Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Bukan Ancaman


__ADS_3

Selamat membaca


***


"Sebaiknya kau perhatikan adikmu yang centil itu karena menganggu suami orang." kata Shinta dengan lantang.


"Kak Aldo, maaf ya. Kakak harus mendengar ini dari mulut seorang laki-laki banci yang menganggu perempuan. Aku permisi." Shinta mengepalkan tangannya. Tak kuasa menahan geram di hatinya.


"Apa?!" Niko tidak terima. Akan memukul Shinta saat itu juga. Namun langkahnya dihentikan Aldo disebelahnya.


Sangat tidak gentleman sekali kalau ia sampai melakukan itu didepan umum. Apalagi ini halaman kampus. Niko bisa kena hukuman. Lalu kata 'banci' itu bisa pas sekali dengan kelakuannya sekarang. Aldo memegang bahu Niko itu kuat.


Shinta tak sanggup untuk melihat tatapan mata anak-anak kampus yang sedang berlalu lalang. Tidak senang pagi-pagi sudah ada keributan. Hari Senin yang sibuk dengan tugas, harus melihat pertengkaran yang tak seimbang itu.


Aldo menjawab dengan senyum, namun ada kecewa dengan kenyataan bahwa Shinta memang benar sudah punya suami. Sedangkan Niko, berdecih sambil menggeram kesal. Awas saja!


Shinta menunduk sambil tersenyum. Ia langkahkan kakinya menuju gerbang kampus. Ia takkan sanggup untuk menerima mata kuliah hari ini. Ia sangat kesal sekali mendengar hinaan ini. Kepalan tangannya masih kuat sekali.


Aku tidak merebut milik orang. Aku memang istri mas Joe. Kenapa dibilang j*lang? Ingin ku cakar saja wajah orang itu!


Shinta menghela nafas saat sampai di kursi panjang di samping gerbang kampusnya. Ia mengelus perutnya.


Nggak nak, jangan dengarkan kata-kata ibumu ini. Shinta menutup mulutnya karna sudah berkata tidak baik. Ia harus menahan amarahnya pada dirinya sekarang.


Shinta berteduh di bawah rindangnya pohon akasia. Tidak tahu tujuannya saat ini. Mau kuliah, namun sudah kepalang ia keluar dari kampus. Apalagi moodnya tidak mendukung. Shinta tak biasa melewatkan mata kuliah apapun sebelum ini.


Huh! Shinta mendengus kesal. Hari Senin harusnya ia akan mengumpulkan tugas kuliahnya malah ada kejadian seperti itu. Mana bisa ia melihat tatapan anak satu kelas mata kuliahnya nanti. Malu. Semoga besok mereka melupakan kejadian pagi ini. Harap Shinta dalam hati.


Shinta mendongak keatas melihat rimbunnya dedaunan itu. Sekarang apalagi? Kenapa ada saja masalah di hidupku.


Niko itu sudah gila ya? Kenapa masalah sepele begitu sampai mengganggu aku, nggak masuk akal. Apa yang sudah dibuat pak Daren waktu itu ya sampai Niko itu pakai gips. Aku penasaran.


Shinta menghela nafas lagi. Rasanya berat hidupnya saat ini. Baru saja ia bahagia karna Joe sangat mencintainya. Sekarang masalah Niko itu. Kenapa jalan hidup Shinta harus naik turun begini. Air mata bening setitik jatuh ke pipinya. Shinta menggelengkan kepalanya. Mengusap air matanya cepat. Tak ingin kesedihannya mengganggu pikirannya.


Sesaat hanyut dalam pikirannya sendiri, ia pun memutuskan untuk pergi dari tempatnya duduk. Ia merogoh tas selempangnya, untuk mengambil ponsel. Ia membuka aplikasi untuk memesan taxi online. Bolos deh! keluhnya dalam hati.

__ADS_1


Kemudian ia menekan tombol panggil pada nama Daren.


"Halo pak. Aku ingin menemui bapak. Apa bapak ada di kantor?"


"Ya nona. Saya di kantor. Ada apa ya nona? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Daren saat panggilan telepon seluler itu tersambung.


"Aku akan kesana. Apa bapak sibuk?" tanya Shinta ragu, memastikan kalau kedatangannya nanti tidak menganggu.


"Tidak, apapun yang nona butuhkan saya akan luangkan waktu untuk nona."


"Baiklah. Saya akan kesana." tut.


Shinta benar-benar penasaran dan khawatir dengan ancaman Niko. Kalau benar Niko melakukan ancamannya, Joe bisa dalam bahaya. Shinta tidak mau terjadi apa-apa sama Joe. Kalau benar ia akan dituntut dan masuk penjara, Shinta akan sendiri lagi. Ia sedang hamil, ia tak mau sendiri untuk menjalani kehamilan pertamanya.


Hanya mas Joe yang aku punya, bisik Shinta


Shinta merenung sampai taxi akhirnya datang. Ia melangkah masuk ke dalam taxi dan meninggalkan gedung kampus itu.


Taxi sudah berjalan menyusuri jalan raya. Memecah jalanan kota S yang sudah tak sibuk seperti beberapa jam yang lalu. Hari Senin selalu menjadi hari sibuk diseluruh kota.


***


Acara ini menarik banyak sekali pengunjung yang datang. Selain untuk mencoba tester produk yang diberikan gratis, pengunjung juga bisa periksa jenis kulit dan memilih kosmetik yang cocok untuk jenis kulit mereka. Acara ini mendatangkan dokter khusus kulit yang sudah terakreditasi. Jadi tidak sembarangan.


Ditambah lagi, tentu saja brand ambassador juga berperan penting disini. Ada demo langsung penggunaan produk ini dengan modelnya, Yuna Nadira. Mengingat siapa yang menjadi brand ambassadornya, produk kosmetik yang diluncurkan SJ Group digadang akan sukses besar. Tidak hanya itu, acara seperti ini diharapkan mampu mengenalkan langsung produk dengan sangat baik pada konsumen.


SJ Group sengaja mengadakan acara ini agar pelanggan langsung tahu bagaimana manfaat produk baru ini dan produk - produk lain keluaran SJ Group yang dulu. Supaya mampu meningkatkan penjualan produk.


Stan coba sampel produk dan sofenir mini produk sebagai sampel dari perusahaan yang di berikan gratis sangat berperan untuk menarik minat pengunjung.


Joe nampak sibuk menyalami tamu undangan bersama Yuna Nadira. Yuna Nadira dengan lihainya bercakap mengungkapkan bagaimana keunggulan produk baru yang di luncurkan oleh SJ Group.


"Silahkan ibu, produk ini di jamin aman untuk semua usia. Tidak mengandung merkuri dan dengan bahan - bahan pilihan. Berikut ada penjelasan bahan - bahan yang kami gunakan untuk pembuatan produk ini ada di kemasan produk. Cara-cara penggunaan produk juga ada." katanya dengan senyum mengembang sempurna. Sangat manis. Suaranya hangat dan penuh keyakinan.


Joe mengulas senyum pada tamu penting yaitu bapak walikota bersama istrinya. Joe memang sengaja mengundang beliau untuk melihat produk keluaran terbaru SJ Group.

__ADS_1


"Selamat ya tuan Joe, akhirnya event ini dapat terlaksana dengan sangat lancar." Sandi menyalami tangan Joe, memberi penghargaan atas usahanya. Disampingnya istri Sandi juga mengulas senyum. Tapi tidak seperti biasanya yang senang melihat Joe, Ibu walikota itu nampak masam dan kurang suka dengan pertemuan mereka. Terlihat jelas sekali di wajahnya.


"Tentu saja tuan. Terima kasih sudah menyempatkan datang. Saya sangat senang dengan kedatangan anda tuan." kata Joe menyambut tangan Sandi.


"Ya, tapi maaf. Saya dan istri memang ingin datang karena ada satu hal yang ingin dibicarakan. Bisakah kita bicara secara pribadi?" tanya Sandi hati-hati.


"Tentu saja." Joe menoleh pada Daren. Memberi instruksi dengan ekor matanya. Mengerti maksud Joe, Daren di samping Joe menentukan arah. Mempersilahkan Sandi beserta istri untuk masuk ke dalam ruangan.


Sebelum masuk ke ruangan, Daren menghentikan langkah. Membuat Joe juga menghentikan langkahnya. Bibirnya terbuka seakan ragu untuk mengeluarkan suaranya.


"Ada apa lagi?" tanya Joe, tidak senang dengan keragu-raguan Daren. Tangan Joe yang hendak membuka handle pintu, menutup pintu itu kembali.


"Tuan, nona sebentar lagi akan datang." Daren menunduk, suara Joe bahkan tidak senang, bagaimana bisa ia melihat tatapan bosnya itu.


"Apa? Benarkah? Ada apa dia kemari?" tanya Joe tidak sabar. Tak mungkin Shinta datang tanpa alasan.


" Nona tidak menjelaskan tuan. Nona hanya bilang ingin menemui saya." Tendangan keras mengenai tulang kaki Daren membuat Daren meringis kesakitan.


"Untuk apa dia menemui mu? Sambut dia, aku akan urus yang didalam ruangan ini dulu. Hubungi Justin untuk mengawasi acara."


"Ba-baik tuan."


Joe memegang kembali gagang pintu dan masuk dengan cepat. Ia harus free saat Shinta sampai. Ia berharap yang dibicarakan Sandi sangat penting, kalau tidak ia tidak bisa jamin amarahnya bisa terkontrol dengan baik atau tidak.


Ah, aku tidak bisa sandiwara kalau tak ada gunanya. Joe


***


terima kasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote ya


nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya


peluk cium DevaNurAna

__ADS_1


__ADS_2