Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Hotel II


__ADS_3

Selamat membaca ^_^


***


Kamar hotel itu hening sesaat. Rania masih duduk disamping Andrew. Melihat lekat kegalauan suaminya. Kenapa tidak terfikirkan sebelum semuanya terjadi? Beberapa kali ia mendesah kasar. Menghembuskan nafas berat berulang - ulang agar hatinya tenang.


Rania menatap sendu. Suaminya benar - benar khawatir dengan menantu kecilnya itu. Takut akan dipaksa melayani Joe. Andrew takut akan jadi trauma mendalam bagi Shinta kalau itu sampai terjadi. Bagaimana hidup Shinta kedepannya nanti? Begitulah Andrew berfikir keras.


"Aku takut Joe kita kasar sama Shinta Honey,"


"Tenanglah sayang. Aku sudah mewanti - wantinya tadi sebelum pergi." Rania mengelus dada bidang suaminya. "Sayang, Joe kita sudah dewasa. Dia pasti tau apa yang terbaik," lanjut Rania.


"Justru karna dia sudah dewasa, apa dia bisa menahan hasrat kelakiannya?"


"Sayang, percayalah pada Joe kita. Ia akan menjaga Shinta dengan baik."


"Entahlah honey. Apa sebaiknya kita disini saja? Tidak usah kembali. Kita akan tinggal disana bersama mereka." Andrew memberi saran. Tapi itu juga saran konyol. Bagaimana bisnisnya di Amerika yang mereka tinggalkan? Pasti akan kacau dan banyak yang akan menjatuhkan posisi Andrew dalam perusahaan nanti.


"Apa hubungan mereka akan bertahan? Atau justru malah berantakan?" tanya Andrew mungkin untuk ditujukan pada dirinya sendiri. Ia sangat resah. Merasa ia telah melakukan kesalahan. Kenapa dari awal ia pikirkan hal ini. Ini bahkan sudah terjadi.


"Sayang, biarkan waktu yang menjawab. Hubungan mereka saat ini dalam fase pengenalan. Biarkan mereka saling mengenal satu sama lain dulu. Nanti kita bahas bersama mereka akan berlanjut atau tidak. Tapi mommy ingin mereka sampai tua. Sampai maut memisahkan." Rania mengecup pipi Andrew. Kemudian ia beranjak dari duduk. Ia ingin membersihkan diri. Tubuhnya sudah ingin menyentuh air hangat yang nyaman. Karna membahas Joe dan Shinta membuat Rania takkan bisa menjawab semua.


Kita tidak tau kedepan akan jadi seperti apa. Entah bahagia atau duka. Yang jelas ia dan Andrew sudah berusaha memenuhi keinginan Raditya untuk menjaga Shinta sampai ia bisa berdiri dengan kakinya sendiri. Menjalankan bisnis keluarga yang ditinggalkan.

__ADS_1


***


Andrew menyuruh Sekretaris Andi duduk. Membahas dengan topik yang sama. Semua masih tentang Joe dan Shinta.


"Asih tadi mengirimi saya pesan Tuan." kata Sekretaris Andi.


"Apa katanya?" Andrew berkesiap mendengar.


"Seisi lemari es dirumah nona Shinta diganti dengan buah dan sayur mayur dan makanan sehat lain."


"Itu bagus. Joe memang sedang menjalani gaya hidup sehat. Bahkan ia berhenti merokok dan minum alkohol." tuan Andrew membenarkan.


"Masalahnya nona Shinta juga harus menerapkan gaya hidup sehat itu. Tuan Joe tidak mengijinkan nona Shinta mengonsumsi camilan dan mie instant lagi."


"Tentu saja tuan." Cling. Ada pesan masuk.


"Siapa?"


"Pesan dari Asih Tuan. Nona Shinta kesal. Nona Shinta sampai membanting sendok garpu dan tidak mau makan malam ini. Ia mengunci pintu kamar."


Andrew merampas ponsel yang dipegang Sekretaris Andi. Sekretaris Andi sampai gelagapan kaget. Andrew menekan tombol panggilan untuk Asih.


"Hallo tuan." jawab Asih sedikit berbisik. Asih berjalan menjauh dari tempatnya mematung melihat Joe memegang kunci cadangan naik ke atas. Asih keluar lewat pintu belakang. Agar pembicaraannya dengan tuan sekretaris tidak didengar oleh Joe. Bisa kebongkar semua. Kalau Asih adalah mata - mata.

__ADS_1


"Apa yang Joe lakukan? Apa Joe kasar pada Shinta?" Andrew bertanya menyelidik. Suaranya keras. Karna Andrew penasaran sekali.


"Tidak tuan. Hanya berteriak keras saja," seperti anda yang bertanya keras seperti ini. Telingaku rasanya nyut - nyutan mendengarkan suara anda. Huft!


"Dimana Joe?" tanya tuan Andrew lagi tak sabar.


"Ada dikamar nona Shinta tuan," jawab Asih.


"Apa?! Kenapa kau tidak mengawasi mereka? Cepat kesana. Jangan sampai Joe melakukan apapun terhadap Shinta. Cepat!" tut. Sambungan terputus. Andrew melempar ponsel ditangannya pada sekretaris Andi. Kalau sekretaris Andi tidak sigapĀ  pasti ponsel itu sudah jatuh kelantai.


Syukurlah kau masih selamat.


Sekretaris Andi lega.


***


makasi dah baca...


ditunggu like komen tip dan vote ya


nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya


peluk cium devanurana^_^

__ADS_1


__ADS_2