
Selamat membaca
***
Shinta dan Anin keluar dari taxi online. Turun agak jauh dari tempat mereka tuju. Ya, kemacetan sudah terjadi di sepanjang jalan menuju alun-alun. Karena letaknya yang berada ditengah-tengah jalan yang melingkar. Mereka harus berjalan beberapa meter menyebrang jalan menuju alun-alun kota. Melewati zebra cross yang berjajar di jalan beraspal itu.
Shinta melihat di tempat GYM Joe yang berada di kanan jalan raya yang Shinta dan Anin lewati sekarang. Tampak ramai sekali.
Shinta jadi mengingat Joe. Shinta pun menghentikan langkahnya, memutuskan untuk memberi kabar pada Joe agar ia tak khawatir. Mungkin saja ia akan pulang malam hari ini. Ini waktunya friend-time dengan Anin.
***Mas, aku ke alun-alun kota sama Anin. Mungkin pulang malam.
Mau apa kesana honey?
Aku lagi pengen makan martabak
Martabak? Apa itu?
Pokoknya makanan. Nanti aku bawain.
Baiklah. Take care honey. Hubungi aku kalau sudah selesai, akan aku jemput. I love you***.
Ada semburat senyum tipis saat Shinta membaca chat dari Joe. Kemudian Shinta beralih mencari nomor mbak Asih. Ia terpaksa juga ia mengabari mbak Asih untuk tidak masak. Nanti ia akan bawa makan malam untuk Joe dari pasar malam saja.
Shinta sudah lama tak pergi jalan-jalan begini. Dia melihat sekeliling. Banyak kedai yang sudah mulai berjajar di sepanjang jalan dipinggir alun-alun.
"Shin, itu kedai martabak. Kesana yuk." Anin menarik tangan Shinta menuju kedai martabak.
Ada banyak pilihan rasa dan toping. Shinta melihat pilihan toping itu dan berfikir keras. Tangannya menopang tangan yang lain sambil menyentuh pipinya. Lama ia berfikir sampai membuat Anin garuk-garuk kepala karna ternyata Shinta bingung untuk memilih toping yang ingin ia makan. Karna ia merasa ingin semua. Dasar Shinta.
__ADS_1
"Mau pesan apa, nanti aku traktir. Hehe..." kata Shinta merangkul bahu Anin yang sebal melihat Shinta tak juga selesai menentukan pilihannya.
"Kenapa nih lagi seneng banget ya buk?" tanya Anin mencibir.
"Lagi kesel banget. Ayo puaskan dengan makan martabak yang banyak." Shinta terkekeh. Kalau lagi kesal, selera makannya semakin bertambah.
"Kenapa? Joe nakal lagi?"
"Setiap hari juga nakal." Shinta menutup mulutnya menahan tawa. Nakal? Ya, mas Joe selalu mencari kesempatan untuk menyentuhnya. Seperti tadi siang didalam mobil. Uhg!
"Haha... Dasar pasutri gaje ah!"
"Mbak, aku pesan martabak manis toping coklat dan keju, yang kedua dengan toping kacang almond dan selai strawberry. Yang ketiga, martabak red velvet dengan es krim gelato cream cheese. Aku juga pesan martabak telor yang ukuran jumbo ya."
"Waduh! Siapa yang akan habiskan semua martabak itu?" tanya Anin terkejut.
"Kamu nggak...?" suara Anin menggantung. Jangan-jangan....
"Apa? Jangan mikir aneh-aneh. Aku memang pesan buat mas Joe juga kok."
"Katanya sebal sama orangnya?"
"Ya mau gimana lagi? Nggak betah juga ngambek lama-lama sama dia."
"Eh Shin, aku perhatikan emang kamu benar-benar beda deh. Coba cek." Anin memicingkan matanya. Ia membuka tas dan mencari sesuatu didalamnya. Ah, ketemu.
"Oh... aku masih punya. Ini untukmu." Anin menyodorkan sebuah alat tes kehamilan.
Shinta membulatkan matanya. Ia tidak percaya Anin memberikan alat itu dimuka umum begini. Untung tidak banyak orang di kedai itu hingga tidak ada yang melihat. Shinta mengedarkan pandangannya. Ke kanan kekiri. Meraih alat tes kehamilan itu, dan menarik tangan Anin menjauh dari kedai.
__ADS_1
"Aninnnn.... Kamu gila ya? Kenapa bawa-bawa beginian ditempat umum?" suara Shinta sedikit berbisik.
"Eh? Itu punyaku pas belum tau aku hamil. Aku beli tiga merk berbeda waktu itu. Ternyata cuma aku pakai dua saja. Hehe..." Anin terkekeh. Dia tidak merasa bersalah sama sekali. Huh! Shinta mendengus kesal. Bisa-bisanya di situasi seperti ini Anin masih bisa tertawa.
"Aku pikir kau ngidam. Makanya pesan martabak sampai sebanyak itu. Pasti tidak akan habis kau makan nanti dan mubazir. Aku dulu juga begitu pas awal-awal hamil." jelas Anin.
"Anin.... Itu tidak mungkin!" Shinta sebal.
"Hei, memangnya Joe tidak perkasa sampai tidak mungkin? Jangan bicara aneh-aneh."
Shinta menangkup mulut comel Anin. Kemudian ia menepuk dahinya. Tuhan, kenapa temannya ini se'terbuka' begini sih.
"Iya iya maaf. Tapi tidak ada salahnya kan mencoba tes. Siapa tau benar. Jangan bilang tidak mungkin. Karna tuhan akan mengabulkan segala keinginanmu meski itu mustahil. Berusahalah!" Anin menepuk bahu Shinta, lalu berjalan mendekati kedai martabak tadi. Membiarkan Shinta masih dalam pikirannya yang entah bagaimana.
Shinta berdecak. Seenaknya Anin memberi tes kehamilan. Mas Joe kan selalu pakai pengaman. Mana mungkin aku hamil? Lagipula aku belum siap hamil.
Aku nggak mungkin hamil kan? Jangan sekarang deh. Bentar lagi UTS tau. Aku pasti nggak konsen. Huft! Anin pasti salah.
Shinta menghampiri Anin yang sudah penuh dengan pesanan martabak yang Shinta minta. Shinta mengeluarkan uang untuk membayar semuanya berikut pesanan Anin juga.
***
terima kasih sudah membaca
jangan lupa like komen tip dan vote ya
nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
peluk cium DevaNurAna
__ADS_1