
Selamat membaca ^_^
***
Waktu istirahat tiba, Shinta datang ke pustakaan untuk belajar. Dia duduk di pojok ruangan. Ia juga bersama Anin. Anin duduk disamping Shinta, entah membaca buku atau hanya fokus dengan ponsel ditangannya.
Minggu depan ujian tengah semester akan digelar. Shinta harus bersiap dari sekarang. Dia selalu dapat rangking waktu SMP. Dia ingin nilai - nilainya tidak memburuk. Apa di SMA ini ia akan dapat rangking lagi. Shinta berharap bisa dapat rangking. Bisa membanggakan dirinya sendiri dan orangtuanya di sana.
Mah, pah, doain Shinta ya, bisik Shinta.
Shinta masih sibuk dengan buku - bukunya. Tiba - tiba seseorang muncul mengagetkannya.
"Hai," sapanya berbisik. Wajahnya condong ke depan dibelakang Shinta.
"Mas Rendra. Ngagetin aja," kata Shinta tak kalah berbisik. Shinta menoleh tepat bibir itu menyentuh pipi Rendra. Seketika wajah Rendra memerah. Rendra memalingkan wajahnya dan menutup mulutnya malu.
Shinta pun terkejut. Itu tidak sengaja! Please jangan berfikir yang tidak-tidak. Oh my... apa yang aku lakukan? Aku tidak bermaksud menciumnya. dan itu bukan ciuman pertamaku! Bukan! Shinta membulatkan matanya menatap Rendra yang jadi salah tingkah.
Shinta teringat telfon Rendra semalam yang ingin mengatakan sesuatu yang penting. Shinta tak ingin memikirkan hal - hal yang belum pasti. Bisa saja dia hanya ke ge- eran.
"Diluar saja yuk!" ajak Rendra saat ia sudah menguasai diri.
Shinta meraih buku - bukunya. Dia minta ijin Anin untuk keluar dulu. Anin mengangguk paham. Apalagi Rendra sudah kedip - kedip memberi kode. Lagi bintitan ya? Kedip - kedip aneh! Anin.
Shinta keluar dari perpustakaan diikuti Rendra dibelakangnya. Banyak anak - anak yang sedang lalu lalang. Ada juga yang sedang bercengkrama bersama teman - teman.
Shinta sungguh tidak nyaman. Dari tadi pandangan sudah mengarah padanya. Pasti karna dia sedang bersama Rendra. Semua menatap dengan penuh tanya.
__ADS_1
Ada hubungan apa seorang Shinta yang tidak populer itu dengan Rendra yang notabene anak populer? Shinta tanpa Anin bukanlah apa - apa. Pandangan mereka seperti mengintimidasi Shinta yang sudah menunduk malu itu.
"Mas, ada apa?" tanya Shinta. Ia terlihat canggung dan kaku sekali. Melirik sana sini. Untuk memastikan tidak ada pandangan yang mengarah padanya bersama Rendra. Mereka duduk di kursi taman sekolah yang berada dibawah pohon besar. Apalagi ada yang menguntit mereka.
Rendra menghembuskan nafas berlahan. Mengatur kata-kata yang akan keluar dari bibirnya. Seperti ingin mengeluarkan semua yang ada dalam pikirannya.
"Aku suka sama kamu Shin." kata Rendra setelah sekian lama terdiam. Dia menggaruk - garuk rambutnya sendiri. Menunduk malu. Kemudian mengangkat wajahnya melihat netra Shinta yang teduh.
Shinta hanya menganga kaget. Tidak bisa menjawab apapun. Kenapa secepat ini? Aku bahkan belum menyiapkan hatiku.
"Bisakah mas Rendra ulangi lagi? Aku rasa aku salah dengar." kata Shinta.
"Kamu nggak salah dengar Shin."
" Sejak kapan mas?"
"Sejak kamu MOS dulu. Aku sudah tertarik sama kamu. Tapi aku nggak berani deketin kamu secara langsung saat itu." jelas Rendra.
"Shin, kamu mau nggak jadi pacarku?"
Rendra ingin memegang tangan Shinta. Namun tangan itu penuh dengan buku yang dibawa dari perpustakaan tadi. Shinta bahkan mempererat pelukannya pada buku itu.
"Aku sudah tidak tahan memendam perasaan ini Shin," kata Rendra lagi.
Deg.
Hati Shinta bergetar hebat. Perasaan Shinta menjadi tak tentu. Jantungnya sudah berdegup tak karuan. Apa yang harus ia katakan? Ia jadi teringat Joe. Ingat janji suci yang Joe katakan saat ijab qobul.
__ADS_1
Mereka hening sesaat. Tenggelam dalam pikiran masing - masing.
Entah bagaimana datangnya, ada anak laki-laki berjalan menghampiri mereka. Dengan langkah gontai disertai teriakan yang ceria memanggil Rendra.
"Hai bro, lagi ngapain sih? Ayo rapat anggota. Temen - temen sudah kumpul di ruang OSIS," kata Reyhan yang sedang melintas di taman sekolah itu.
Reyhan tanpa dosa menghampiri mereka. Reyhan melihat Rendra dan Shinta yang saling terdiam kaku. Reyhan tak begitu mengenal Shinta, Ia hanya fokus pada sahabatnya Rendra.
Sial! batin Rendra. Urusannya dengan Shinta belum selesai. Tapi Reyhan dengan santainya menepuk bahu Rendra keras.
"Ayo bro! Si ketua OSIS kita Rahman pasti udah ngacak - ngacak ruangan. Dia itu sok disiplin. Menyebalkan sekali." cerocos Reyhan.
Terus kamu apa? Sialan lo Rey! Rendra.
"Shin, nanti aku telfon ya. Aku ke ruang OSIS dulu. Dah," pamit Rendra. Rasanya berat meninggalkan Shinta sendiri di taman itu.
Rendra ingin menanti jawaban Shinta saat ini juga. Tapi Reyhan disebelahnya ini sudah ingin menariknya menjauh.
Sial! Reyhan kepar*t! Rendra mengumpat sepanjang jalan menuju ruang OSIS.
Mengutuki kebodohan temannya yang jomblo dari lahir. Sama sekali tidak tau situasi.
***
Terima kasih sudah membaca ^_^
Jangan lupa like komen dan vote ya
__ADS_1
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya
Peluk cium DevaNurAna^_^