinta akan antusias. Shinta malah seperti tidak suka. Membuat Joe sedikit kesal. Ya mau bagaimana lagi, kesibukannya semakin bertambah setiap hari. Sekarang Shinta pun sudah mulai sibuk dengan kuliahnya.


***


Terima kasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote ya..


nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya

__ADS_1


peluk cium DevaNurAna


__ADS_2