Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Pergi ke dokter part 1


__ADS_3

Selamat membaca


***


Daren baru saja masuk ke ruang kerja Joe setelah mengantarkan nonanya ke caffe dimana Shinta akan bertemu dengan Anin.


Daren menunduk hormat pada Joe. Ia memberi salam untuk Justin yang ada di samping tuannya. Justin sudah mengabari Daren kedatangannya ke Indonesia, setelah kembali beberapa bulan ke Amerika.


"Kau antar kemana honeyku?" tanya Joe meletakkan berkas yang sudah ia tanda tangani.


"Saya antar ke caffe X tuan." jawab Daren, berdiri di sebelah sofa tuannya.


"Baiklah. Ayo pergi. Aku ingin ke rumah sakit." kata Joe, ia berdiri sambil merapikan jas yang ia pakai.


"Hei, kau tega sekali meninggalkan aku? Aku baru sampai disini." keluh Justin yang menurunkan kakinya tersentak kata-kata Joe. Padahal baru saja ia merasakan empuknya sofa di ruang direktur itu.


"Kalau begitu ikut saja. Kenapa berisik sekali sih." Joe ketus mendengar rengekan Justin.


"Ah, sepupu. Jangan sensitif begitu. Aku kembali kan karna aku sayang kamu." Justin berkacak pinggang. Memiringkan kepalanya, menggoda sepupunya yang kelewat emosian.


"Menjijikan sekali sih? Aku sampai merinding. Sana cari pasangan hidup! Biar hidupmu nggak mengenaskan." Joe tertawa di akhir kalimatnya. Menertawakan sepupunya yang tak pernah komit dalam hubungan. Makanya sampai sekarang masih jomblo.


"Beri tau pak tuamu biar aku cuti beberapa bulan biar aku fokus mencari pasangan."


"Cih! Mau dikasih bertahun-tahun pun aku yakin kau takkan bisa mendapatkan rekan hidup."


"Wah, kejam sekali kata-kata mu sepupu. Aku itu berkharisma kau tau? Banyak yang antri di luar sana." Justin membusungkan dada. Joe berdecak kesal mendengar suara Justin yang sombong itu.


"Daren, belikan ia tiket pesawat. Biar dia kembali saja ke Amerika. Berisik sekali."


Justin membelalakkan matanya kemudian ia menarik garis dibibirnya.

__ADS_1


"Haha... Siapa yang akan membantumu disini? Daren pasti juga kuwalahan denganmu."


"Ck. Ayo pergi Daren, biarkan orang ini bicara sampai berbusa."


Joe beranjak dari tempat berdirinya. Daren menunduk hormat, kemudian membukakan pintu untuk tuannya.


"Hei, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku ikut."


***


Joe melangkahkan kakinya dengan angkuh di koridor sebuah rumah sakit terbesar di kota S ini. Kalau ini drama dalam komik, pasti sudah ada bunga-bunga bermekaran di wajahnya. Cling cling bagai gelas kaca yang sudah di cuci dengan sekali bilas. Wow!


Para karyawan, perawat dan penghuni rumah sakit lainnya berdecak kagum melihat wajah Joe dan Justin yang tampan. Apalagi darah campuran itu melekat sekali di tubuh mereka. Lebih dominan luarnya dibanding Indonesianya. Membuat orang terkesima karna orang-orang di kota S ini jarang sekali ada orang-orang bule.


Joe dan Justin tentu saja ada Daren di belakangnya. Daren sudah mengkonfirmasikan kepada dokter Andri untuk memberi waktu pada Joe. Karna Joe akan datang berkunjung untuk mengecek kesehatannya secara menyeluruh.


Ia sangat terganggu dengan mual yang ia derita beberapa hari ini. Daren menunjukkan ruang dokter Andri. Sebelum masuk ia berkata, "Daren, berapa waktu kita punya?"


"Baiklah. Jangan biarkan orang ini-Justin- ikut masuk."


"Hei, why? I also want to know about your health."


"Awas berisik. Aku akan menendang kakimu!" Nada ancaman sudah mengintimidasi. Justin hanya menyeringai kecil dan terkekeh. Sepupunya ini memang tidak pernah takut dengan Joe. Ya, dulu mereka memang tumbuh bersama. Tapi sekarang mereka beda pangkat saja dalam bekerja.


Daren meraih gagang pintu. Membuka pintu ruang kerja dokter Andri. Joe melangkah masuk mengendarkan pandangannya keseluruh penjuru arah. Ia tak melihat dokter Andri. Ia melihat sosok yang berbeda.


"Selamat siang Tuan. Silahkan duduk." kata laki-laki itu dengan senyum manis dan hangat. Ia mengulurkan tangan menunjuk kursi didepannya.


Joe terdiam sesaat. Melihat laki-laki didepannya ini yang memakai jas putih. Lengkap dengan stetoskop yang melingkar di lehernya.


Justin menyenggol lengan Joe. Menyadarkan Joe akan sapaan dokter didepannya.

__ADS_1


"Dimana dokter Andri?" tanya Joe saat menduduki kursi yang ditunjuk sang dokter.


"Maaf tuan, dokter Andri mendadak ada urusan pribadi. Saya yang diutus untuk melayani tuan.


"Dokter Andri juga sudah mengkonfirmasikan pada saya Tuan. Maaf tidak memberi tau kalau dokter Rendra yang menggantikan." jelas Daren. Daren tidak tau siapa Rendra, tapi ia melihat tidaksukaan Joe melihat dokter Rendra didepannya.


Ck. Joe berdecak tidak suka. Kenapa harus bertemu dia. Aku benci melihat dia! Sialan!


Kalau tau, tuan Joe itu kau, aku akan menolak untuk menggantikan dokter Andri. Sudah kepalang begini mana mungkin bisa menghindar? Huh! Rendra.


"Apa ada yang bisa saya bantu untuk Anda tuan? Apa ada keluhan?" tanya Rendra dengan senyum manis. Walau bagaimanapun dia harus profesional. Ia membenarkan letak kacamatanya.


"Hmmm. Baiklah. Jelaskan Daren pada dokter muda ini."


"Baik tuan. Tuan Joe sering mual tidak terduga. Kadang pagi, kadang siang kadang malam. Tapi itu terjadi setiap hari akhir-akhir ini. Dokter Andri sudah memeriksa keadaan tuan Joe, namun tidak terdekteksi penyakit apapun. Tuan Joe ingin pemeriksaan menyeluruh dan teliti. Mungkin saja dokter Andri melupakan sesuatu." Daren menunduk setelah mengakhiri penjelasannya.


"Oh, baiklah tuan Joe. Silahkan untuk berbaring diatas ranjang." Rendra beranjak merapikan ranjang di tutup tirai di sebelah kanan ruang itu.


"Hei sepupu, jangan-jangan kau mengalami perubahan pencernaan. Salah makan mungkin?" celetuk Justin.


Joe berdiri, menendang kaki Justin dibelakangnya. Kemudian melangkah menuju ranjang.


"Shit! Sakit sekali kakiku." Hiks dasar sepupuku itu tidak pernah sekalipun bisa diajak bercanda.


***


terima kasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote ya


nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya

__ADS_1


peluk cium DevaNurAna


__ADS_2