
Selamat membaca^_^
***
"Cepat Andi!" Joe berteriak. Menyuruh Andi ngebut. Secepat kilat harus segera sampai dirumah Paman Shinta.
Kedatangan Shinta kerumah Paman akan menjadi senjata untuk menjatuhkan dirinya. Bagaimanapun, Shinta belum tau soal perusahaan. Joe belum menjelaskan apa - apa soal perusahaan. Kalau Paman dan Bibinya menjejali pikiran Shinta tentang apapun yang buruk tentang Joe seperti kemarin, ntah apa yang dipikirkan Shinta pada Joe.
"Arrggghhh aku payah! Aku bodoh!" Joe gusar.
"Berhentilah mengutuki diri, Tuan. Tidak ada gunanya."
"Bagaimana aku mengatakan padanya? Aku bahkan tak punya muka bertemu dengannya Andi. Aku hampir saja merasai tubuhnya."
Andi mengernyit bingung. Maksudnya bagaimana?
"Kenapa hampir? Tidak jadi?" Andi bertanya heran.
"Dia menangis. Aku tidak tega melakukannya."
"Anda memang bodoh ya."
"Arrrggghhhh!" teriakan frustasi terus saja menggema dalam mobil itu. Joe benar - benar gusar. Rambutnya sudah acak - acakan dibuatnya.
"Harusnya Anda tak perlu menahan keinginan Anda Tuan. Walau bagaimana pun Nona tetaplah istri Anda yang wajib Anda g*uli."
"Eh? Benarkah Begitu?" Joe bengong. Menatap Andi tak percaya. Tapi wajah Andi tampak biasa saja.
__ADS_1
"Kalau Anda sudah setengah jalan begitu berhenti malah Nona mengira Anda hanya mempermainkannya. Bagaimana perasaan Nona pada Anda."
"Ya, Kau benar Andi."
"Tentu saja."
"Nanti aku bilang apa ya?" Joe berfikir keras. Memilah kata apa yang tepat.
"Minta maaf. Turunkan ego Anda untuk meraih simpatinya."
Joe terdiam. Dia memberi jempolnya kedepan wajah Andi.
"Apa Anda sudah menceritakan soal hubungan Anda dengan kekasih Anda yang sudah berakhir?"
Joe terperanjak. Oh my.... belum. Wajah Joe sudah menjawab pertanyaan Andi, Andi pun berdecih. Bodoh!
"Bagaimana Nona akan percaya pada Anda kalau Anda diam begitu?" Andi menghela nafas berat. Mungkin memikirkan perusahaan dan tempat usaha Tuannya saja sudah menguras pikiran. Ditambah harus mengurusi kehidupan pribadi Tuannya yang sungguh membingungkan.
"Anda saja sudah merepotkan. Bagaimana memberi motivasi pada orang lain yang entah sifat dan sikapnya berbeda - beda. Aku akan semakin gila."
Joe semakin tergelak mendengar Andi bicara seperti itu. Kocak sekali!
"Andi, aku serius." Wajah Joe tampak polos dibuat - buat sok imut.
"Saya juga serius Tuan. Berhentilah tertawa dan pikirkanlah bagaimana membawa Nona pulang." Andi datar. Cih! Sedang kesal malah diajak bercanda! Tuan muda konyol!
"Iya iya... kau jangan remehkan akting kelas duniaku." Joe tersenyum lagi. Kali ini senyum menyeringai. Mungkin ide gila sudah ia dapatkan.
__ADS_1
***
Andi memencet bel rumah Paman. Asisten rumah tangga tergopoh membuka pagar besi itu dan mempersilahkan tamu itu masuk ke dalam rumah.
Paman dan Bibi duduk didepan mereka. Menatap dengan wajah tidak suka. Apalagi saat menatap Joe yang tampak bersalah itu. Akting.
"Maafkan aku Paman, membuat Paman dan Bibi terganggu malam - malam begini." Joe memasang wajah sendu.
"Tidak apa - apa. Biarkan Shinta tidur disini untuk malam ini saja. Ini kan juga rumahnya." kata Paman.
"Bisa kah aku bertemu dengan Honeyku sebentar Paman?"
"Dia sedang istirahat. Katanya tak ingin diganggu." Bibi menjawab. Sinis.
"Maafkan aku Bibi. Tolong pertemukan aku dengannya. Sebentar saja. Kalau dia benar - benar ingin tidur disini, aku akan mengijinkannya kok." Joe memelas.
Paman dan Bibi saling menatap. Mencari keputusan. Kalau diijinkan Shinta akan bertemu dengan Joe. Tapi kalau tidak diijinkan, Joe akan berdalih suami mana yang tidak boleh bertemu istrinya sendiri. Sangat membingungkan.
"Aku berjanji hanya sebentar saja Paman." Tatapan Joe memelas. Memohon dengan kesungguhan yang kuat. Membuat Paman tidak bisa menolak. Posisinya juga bisa terancam dalam perusahaan. Itu akan sangat merepotkan. Joe bisa saja seenaknya
"Baiklah." Paman memberi kode pada Bibi dengan ekor matanya untuk memanggil Shinta. Bibi pun beranjak masuk dalam kamar Shinta.
***
terima kasih sudah membaca^_^
jangan lupa like komen tip dan vote ya
__ADS_1
nantikan terus kisah shinta dan Joe selanjutnya
peluk cium devanurana^_^