
Selamat membaca^_^
***
Inipun juga salah mereka. Kenapa mereka dulu memaksaku? Sekarang aku harus menanggung semuanya. Meski sudah menyesalinya, tapi tetap saja. Mereka punya andil dalam pernikahan ini.
"Katakan Shinta. Apa Joe berbuat kasar padamu?"
Shinta diam. Apa aku salah menolak berhubungan badan dengannya Bi? Aku belum siap. Bagaimana sekolahku setelah ini jika aku hamil? Cita - citaku? Kuliahku? Arrggghhh aku tak sanggup cerita hal ini. Ini sungguh memalukan untuk diceritakan meski pada Bibi.
"Bi, bisakah aku masih kuliah meski aku hamil?"
"Apa?! Kau hamil?" Bibi terperanjak. Ini serius?
"Tidak Bi. Hanya seumpama aku hamil, apa aku masih bisa kuliah." suara Shinta sendu. Bagaimana kalau Bibi mengira aku hamil beneran? Ah bodoh sih kamu Shinta!
"Tentu saja bisa. Mungkin kau sedang lelah Shinta. Malam ini tidurlah disini. Ayo Bibi antar ke kamar." Bibi meraih tangan Shinta mengajak Shinta masuk ke kamar tamu. "Istirahatlah Shinta." Bibi kemudian menutup pintu. Membiarkan Shinta untuk istirahat.
Shinta mengedarkan pandangannya. Kenapa dulu Bibi dan Paman tak mengajakku untuk tinggal bersama? Rumah Paman juga besar. Kamar tamunya juga luas. Ah... mungkin kak Adelia dan Amelia itu yang melarang Paman dan Bibi. Sungguh beda sekali ya dengan Paman dan Bibi yang lembut padaku. Mereka seperti lahir dari orang tua yang beda.
Shinta merebahkan tubuhnya di ranjang yang empuk itu. Melihat langit - langit kamar.
__ADS_1
Haahh... Shinta mendesah kasar. Memiringkan tubuhnya. Meraih guling dan memeluknya. Sungguh memalukan jika ia cerita masalahnya pada Bibi dan Paman.
Apa aku harus tidur disini malam ini? Mas Jonathan tau nggak ya aku pergi? Biarlah!
***
Sedangkan di rumah Shinta, Joe masih didalam kamar mandi. Membiarkan air shower itu mengguyur sekujur tubuhnya. Joe merasa kebodohannya.
Maafkan aku Honey. Harusnya aku tau kau masih ingin merasakan kebebasan masa remajamu. Tapi aku juga laki - laki yang harus terpuaskan! Gila! Kenapa aku jadi mesum begini sih!
Joe memukul dinding itu berulang. Sial! Sial! Sial! Hanya umpatan yang keluar dari mulut Joe. Tubuh Joe sudah basah semua. Ia matikan shower dan melepaskan baju basahnya. Melempar kekeranjang baju. Ia mengambil handuk dan melilitkan di pinggangnya.
Pintu diketuk berulang. Joe mengambil baju ganti. Berganti baju dengan cepat kemudian membuka pintu. Melihat wajah Mbak Asih yang sudah pucat. Menundukkan kepala. Joe heran melihat tingkah Mbak Asih didepannya.
Joe melotot. Menatap Mbak Asih dengan geram. Ia lalu menuruni tangga. Kemudian masuk kekamar Andi.
"Kemana perginya Honeyku Andi? " tanya Joe gusar. Andi membuka laptop. Melihat CCTV dirumah Shinta yang ia pasang saat datang kerumah ini. Tentu saja tanpa sepengetahuan Shinta.
"Ia pergi setengah jam yang lalu. Tidak ada yang menjemput. Ia berjalan menjauh dari gerbang rumah."
"Pergi kemana?"
__ADS_1
"Entah Tuan. Mungkin kerumah temannya."
"Anin. Sial! Alamat rumah Anin kau tau?"
"Saya pernah membuntuti Nona ke rumah Nona Anin."
"Siapkan mobil. Kita kesana sekarang." Joe langsung membalikkan tubuhnya keluar dari kamar Andi.
Dirumah Anin bingung melihat kedatangan Joe dan Andi. Mama Anin juga ikut menemui mereka. Mama dan Anin hanya menggelengkan kepala saat ditanya apa Shinta datang kerumah ini. Anin tampak tak percaya kalau Shinta akan seberani itu kabur dari rumah.
Anin mencoba menghubungi Shinta. Namun ponsel Shinta mati. Mungkin sengaja. Anin menyarankan untuk kerumah Pamannya. Shinta tak punya tempat lain selain rumah Bibinya.
Joe pamit. Mengucapkan terima kasih dan minta maaf sudah mengganggu malam - malam begini.
Hah? Dia serius baik begini? Kok jauh dari awal ketemu waktu itu ya? 180 derajat sumpah beda banget! Anin bergumam - gumam saat melihat tubuh besar dan tinggi Joe masuk dalam mobil.
***
Terima kasih sudah membaca ^_^
jangan lupa like komen tip dan vote ya
__ADS_1
nantikan terus kelanjutan kissh Joe dan Shinta
peluk cium DevaNurAna^_^